Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkaca Kasus Mahasiswa UI Tewas Ditabrak, Bisakah Orang Meninggal Ditetapkan Tersangka?

Kompas.com - 30/01/2023, 15:00 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh,
Rendika Ferri Kurniawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kasus mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Muhammad Hasya Atallah Saputra tewas ditabrak pensiunan polisi menuai sorotan.

Pasalnya, Hasya yang merupakan korban tabrakan justru dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian.

Selain itu, pihak kepolisian juga mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3), karena korban sudah meninggal dunia.

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman menuturkan, korban merupakan penyebab dari kecelakaan tersebut, karena lalai dalam berkendara.

"Penyebab terjadinya kecelakaan ini si korban sendiri. Kenapa dijadikan tersangka? Dia kan yang menyebabkan, karena kelalaiannya menghilangkan nyawa orang lain, dirinya sendiri," ujar Latif, Jumat (27/1/2023).

Menurutnya, Hasya saat kejadian memacu kendaraannya sekitar 60 kilometer per jam. Padahal, kondisi jalan sedang licin akibat hujan.

Lantas, bisakah seorang yang meninggal dunia ditetapkan sebagai tersangka?

Baca juga: Kapolda Metro Bentuk TGPF, Usut Kasus Mahasiswa UI Hasya Tewas Ditabrak Pensiunan Polri

Baca juga: Beda Versi Kronologi Mahasiswa UI yang Tewas Ditabrak

Penjelasan pakar hukum

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menuturkan, polisi tidak bisa menetapkan tersangka orang yang sudah meninggal.

"Polisi keliru, orang yang sudah meninggal itu berhenti sebagai subjek hukum. Karena itu, tidak bisa lagi dilekatkan status apa pun, termasuk tersangka," kata Fickar kepada Kompas.com, Senin (30/1/2023).

Ia menuturkan, polisi seharusnya menetapkan orang yang masih hidup sebagai tersangka, karena ketidakhati-hatiannya menyebabkan kematian orang lain.

Menurutnya, polisi juga tidak memiliki wewenang untuk menentukan apakah seseorang terbukti bersalah atau tidak.

"Bahwa nanti dipersidangan tidak terbukti, itu akan diputuskan okeh hakim, bukan oleh kepolisian," jelas dia.

Fickar mengatakan, polisi hanya berwenang mengeluarkan SP3 suatu kasus pidana, bukan menghentikan perkara karena korban sudah meninggal dunia.

"Pengadilan yang menentukan siapa yang bersalah," tutupnya.

Baca juga: Beda Versi Kronologi Mahasiswa UI yang Tewas Ditabrak

Dua versi kronologi kecelakaan

Tim advokasi keluarga Muhammad Hasya Atallah di Sekretariat Iluni UI, Gedung Rektorat Iluni UI, Salemba, Jakarta Pusat pada Jumat (27/1/2023).KOMPAS.com/M Chaerul Halim Tim advokasi keluarga Muhammad Hasya Atallah di Sekretariat Iluni UI, Gedung Rektorat Iluni UI, Salemba, Jakarta Pusat pada Jumat (27/1/2023).
Dalam kasus ini, pihak kepolisian dan keluarga korban memiliki versi kronologi yang berbeda.

Halaman:

Terkini Lainnya

Apa yang Terjadi pada Tubuh Ketika Begadang Setiap Hari?

Apa yang Terjadi pada Tubuh Ketika Begadang Setiap Hari?

Tren
Peneliti Temukan Bakteri 'Vampir' Mematikan yang Makan Darah Manusia

Peneliti Temukan Bakteri "Vampir" Mematikan yang Makan Darah Manusia

Tren
8 Buah yang Dapat Meningkatkan Trombosit, Cocok untuk Penderita DBD

8 Buah yang Dapat Meningkatkan Trombosit, Cocok untuk Penderita DBD

Tren
Benarkah Jamu Jahe dan Kunyit Bisa Mengobati Jerawat? Ini Penjelasan Dokter

Benarkah Jamu Jahe dan Kunyit Bisa Mengobati Jerawat? Ini Penjelasan Dokter

Tren
Ramai soal Anak 4 Tahun Bertunangan di Madura, Ini Penjelasan Guru Besar Universitas Trunojoyo

Ramai soal Anak 4 Tahun Bertunangan di Madura, Ini Penjelasan Guru Besar Universitas Trunojoyo

Tren
Terbaru, Inilah Daftar Pinjaman Pribadi dan Investasi Ilegal yang Diblokir OJK per Maret 2024

Terbaru, Inilah Daftar Pinjaman Pribadi dan Investasi Ilegal yang Diblokir OJK per Maret 2024

Tren
Lion Air Tidak Bertanggung Jawab atas Hilangnya Uang Penumpang yang Disimpan Dalam Koper, Ini Alasannya

Lion Air Tidak Bertanggung Jawab atas Hilangnya Uang Penumpang yang Disimpan Dalam Koper, Ini Alasannya

Tren
Ramai soal Cara Mengetes Refleks Moro pada Bayi, Dokter Anak Ingatkan Hal Ini

Ramai soal Cara Mengetes Refleks Moro pada Bayi, Dokter Anak Ingatkan Hal Ini

Tren
5 Fakta Penipuan Katering di Masjid Sheikh Zayed Solo, Kerugian Capai Rp 960 Juta

5 Fakta Penipuan Katering di Masjid Sheikh Zayed Solo, Kerugian Capai Rp 960 Juta

Tren
Penjelasan KCIC soal Indomaret Buka Toko di Dalam Kereta Cepat Whoosh

Penjelasan KCIC soal Indomaret Buka Toko di Dalam Kereta Cepat Whoosh

Tren
Ditutup Besok, Ini Daftar Kereta yang Dapat Diskon 20 Persen dari KAI

Ditutup Besok, Ini Daftar Kereta yang Dapat Diskon 20 Persen dari KAI

Tren
Gunung Taishan Memiliki 6.660 Anak Tangga, Kaki Pengunjung Gemetar hingga Sebagian Harus Ditandu

Gunung Taishan Memiliki 6.660 Anak Tangga, Kaki Pengunjung Gemetar hingga Sebagian Harus Ditandu

Tren
7 Masalah Perilaku pada Anjing Peliharaan dan Cara Mengatasinya

7 Masalah Perilaku pada Anjing Peliharaan dan Cara Mengatasinya

Tren
Kemenhub Buka 18.017 Formasi CASN 2024, Ini Rincian dan Syaratnya

Kemenhub Buka 18.017 Formasi CASN 2024, Ini Rincian dan Syaratnya

Tren
Google Pecat 28 Karyawan yang Protes Perusahaan Punya Kontrak dengan Israel

Google Pecat 28 Karyawan yang Protes Perusahaan Punya Kontrak dengan Israel

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com