Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Heru Susetyo
Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Associate Professor @Fakultas Hukum Universitas Indonesia/ Sekjen Asosiasi Pengajar Viktimologi Indonesia/ Pendiri Masyarakat Viktimologi Indonesia/ Anggota Dewan Riset Daerah DKI Jaya 2018 - 2022

Nomophobia dan Urgensi Detoks Dunia Digital

Kompas.com - 28/05/2024, 08:18 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEORANG siswa sekolah dasar ditemukan tewas tergantung di kamar rumahnya di Kecamatan Doro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Meninggalnya bocah 10 tahun tersebut menggemparkan warga desa setempat. Korban meninggal karena gantung diri diduga karena kecewa handphone disita orangtuanya.

Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Isnovim membenarkan peristiwa tersebut (Kompas.com, 24/11/ 2023).

Di Cirebon, viral di media sosial seorang bocah depesi karena HP kesayangan dijual ibunya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Siti, ibu ARP, ponsel tersebut adalah barang kesayangan ARP dan dibeli dari hasil menabungnya sendiri. Namun, kondisi ekonomi memaksa Siti untuk menjualnya.

Siti menjelaskan, sebelum menjual HP tersebut, dia telah meminta izin dari ARP dan berjanji akan mengembalikannya saat memiliki cukup uang.

Meskipun ARP telah mengizinkan ibunya untuk menjual ponselnya, ARP kerap terlihat sedih dan melamun setelah HP-nya dijual.

Ponsel tersebut biasanya digunakan ARB untuk bermain game dan belajar, terutama saat masa pembelajaran jarak jauh akibat pandemi COVID-19 (Liputan6.com, 15/05/2024).

Dunia digital dan media sosial adalah berkah bagi kehidupan sekaligus musibah. Berkah karena membuat hidup lebih mudah, urusan lebih cepat selesai, informasi di seluruh penjuru dunia lebih cepat mengalir, dan transaksi apapun bisa dilakukan dari mana saja.

Cukup dengan bantuan jari-jari tangan dan jaringan internet. Bahkan hanya perlu bantuan perintah suara atau sorotan mata. Dunia seperti sudah dalam genggaman tangan saja.

Di sisi lain dunia digital adalah musibah. Membuat yang jauh jadi dekat sekaligus yang dekat jadi jauh. Mengurangi komunikasi interpersonal antarmanusia dari yang biasanya fisik menjadi cukup via media sosial saja.

Membuat manusia menjadi mager (malas gerak) dan berinteraksi secara langsung. Lalu kemudian betah menjadi manusia rebahan, sehingga tubuh lebih ringkih. Jiwa kurang tegar. Mudah menjadi stres, depresi, dan gelisah (anxiety).

Lebih buruk lagi, tidak semua orang memiliki literasi digital yang baik. Ada yang mudah overthinking karena menyerap informasi terlalu banyak (dan tidak semua benar juga informasinya).

Ada yang mudah bereaksi negatif dan melakukan penilaian terburu-buru terhadap sesuatu hal. Tidak semua konten adalah sehat dan konstruktif, apalagi akurat.

Tidak sedikit konten yang bersifat toxic dan menggiring yang melihatnya untuk lahirkan opini yang bias dan emosi negatif.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com