Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potret Rwanda, Dulu Hadapi Genosida Terparah, Kini Berubah Jadi Negara Terbersih di Dunia

Kompas.com - 28/05/2024, 09:00 WIB
Diva Lufiana Putri,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sejak 1994, Rwanda telah menunjukkan ketahanan dan perubahan di seluruh aspek masyarakatnya.

Peristiwa kelam genosida terhadap Tutsi, salah satu suku pribumi Rwanda, pada 1994 silam itu bak membekas di benak setiap warganya.

Kematian ratusan ribu warganya memaksa negara di Afrika bagian tengah ini membangun kembali bangsa dan memelihara identitas nasional bersama.

Kini, 30 tahun berlalu, Rwanda bertransformasi menjadi negara terbersih dengan tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) teratas di dunia.

Baca juga: Mengenal Pulau Semakau, Rahasia Singapura Jadi Negara Terbersih Asia


Genosida Tutsi jadi refleksi warga Rwanda

Dilansir dari BBC, 800.000 warga Rwanda diperkirakan terbunuh dalam 100 hari genosida terhadap Tutsi pada 1994.

Genosida dilakukan oleh rezim yang melatih milisi dan ekstremis suku Hutu untuk membunuh Tutsi. Orang-orang Hutu yang menentang pembantaian itu juga tak luput menjadi sasaran.

Hutu adalah etnis mayoritas di Rwanda yang mendominasi populasi, sedangkan Tutsi merupakan minoritas tetapi kerap menduduki sektor-sektor pemerintahan.

Genosida Rwanda bermula dari wafatnya Presiden Juvenal Habyarimana yang beretnis Hutu akibat pesawatnya ditembak jatuh di atas bandara ibu kota Kigali pada 6 April 1994.

Presiden Rwanda saat ini, Paul Kagame yang dulu merupakan pemimpin kelompok pemberontak Tutsi, dituding sebagai pelaku serangan roket bersama beberapa teman dekatnya.

Baca juga: 30 Tahun Genosida Rwanda yang Menewaskan 800.000 Orang

Namun, Kagame menyangkal keras tuduhan dan menuding ekstremis Hutu yang melakukannya demi memusnahkan masyarakat Tutsi.

Kematian Presiden Juvenal sendiri bukan satu-satunya penyebab genosida Rwanda, yang merupakan pembersihan etnis terbesar di Afrika pada zaman modern.

Jika ditelusuri ke belakang, konflik Hutu dan Tutsi mulai memanas saat Belgia menjajah Rwanda pada 1916 dan membuat kartu identitas yang membedakan warga menurut etnisnya.

Belgia menganggap Tutsi lebih unggul serta dipersilakan menikmati kesempatan pendidikan maupun kerja, yang membuat kebencian orang Hutu berangsur memuncak.

Dilansir dari laman Konsulat Jenderal Republik Rwanda di Australia, genosida Tutsi tercatat sebagai pembersihan etnis terburuk sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Beberapa korban ditinggalkan oleh pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menunjukkan kegagalan komunitas internasional.

Baca juga: Contoh dan Pengertian Kejahatan Genosida dalam Hukum Internasional

Halaman:

Terkini Lainnya

Ada 'Strawberry Moon' di Indonesia, Apa Bedanya dengan Purnama Biasa?

Ada "Strawberry Moon" di Indonesia, Apa Bedanya dengan Purnama Biasa?

Tren
Ringan dan Mudah Dilakukan, Ini 6 Manfaat Jalan Kaki yang Perlu Diketahui

Ringan dan Mudah Dilakukan, Ini 6 Manfaat Jalan Kaki yang Perlu Diketahui

Tren
Adakah Batas Maksimal Rawat Inap Peserta BPJS Kesehatan?

Adakah Batas Maksimal Rawat Inap Peserta BPJS Kesehatan?

Tren
Polri Akan Berlakukan Tilang Berbasis Sistem Poin, SIM Bisa Dicabut

Polri Akan Berlakukan Tilang Berbasis Sistem Poin, SIM Bisa Dicabut

Tren
Bolehkah Memotong Kuku di Hari Tasyrik? MUI Ungkap Hukumnya

Bolehkah Memotong Kuku di Hari Tasyrik? MUI Ungkap Hukumnya

Tren
Manfaat 'Torpedo Kambing' bagi Pria, Benarkah Bisa Meningkatkan Gairah Seksual?

Manfaat "Torpedo Kambing" bagi Pria, Benarkah Bisa Meningkatkan Gairah Seksual?

Tren
Benarkah Penggunaan Obat GERD Berlebihan Bisa Memperparah Kondisi? Ini Penjelasan Guru Besar UGM

Benarkah Penggunaan Obat GERD Berlebihan Bisa Memperparah Kondisi? Ini Penjelasan Guru Besar UGM

Tren
Formasi CPNS Pemerintah Pusat 2024 Sudah Diumumkan, Lulusan SMA Bisa Daftar

Formasi CPNS Pemerintah Pusat 2024 Sudah Diumumkan, Lulusan SMA Bisa Daftar

Tren
Kenapa Sapi Kurban Mengamuk sebelum Disembelih? Ini Penjelasan Pakar

Kenapa Sapi Kurban Mengamuk sebelum Disembelih? Ini Penjelasan Pakar

Tren
Pisang dan Jeruk Disebut Tak Dianjurkan Dimakan Malam-malam, Ini Kata Ahli

Pisang dan Jeruk Disebut Tak Dianjurkan Dimakan Malam-malam, Ini Kata Ahli

Tren
Media Asing Soroti Suku Pedalaman Halmahera Keluar Hutan, Temui Pekerja Tambang

Media Asing Soroti Suku Pedalaman Halmahera Keluar Hutan, Temui Pekerja Tambang

Tren
Beberapa Bahaya Buang Darah dan Kotoran Hewan Kurban ke Selokan Umum

Beberapa Bahaya Buang Darah dan Kotoran Hewan Kurban ke Selokan Umum

Tren
Mulai 20 Juni, Berikut Jadwal Pertandingan Copa America 2024

Mulai 20 Juni, Berikut Jadwal Pertandingan Copa America 2024

Tren
Ramai soal Pajero Pelat Merah B 1803 PQH Dipakai Anak Muda di Yogya, Siapa Pemiliknya?

Ramai soal Pajero Pelat Merah B 1803 PQH Dipakai Anak Muda di Yogya, Siapa Pemiliknya?

Tren
Batal Naik, Calon Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2024 Dikenakan UKT Tahun Lalu

Batal Naik, Calon Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2024 Dikenakan UKT Tahun Lalu

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com