Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di Jateng Akhir Mei 2024, Ini Wilayahnya

Kompas.com - 26/05/2024, 10:00 WIB
Yefta Christopherus Asia Sanjaya,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan di wilayah Jawa Tengah (Jateng).

Peringatan tersebut berlaku pada dasarian III atau Senin (20/5/2024) hingga Jumat (31/5/2024).

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jateng, Sukasno menjelaskan, penyebab kekeringan Jateng pada akhir Mei 2024 akibat terjadinya anomali suhu udara permukaan rata-rata di wilayah Indonesia sepanjang Januari-Desember 2024.

Anomali suhu udara permukaan berkisar antara +0,23 derajat Celcius hingga +0,36 derajat Celcius dengan rata-rata sebesar 0,3 derajat Celcius.

“Lebih hangat dibanding periode 1991-2000,” kata Sukasno ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (24/5/2024).

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di DIY pada Akhir Mei 2024, Ini Wilayahnya

Wilayah Jateng yang berpotensi mengalami kekeringan

Sukasno mengatakan, Stasiun Klimatologi BMKG Jateng membagi peringatan dini kekeringan menjadi tiga kategori, yakni waspada, siaga, dan awas.

Pada akhir Mei 2024, wilayah Jateng berpotensi kekeringan yang masuk kategori waspada atau berwarna kuning adalah Kabupaten Jepara.

Sukasno menerangkan bahwa tidak ada wilayah Jateng yang masuk kategori siaga maupun awas atau berwarna hijau hingga akhir Mei 2024.

Peta potensi kekeringan jateng dapat dilihat melalui gambar di bawah ini:

Peta peringatan informasi peringatan dini kekeringan meteorologis di Jateng pada akhir Mei 2024.Stasiun Klimatologi BMKG Jateng Peta peringatan informasi peringatan dini kekeringan meteorologis di Jateng pada akhir Mei 2024.

Baca juga: Warga Bandung “Menjerit” Kepanasan, BMKG Ungkap Penyebabnya

Puncak musim kemarau Jateng 2024

Dilansir dari laman resmi Stasiun Klimatologi BMKG Jateng, puncak musim kemarau di Jateng diperkirakan terjadi pada Juli, Agustus, dan September 2024.

Luasan zona musim di Jateng yang memasuki musim kemarau pada Juli sebanyak 63,0 persen, Agustus sebanyak 31,4 persen, dan September sebanyak 5,6 persen.

Daftar wilayah di Jateng yang mengalami puncak musim kemarau pada Juli, Agustus, dan September 2024 dapat dilihat di bawah ini:

Juli 2024:

  • Kota Tegal, Salatiga, Surakarta dan Magelang, Kabupaten Sragen,Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali dan Cilacap, sebagian besar wilayah Kabupaten Brebes, Pekalongan, Semarang, Wonosobo, Purbalingga dan Banyumas, sebagian wilayah Kabupaten Tegal, Blora, Magelang, Banjarnegara dan Kebumen, Kabupaten Batang, Kendal, Kota Semarang dan Grobogan bagian selatan, wilayah timur Kabupaten Rembang, wilayah barat laut Kabupaten Purworejo, sebagian wilayah timur Kabupaten Pemalang, sebagian wilayah selatan Kabupaten Demak.

Agustus 2024:

  • Kota Pekalongan dan Kabupaten Kudus, karimun Jawa, sebagian besar wilayah Kabupaten Demak dan Pati, sebagian wilayah Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang, Rembang, Blora, Grobogan, Temanggung, Magelang, Purworejo dan Kebumen, Kabupaten Kendal dan Kota Semarang bagian utara, sebagian wilayah utara Kabupaten Banyumas, sebagian wilayah timur Kabupaten Wonosobo, sebagian wilayah selatan Kabupaten Banjarnegara, wilayah tenggara Kabupaten Brebes.

September 2024:

  • Sebagian besar wilayah Kabupaten Jepara, sebagian wilayah utara Kabupaten Demak dan Pati.

Baca juga: Indonesia Dilanda Suhu Panas Awal Mei 2024, Benarkah Itu “Heatwave”?

Imbauan BMKG

Terkait potensi kekeringan Jateng pada akhir Mei 2024, Sukasno meminta masyarakat untuk melakukan penghematan air.

Ia juga meminta masyarakat dan pemerintah untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan.

Tidak lupa, Sukasno menyarankan masyarakat untuk meminum air yang cukup supaya tubuh tetap terhidrasi.

“Hindari aktivitas yang berat di luar ruangan pada siang hari. Waspadai penyakit yang sering muncul pada musim kemarau,” kata Sukasno.

Update informasi BMKG melalui website, media sosial, atau aplikasi mobile Info BMKG,” pungkasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Jadwal Lengkap Pertandingan Euro 2024 Jerman, Babak Penyisihan Grup

Jadwal Lengkap Pertandingan Euro 2024 Jerman, Babak Penyisihan Grup

Tren
Ramai soal Ikan Lele yang Memiliki Mulut Sumbing, Apa Penyebabnya?

Ramai soal Ikan Lele yang Memiliki Mulut Sumbing, Apa Penyebabnya?

Tren
Seleksi Mandiri Universitas Negeri Semarang 2024, Cek Syarat dan Jadwalnya

Seleksi Mandiri Universitas Negeri Semarang 2024, Cek Syarat dan Jadwalnya

Tren
5 Kriteria 'Gawat Darurat' yang Ditanggung BPJS Kesehatan jika Pasien Langsung Dibawa ke IGD

5 Kriteria "Gawat Darurat" yang Ditanggung BPJS Kesehatan jika Pasien Langsung Dibawa ke IGD

Tren
Kenapa Wajib Pajak Perlu Lakukan Pemadanan NIK dan NPWP Sendiri? Ini Penjelasan DJP

Kenapa Wajib Pajak Perlu Lakukan Pemadanan NIK dan NPWP Sendiri? Ini Penjelasan DJP

Tren
Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

Tren
Menteri AHY Punya Kekayaan Rp 116 Miliar, Meningkat Rp 96 Miliar Sejak 2016

Menteri AHY Punya Kekayaan Rp 116 Miliar, Meningkat Rp 96 Miliar Sejak 2016

Tren
Penerbangan 'Delay' Berjam-jam, Penumpang Qatar Airways Terjebak dalam Pesawat dengan AC Mati

Penerbangan "Delay" Berjam-jam, Penumpang Qatar Airways Terjebak dalam Pesawat dengan AC Mati

Tren
4 Suplemen yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi untuk Menurunkan Berat Badan

4 Suplemen yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi untuk Menurunkan Berat Badan

Tren
Warganet Sebut Pendaftaran CPNS Sebenarnya Tidak Gratis, Ini Kata BKN

Warganet Sebut Pendaftaran CPNS Sebenarnya Tidak Gratis, Ini Kata BKN

Tren
Potensi Khasiat Sayur Kubis untuk Menunjang Kesehatan Jantung

Potensi Khasiat Sayur Kubis untuk Menunjang Kesehatan Jantung

Tren
Cerita Pasien yang Hidup dengan Chip Neuralink Elon Musk...

Cerita Pasien yang Hidup dengan Chip Neuralink Elon Musk...

Tren
Berkaca dari Unggahan Viral Pelajar Bercanda Menghina Palestina, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Berkaca dari Unggahan Viral Pelajar Bercanda Menghina Palestina, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Tren
Sederet Masalah pada Haji 2024: Ada Makanan Basi dan Tenda Tak Layak

Sederet Masalah pada Haji 2024: Ada Makanan Basi dan Tenda Tak Layak

Tren
Kapan Terakhir Unduh Sertifikat UTBK? Berikut Link dan Cara Mengeceknya

Kapan Terakhir Unduh Sertifikat UTBK? Berikut Link dan Cara Mengeceknya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com