Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Rumah Sakit Simpang, Dulu Dielukan Kini Tinggal Kenangan

Kompas.com - 05/12/2022, 21:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Alifia Putri Yudanti dan Ikko Anata

KOMPAS.com - Indonesia memiliki banyak bangunan bersejarah yang tersebar di seluruh provinsi. Salah satunya adalah rumah sakit yang banyak dikaitkan dengan hal-hal mistis. Bahkan, cerita-cerita horor sekolah angker berawal dari tanah bekas rumah sakit.

Rumah Sakit Simpang pun demikian. Kini, rumah sakit yang sangat berjasa pada masa Pertempuran Surabaya itu sudah berubah menjadi Kawasan Delta Plaza Surabaya. Kisahnya pun diceritakan kembali dalam audio drama siniar Tinggal Nama bertajuk “Kesaksian Rumah Sakit Simpang” dengan tautan dik.si/TNRSSimpang.

Sejarah Rumah Sakit Simpang

Mengutip Historical Hospitals, Rumah Sakit Simpang adalah rumah sakit tertua di Surabaya yang dibangun sekitar tahun 1808 dan ditutup pada 1923. Semula, rumah sakit ini diberi nama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting yang terkenal dengan sebutan Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ). Ada pula yang menyebutnya sebagai Simpang Hospital atau Rumah Sakit Simpang.

Rumah sakit ini dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Daendels untuk melengkapi keberadaan rumah sakit sebelumnya karena bangunannya terlalu rendah dan pengap. Namun, pembangunan rumah sakit ini juga pernah mengalami pembongkaran dan penambahan ruang.

Baca juga: 5 Kasus Pembunuhan Dunia yang Belum Terpecahkan

Saat awal dibangun, rumah sakit ini hanya sebatas melayani sebagai pasien militer karena merupakan bagian dari Layanan Medis Militer (MGD). Seiring berjalannya waktu, rumah sakit ini juga melayani warga sipil dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Hal inilah yang menyebabkan kapasitas rumah sakit ini membludak.

Ditambah, pada 1868, wabah kolera sempat melanda yang membuat jumlah pasien bertambah hingga tiga kali lipat jumlah normal. Tak hanya itu, jumlah pasien pun semakin bertambah karena kedatangan militer yang terluka setelah kembali dari ekspedisi Bali.

Rumah Sakit Simpang juga memiliki rumah dinas yang dibangun di sekitar komplek rumah sakit. Selain itu, pada 1913 dibangun pula NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), sekolah untuk mendidik calon dokter yang selanjutnya melakukan praktik di Rumah Sakit Simpang.

Hingga saat ini, Gedung NIAS masih berdiri dan beralih fungsi menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Rumah Sakit Utama Pertempuran Surabaya

Mengutip Liputan6, Rumah Sakit Simpang menjadi salah satu rumah sakit utama untuk menampung korban Pertempuran Surabaya. Hal ini sampai membuat kepala rumah sakit, dr. Soetopo, harus memindahkan pasien ke luar kota karena faktor keamanan dan minimnya tenaga medis.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+