Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof Adiwijaya
Guru Besar Telkom University

Peneliti dan praktisi bidang data science dan digital leadership

Harmoni Agama dan Sains: Menuju Peradaban Lebih Baik

Kompas.com - 07/04/2024, 17:12 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DALAM perjalanan panjang peradaban manusia, agama dan sains sering kali dianggap sebagai dua kutub berlawanan. Pertanyaan "Agama harus ilmiah?" sering kali menimbulkan perdebatan.

Namun, lebih jauh dari sekadar pertanyaan, ini adalah ajakan untuk refleksi bersama tentang bagaimana kedua aspek ini dapat berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia.

Artikel ini akan membahas bagaimana agama dan sains tidak hanya dapat, tetapi seharusnya berjalan beriringan dengan kemanusiaan sebagai core value utama.

Agama sebagai sistem yang mengatur kepercayaan kepada Tuhan yang meliputi ajaran, ibadah, dan etika sebagai pedoman hidup.

Sementara itu, sains diartikan sebagai sesuatu yang bersifat keilmuan, yang berarti berdasarkan pada metode ilmiah sistematis dan dapat diverifikasi.

Masyarakat modern dengan segala kompleksitasnya membutuhkan panduan yang tidak hanya bersifat spiritual, tapi juga rasional dan empiris.

Misalnya, dalam mengatasi pandemi, kebijakan kesehatan publik yang efektif memerlukan dasar ilmiah yang kuat, sementara agama memberikan kekuatan spiritual dan motivasi untuk mengikuti pedoman tersebut.

Dalam konteks ini, agama dan sains saling melengkapi; sains menyediakan solusi berdasarkan bukti dan data, sedangkan agama memberikan kerangka etika dan moralitas.

Sebagai contoh, saat ini, umat Muslim dengan menjalankan ibadah puasa, di mana puasa merupakan perintah dalam agama Islam dengan tujuan membentuk pribadi bertaqwa.

Lebih jauh, secara ilmiah, puasa memiliki berbagai manfaat, antara lain: perbaikan dalam metabolisme, kesehatan jantung, kesehatan otak, sistem imun, serta potensi pengurangan risiko penyakit kronis.

Selain itu, berpuasa dapat memacu pembaruan sel, membersihkan sel dari komponen rusak, yang melindungi dari penyakit seperti Alzheimer dan kanker.

Cendikiawan Muslim, al-Ghazali tidak menolak sains. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang benar-benar dipahami tidak akan bertentangan dengan wahyu ilahi.

Baginya, sains merupakan cara untuk mengagumi kebesaran penciptaan Tuhan dan memahami rahasia alam semesta.

Sejalan dengan ini, Ziauddin Sardar, cendekiawan Muslim Britania, mengkritik pendekatan konvensional terhadap sains dan mendorong inklusi perspektif Islam.

Ia menekankan pentingnya menjalankan sains dengan etika agama, berargumen bahwa kemajuan sains dan teknologi harus mencerminkan keadilan, kesetaraan, dan rasa hormat terhadap lingkungan sesuai dengan nilai Islam untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Helikopter yang Bawa Presiden Iran Jatuh, Pencarian Masih Berlanjut

Helikopter yang Bawa Presiden Iran Jatuh, Pencarian Masih Berlanjut

Tren
Alasan Tidak Boleh Minum Teh Saat Perut Kosong, Ini yang Akan Terjadi

Alasan Tidak Boleh Minum Teh Saat Perut Kosong, Ini yang Akan Terjadi

Tren
Prakiraan BMKG: Wilayah yang Berpotensi Dilanda Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 20-21 Mei 2024

Prakiraan BMKG: Wilayah yang Berpotensi Dilanda Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 20-21 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024, Pesawat Jatuh di BSD

[POPULER TREN] Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024, Pesawat Jatuh di BSD

Tren
Warga Jabar jadi Pengguna Pinjol Terbanyak di Indonesia, Ekonom Soroti Persib Gandeng Sponsor Pinjol

Warga Jabar jadi Pengguna Pinjol Terbanyak di Indonesia, Ekonom Soroti Persib Gandeng Sponsor Pinjol

Tren
Starlink Milik Elon Musk Resmi Beroperasi di Indonesia, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Starlink Milik Elon Musk Resmi Beroperasi di Indonesia, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Tren
Mengenal Voice of Baceprot, Grup Metal Garut yang Jadi Sorotan Utama Forbes 30 Under 30 2024

Mengenal Voice of Baceprot, Grup Metal Garut yang Jadi Sorotan Utama Forbes 30 Under 30 2024

Tren
Daftar Korban Pesawat Latih yang Jatuh di BSD Tangerang Selatan

Daftar Korban Pesawat Latih yang Jatuh di BSD Tangerang Selatan

Tren
Profil Oxford United, Klub Bola Erick Thohir yang Promosi ke Championship

Profil Oxford United, Klub Bola Erick Thohir yang Promosi ke Championship

Tren
5 Fakta Baru Kasus Pembunuhan Vina di Cirebon, Polisi Ungkap Kendala Penangkapan Pelaku

5 Fakta Baru Kasus Pembunuhan Vina di Cirebon, Polisi Ungkap Kendala Penangkapan Pelaku

Tren
3 Korban Pesawat Latih Jatuh di BSD Tangerang Selatan Meninggal, 2 Teridentifikasi

3 Korban Pesawat Latih Jatuh di BSD Tangerang Selatan Meninggal, 2 Teridentifikasi

Tren
6 Hal Ini Dilarang Dilakukan Jemaah Haji di Tanah Suci, Apa Saja?

6 Hal Ini Dilarang Dilakukan Jemaah Haji di Tanah Suci, Apa Saja?

Tren
Pesawat Latih Jatuh di BSD Serpong, Tiga Orang Meninggal Dunia

Pesawat Latih Jatuh di BSD Serpong, Tiga Orang Meninggal Dunia

Tren
Alasan Yusril Ihza Mundur dari Ketua Umum PBB Setelah 16 Tahun Menjabat

Alasan Yusril Ihza Mundur dari Ketua Umum PBB Setelah 16 Tahun Menjabat

Tren
Kerap Berlari Disebut Sebabkan 'Runner's Face', Apa Itu?

Kerap Berlari Disebut Sebabkan "Runner's Face", Apa Itu?

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com