Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan.

Simalakama Jerman atau Jepang

Kompas.com - 24/11/2022, 14:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERTANDINGAN Jerman versus Jepang pada Piala Dunia 23 November 2022, merupakan dilema simalakama bagi diri saya pribadi.

Di satu sisi secara subyektif saya sangat mengagumi para suporter sepakbola Jepang sejak Piala Dunia 2018 di Moskow setiap kali usai menonton pertandingan sepakbola di stadion mana pun di Rusia tidak langsung meninggalkan stadion, namun terlebih dahulu bersama membersihkan sampah yang dibuang penonton.

Bagi saya, para suporter sepakbola Jepang adalah juara dunia suporter paling beradab!

Berdasar pengalaman berkunjung ke sekitar tujuh puluh lima negara di planet bumi ini saya menyimpulkan bahwa WC umum terkotor berada di WC La Fayette, Paris serta bandara international Tibet, China.

Sementara WC yang terbersih lengkap dengan latar musik dan semprotan air hangat berada di Disneyland Urayashu Jepang.

Kebetulan, sepupu saya sesama pemilik saham Jamu Jago, Monika Suprana menikah dengan warga Jepang dan kini bermukim di Jepang.

Dari beliau, saya memperoleh informasi bahwa dalam hal kebersihan dan kedisiplinan memang masyarakat Jepang sudah digembleng sejak masa balita.

Bangsa Jepang termasuk yang pertama kali di dunia memisah tong sampah menjadi dua jenis, yaitu yang bisa dan yang tak bisa didaur ulang demi menjaga kelestarian lingkungan hidup di planet bumi cuma satu dan satu-satunya ini.

Di sisi lain, saya pribadi sempat tinggal untuk belajar dan mengajar selama sepuluh tahun di Jerman Barat ketika Jerman masih terbelah sebagai Jerman Barat dan Timur.

Pada tahun 1974, saya berada di Jerman untuk menjadi saksi hidup bagaimana kesebelasan Jerman Barat di bawah kekaptenan Beckenbauer didukung para dewa sepakbola Muller, Netzer, Meier, Vogt menjadi juara dunia setelah di final mengalahkan Belanda yang dikapteni Cruyff pada pertempuran dramatis memperebutkan Puala Dunia 1974.

Meski bukan warga Jerman namun pada waktu itu saya merasakan kebanggaan tersendiri bahwa Jerman menjadi juara dunia sepakbola.

Apalagi ketika kebetulan kita berjumpa di sebuah rumah makan China di kota Moenchengladbach, Berti Vogt bermurah hati memberi kenang-kenangan bagi ayah saya berupa sebuah tatakan gelas bir dengan tanda tangan “Der Terrier” yang ditugaskan Helmut Schoen menjaga Cruyff sehingga Belanda berhasil dikalahkan oleh Jerman pada babak final legendaris Piala Dunia 1974.

Memang Jerman menjadi tanah air udara ke dua bagi saya, setelah Indonesia.

Maka wajar bahwa tatkala Jerman berhadapan dengan Jepang pada babak awal Piala Dunia di Qatar, saya merasa serba salah untuk memilih berpihak kepada siapa.

Lebih bijak saya ikhlas menyerahkan kepada kenyataan untuk membuktikan siapa lebih unggul.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com