Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Nasir
Wartawan

Wartawan Kompas, 1989- 2018

Cianjur, Pelataran Bermain

Kompas.com - 28/11/2022, 08:31 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KABUPATEN Cianjur, Jawa Barat, terkenal dengan produksi berasnya bernama beras cianjur. Aromanya wangi seperti pandan, pulen, nikmat walaupun hanya dimakan dengan lauk- pauk seadanya. Cianjur juga terkenal dengan ayam pelungnya yang suaranya panjang memelas, sedih.

Cianjur juga punya sederet tembang Sunda yang sedih-sedih. Tembang cianjuran yang bisa bikin pendengarnya mewek. Sebut saja beberapa tembang seperti Panglipur Manah, Sedih Pati Panyiptaan, Laras Pati Sekar Mawar, dan Ayun Ambing yang hingga kini masih disukai masyarakat.

Daerah Cianjur seluas 350.148 hektar itu juga terkenal dengan tempat bermain kaum urban karena menyimpan seribu wisata.

Kawasan wisata Cianjur tidak asing lagi bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Cianjur masuk dalam “daftar” taman atau pelataran bermain bagi kaum urban Jakata, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek). Pelataran bermain lainnya, tentu Bogor dan Bandung.

Tetapi untuk bisa mengunjungi seluruh obyek wisata di Cianjur membutuhkan waktu berhari-hari dan menginap. Masuk satu obyek wisata saja, misalnya Kebun Raya Cibodas membutuhkan waktu setengah hari untuk bersantai-santai di dalamnya. Kita sekarang bisa membawa mobil masuk ke dalam-dalam dengan jalan mulus.

Banyak pengunjung tergoda untuk turun dan menggelar tikar di bawah pohon rindang yang terhampar rumput hijau. Boleh juga bermain air yang mengalir di sela-sela bebatuan di sungai yang membelah Kebon Raya Cibodas.

Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang membentang dari Kabupaten Cianjur, Bogor hingga Sukabumi juga menjadi obyek wisata. Dua gunung yang namanya sering disatukan ini sudah lama ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namanya sangat terkenal di kalangan pendaki gunung, baik pendaki lokal maupun internasional.

Baca juga: Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Pasca-gempa Cianjur

Para pelancong juga bisa menjelajahi curug-curug atau air terjun yang menyebar di desa-desa di Kabupaten Cianjur. Sejumlah air terjun yang sering dikunjungi antara lain, Curug Cibeureum dan Ciismun di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas; Curug Luhur di Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong; Curug Cikondang di Desa Mangunjaya, Kecamatan Campaka; dan Curug Citambur di Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda.

Bagi yang suka pantai bisa berkunjung ke garis pantai selatan Cianjur. Di sana ada pantai yang cukup terkenal. Namanya pantai Lugina di Desa Wanasari, Kecamatan Agrabinta. Atau bermain ke pantai Jayanti dan Apra, terutama bagi mereka yang suka berselancar. Apra berada di Desa Saganten, Kecamatan Sindangbarang.

Kalau masih ada waktu bolehlah menginap dan keesokannya singgah ke Haurwangi yang terdapat lokasi wisata berupa hamparan pohon pinus seluas sekitar 20 hektar. Masih ingin jalan-jalan, teruskan ke Kota Bunga di Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet. Tidak jauh dari tempat ini juga ada Istana Kepresidenan RI di Jalan Raya Cipanas. Istana ini juga menerima kunjungan masyarakat.

Perjalanan Jakarta- Cianjur

Jarak Cianjur- Jakarta tidak jauh. Cianjur berada di arah selatan Jakarta, sekitar 118 kilometer dari tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Bisa ditempuh dengan mobil sekitar tiga jam, tergantung kepadatan lalu lintas. Belakangan jalur menuju Cianjur kian padat merayap.

Lepas tol Ciawi menuju Puncak, sudah tersendat laju kendaraan. Mata sudah tertuju pada gunung (Puncak) yang tersaput kabut. Laju kendaraan harus digas semakin dalam karena menanjak. Suhu udara semakin ke atas semakin dingin.

Baca juga: Kebun Raya Cibodas Tak Terdampak Gempa Cianjur dan Buka Seperti Biasa

Ketika sampai Puncak, saya suka membuka kaca jendela mobil, udara dingin masuk menembus pori-pori kulit kepala, semriwing. Yang ingin merasakan jagung aneka rasa, ketan bakar, mie rebus, dan minuman bandrek yang panas dan pedas, semua tersedia di warung-warung tepi jalan Puncak.

Ketika kita mulai turun Puncak dari arah Jakarta, dari situlah mulai masuk Cianjur sampai perbatasan Bandung Barat, melintasi beberapa titik ramai, seperti Cipanas, Pacet, kota Cianjur, terus sampai perbatasan Bandung Barat.

Udaranya yang dingin mengundang banyak orang berdatangan, ingin tinggal berlama-lama, karena udaranya segar. Barangkali dengan pertimbangan kualitas udaranya yang segar, Istana Presiden dibangun di sini, tepatnya di Jalan Raya Cipanas No 105, Cianjur.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com