Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Thrifting demi Flexing? Psikografi dan Sisi Lain Penggemar Barang Bekas

Kompas.com - 23/05/2024, 09:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Bonar Hutapea, S. Psi., M. Psi*

"Industry, thrift, and self-control are not sought because they create wealth, but because they create character" – Calvin Coolidge, mantan Presiden Amerika Serikat.

TIDAK semua orang secara terbuka mengaku sebagai penggemar barang bekas. Barangkali karena berbagai pandangan negatif terhadap mereka.

Misalnya, diledek sebagai pemburu pasar loak, diejek sebagai kaum yang wara-wiri di Sogo Jongkok atau Sogo Jongkok online.

Dianggap suka pamer padahal sebenarnya tidak mampu secara finansial. Dicap ‘gaya elit, ekonomi sulit’ atau gaya hidup BPJS alias budget pas-pasan jiwa sosialita.

Selain itu, juga dipandang tidak etis karena dianggap merusak pasar. Disindir tak patriotik dan tidak memiliki nasionalisme, serta tidak mendukung kebijakan pemerintah karena mengimpor dan memperdagangkan barang bekas dari luar negeri yang dilarang pemerintah.

Terlepas dari penilaian miring tadi, thrifting sudah semacam budaya pop global di kalangan masyarakat, khususnya orang muda. Tak ubahnya seperti menggemari K-Pop.

Pertumbuhan pasar bekas dan thrift shop juga sangat pesat. VOA Indonesia (29/4/2023) menyitir laporan perusahaan konsinyasi raksasa daring yang memperkirakan bahwa pertumbuhan usaha barang bekas akan berlipat ganda pada 2026 hingga mencapai 82 miliar dollar AS per tahun.

Survei perusahaan analitik global terhadap Generasi Millenial dan Z juga menunjukkan persentase yang tinggi terhadap barang bekas. Misalnya, di Amerika, 62 persen orang muda akan mencari barang bekas dahulu sebelum mencari yang baru.

Barangkali yang kurang disadari adalah pemburu second-hand goods yang dikenal sebagai thrifter banyak yang bukan berasal dari kelas sosial ekonomi rendah. Bahkan sebaliknya, banyak dari kalangan berpunya (the have).

Selain itu juga memiliki sisi lain, yakni segi positif dan aspek psikososial yang menonjol semacam psikografi mereka sebagai konsumen.

Selain kembalinya tren mode masa lalu dan pengaruh sosial (media, terutama media sosial dan pesohor semisal selebritis dan influencer juga frekuensi menonton platform tertentu dan online thrift shop atau second-hand store), nilai, kebutuhan, motif, gaya hidup dan karakteristik pribadi juga turut berperan yang mendorong orang muda masa kini semakin banyak dan antusias menjadi thrifter. Berikut uraian ringkasnya.

Kebahagiaan. Bahagia itu sederhana dan tak mahal? Bisa jadi, dengan thrifting barangkali salah satunya menurut para thrifter.

Dalam thrifting, selain kemanfaatan rekreasional, perasaan bahagia yang ditimbulkan, yang disebut eudamonia hedonik, tercakup sekaligus sebagai faktor pendorong yang kuat.

Pasar loak layaknya museum rakyat kebanyakan, yang dinilai sangat menarik dan memanjakan mata, tempat berpetualang.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com