Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dr. Budi Heru Santosa
Pegawai Negeri Sipil

Pemerhati masalah lingkungan dan sumber daya air

Banjir Tak Harus Jadi Bencana Rutin Tahunan

Kompas.com - 23/01/2023, 12:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SENSUS penduduk tahun 2020 mencatat, jumlah penduduk Indonesia 270,2 juta jiwa, meningkat 32,56 juta dibandingkan hasil sensus penduduk 2010. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, dari jumlah tersebut 56,7 persen tinggal di perkotaan, dan diprediksi akan terus meningkat pada tahun 2035 menjadi 66,6 persen.

Ada resonansi antara pertumbuhan jumlah penduduk di wilayah perkotaan dengan peningkatan potensi terjadinya banjir. Tahun 2022, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 1.500 peristiwa banjir di seluruh wilayah Indonesia.

Peningkatan jumlah penduduk di perkotaan mengakibatkan kebutuhan lahan permukiman dan lahan untuk aktivitas sosial ekonomi lainnya meningkat. Akhirnya, banyak lahan hijau yang dikonversi menjadi kawasan terbangun.

Baca juga: Pemkot Semarang Segel Enam Bangunan yang Bisa Menyebabkan Bencana Banjir

Konsekuensinya, daya resap air ke dalam tanah menjadi jauh berkurang. Air yang seharusnya meresap ke dalam tanah, akan mengalir di permukaan tanah, masuk ke saluran drainase, dan akhirnya ke sungai. Debit aliran sungai pun meningkat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Di wilayah hilir, debit sungai yang terlalu besar dapat melebihi kapasitas alir sungai atau saluran sehingga meluap dan terjadi banjir. Menjadi tugas pemerintah daerah untuk mengelola wilayahnya dengan merencanakan dan melaksanakan program yang dapat mengurangi risiko banjir.

KZDQ, Sistem Menahan Air Hujan

Bangunan pengendali banjir perlu terus dilengkapi dengan memperhitungkan perlindungan kawasan permukiman dan kawasan aktivitas sosial dan ekonomi lainnya. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengurangi debit banjir adalah dengan menahan air hujan di lokasi di mana hujan terjadi.

Untuk itu, Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) telah mengatur Kebijakan Zero Delta Q (KZDQ). Di dalam penjelasan Peraturan itu disebutkan bahwa yang dimaksud dengan KZDQ adalah keharusan agar tiap bangunan tidak boleh mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai.

Hal itu perlu diatur karena dalam setiap pembangunan fisik, terjadi perubahan koefisien aliran permukaan, yang merupakan nisbah antara besarnya aliran di permukaan tanah dibanding dengan curah hujan penyebabnya. Dengan berubahnya tutupan lahan dari tutupan vegetasi menjadi tutupan terbangun berbahan beton atau aspal, maka terjadi peningkatan koefisien aliran permukaan dan mengakibatkan debit banjir yang keluar dari area tersebut menjadi makin besar.

Makin cepat pertumbuhan jumlah penduduk terjadi, kebutuhan lahan permukiman makin cepat, akibatnya debit banjir meningkat dengan cepat. Bila kapasitas alir sistem drainase dan sungai terlampaui, terjadilah luapan saluran drainase atau sungai dan terjadilah banjir.

Dalam KZDQ, setiap persil dan bangunan tidak boleh menambah debit air ke sistem drainase atau sistem aliran sungai. Debit banjir yang ada di suatu persil harus dikelola secara mandiri di dalam persil tersebut dengan menggunakan teknik areal peresapan air hujan, lubang resapan biopori, modifikasi lanskap, penampungan air hujan, saluran resapan biopori, sumur injeksi, sumur resapan, dan kolam-kolam lain yang berfungsi untuk menampung debit banjir yang timbul pada persil tersebut.

Baca juga: Bencana Banjir di Cianjur, 3 Kampung Terendam hingga Warga Terjebak

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+