Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penjelasan BMKG soal Mata Badai Siklon Tropis Olga yang Telah Terbentuk di Sekitar WIlayah Indonesia

Kompas.com - 08/04/2024, 19:15 WIB
Laksmi Pradipta Amaranggana,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mata badai siklon tropis Olga disebut telah terbentuk di sekitar wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, mata badai itu terdeteksi pada Minggu (7/4/2024) pada pukul 19.00 WIB di Samudra Hindia selatan Kepulauan Nusa Tenggara.

Siklon Tropis Olga lahir dari bibit siklon tropis 96S yang berasal dari suspect siklon tropis yang berada di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Guswanto saat dihubungi Kompas.com, Senin (8/4/2024).

Menurutnya, wilayah mata badai umumnya anginnya rendah, bahkan terkadang tidak ada angin.

Baca juga: BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 7-8 April 2024


 

Posisi siklon tropis Olga

Ia menjelaskan, diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10-100 kilometer. Selain itu, mata badai siklon dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km.

Dinding mata siklon tersebut merupakan wilayah yang kecepatan anginnya tertinggi dan memiliki curah hujan terbesar.

Adapun pusat sirkulasinya berada pada posisi 16.2 derajat Lintang Selatan (LS) dan 118,9 derajat Bujur Timur (BT) atau sekitar 710 km sebelah selatan barat daya Sabu.

Siklon tropis Olga memiliki kecepatan angin maksimum 80 knot (150 km/jam) dan tekanan udara minimum 963 hPa.

Adapun nama siklon tropis Olga diberi nama oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Perth, Australia.

Baca juga: Mengapa Bibit dan Siklon Tropis Terus Bermunculan di Sekitar Indonesia? Ini Kata BMKG

Dampak siklon tropis Olga

Dalam 24 jam ke depan, siklon tropis Olga diperkirakan akan berada di Samudra Hindia selatan Kepulauan Nusa Tenggara dengan koordinat 17.3 LS dan 117.0 BT atau sekitar 920 km sebelah barat daya Sabu.

Selain itu, siklon tropis ini diperkirakan memiliki kekuatan angin sebesar 45 knot (85 km/jam) dengan tekanan udara 995 hPa.

“Diperkirakan, kecepatan angin maksimum Siklon Tropis OLGA akan menurun dalam 24 jam kedepan,” ucap Guswanto.

Jenis siklon tropis ini juga diperkirakan akan bergerak ke arah barat daya dan menjauhi wilayah Indonesia.

Baca juga: BMKG Deteksi Bibit Siklon 96S Jelang Lebaran 2024, Ini 3 Dampaknya

Meskipun demikian, siklon tropis Olga mempunyai dampak tidak langsung terhadap cuaca di Indonesia.

“Sebagian wilayah Indonesia akan menghadapi hujan sedang hingga lebat serta gelombang tinggi akibat dampak dari siklon tropis Olga,” tuturnya.

Hujan sedang hingga lebat diperkirakan akan terjadi di wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, masyarakat di wilayah Perairan Selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumbawa, Perairan Selatan Pulau Sumba hingga Pulau Sabu, Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Pulau Sabu diminta waspada akan dampak gelombang tinggi 1,25-2,5 meter.

Terkait dampak siklon tropis Olga terhadap cuaca saat Idul Fitri 1445 Hijriah, BMKG akan memberikan update secara berkala setiap 24 jam sekali.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Ramai soal Ikan Lele yang Memiliki Mulut Sumbing, Apa Penyebabnya?

Ramai soal Ikan Lele yang Memiliki Mulut Sumbing, Apa Penyebabnya?

Tren
Seleksi Mandiri Universitas Negeri Semarang 2024, Cek Syarat dan Jadwalnya

Seleksi Mandiri Universitas Negeri Semarang 2024, Cek Syarat dan Jadwalnya

Tren
5 Kriteria 'Gawat Darurat' yang Ditanggung BPJS Kesehatan jika Pasien Langsung Dibawa ke IGD

5 Kriteria "Gawat Darurat" yang Ditanggung BPJS Kesehatan jika Pasien Langsung Dibawa ke IGD

Tren
Kenapa Wajib Pajak Perlu Lakukan Pemadanan NIK dan NPWP Sendiri? Ini Penjelasan DJP

Kenapa Wajib Pajak Perlu Lakukan Pemadanan NIK dan NPWP Sendiri? Ini Penjelasan DJP

Tren
Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

Makna Mendalam Wukuf di Arafah, Ritual Puncak Haji

Tren
Menteri AHY Punya Kekayaan Rp 116 Miliar, Meningkat Rp 96 Miliar Sejak 2016

Menteri AHY Punya Kekayaan Rp 116 Miliar, Meningkat Rp 96 Miliar Sejak 2016

Tren
Penerbangan 'Delay' Berjam-jam, Penumpang Qatar Airways Terjebak dalam Pesawat dengan AC Mati

Penerbangan "Delay" Berjam-jam, Penumpang Qatar Airways Terjebak dalam Pesawat dengan AC Mati

Tren
4 Suplemen yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi untuk Menurunkan Berat Badan

4 Suplemen yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi untuk Menurunkan Berat Badan

Tren
Warganet Sebut Pendaftaran CPNS Sebenarnya Tidak Gratis, Ini Kata BKN

Warganet Sebut Pendaftaran CPNS Sebenarnya Tidak Gratis, Ini Kata BKN

Tren
Potensi Khasiat Sayur Kubis untuk Menunjang Kesehatan Jantung

Potensi Khasiat Sayur Kubis untuk Menunjang Kesehatan Jantung

Tren
Cerita Pasien yang Hidup dengan Chip Neuralink Elon Musk...

Cerita Pasien yang Hidup dengan Chip Neuralink Elon Musk...

Tren
Berkaca dari Unggahan Viral Pelajar Bercanda Menghina Palestina, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Berkaca dari Unggahan Viral Pelajar Bercanda Menghina Palestina, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Tren
Sederet Masalah pada Haji 2024: Ada Makanan Basi dan Tenda Tak Layak

Sederet Masalah pada Haji 2024: Ada Makanan Basi dan Tenda Tak Layak

Tren
Kapan Terakhir Unduh Sertifikat UTBK? Berikut Link dan Cara Mengeceknya

Kapan Terakhir Unduh Sertifikat UTBK? Berikut Link dan Cara Mengeceknya

Tren
10 Bandara Terbaik di Asia 2024, Dua di Antaranya Milik Indonesia

10 Bandara Terbaik di Asia 2024, Dua di Antaranya Milik Indonesia

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com