Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Kisah Korupsi dalam Secangkir Kopi Multatuli

Kompas.com - 09/11/2022, 18:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Zen Wisa Sartre dan Ristiana D. Putri

KOMPAS.com - Terlepas dari dampaknya yang bisa membuat mata melek dan asam lambung naik, kopi selalu membawa kehangatan tersendiri di kala pagi atau berbincang. Mau kopi saset seharga dua ribuan, disangrai sendiri di rumah, atau yang berharga mahal seperti di kafe, bila tidak bisa memantik percakapan, bukan kopi namanya.

Melalui siniar Beginu bertajuk “Pepeng, Klinik Kopi, Menjadi Kecil, dan Siasat Hidup Bahagia”, kita dapat mengetahui perbincangan Wisnu Nugroho dengan Pepeng untuk tetap bahagia hanya dengan sebatas menghirup dan meminum segelas kopi yang dapat diakses melalui tautan berikut https://dik.si/BeginuPepeng.

<iframe style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/episode/38ibuLjOwa81aZ02HUCL4n?utm_source=generator" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>

Kopi memang erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan, kita bisa melihat kritik Multatuli terhadap kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang disajikan melalui novel Max Havelaar (2014).

Novel ini mengambil inspirasi dari kehidupan masyarakat dan kontribusi perkebunan kopi terhadap perolehan devisa negara kolonial.

Baca juga: Kunci Keterampilan Pemimpin Wanita dalam Principle of Delegation

Akan tetapi, Multatuli melihat pemerintah terlalu mengutamakan keuntungan ekonomi hingga memunculkan banyak masalah kemanusiaan.

Mau tidak mau, kapitalisme memang sudah menjalar sedari dulu dan menjadi penentu kebijakan pemerintah, terlebih industri swasta mengetahui tanah di Pulau Jawa yang subur memiliki potensi keuntungan yang angkanya di luar nalar.

Keadaan tanah Pulau Jawa inilah yang mendorong pihak asing untuk mendominasi, melakukan investasi, dan mengeksploitasi. Akan tetapi, masyarakat Belanda tidak terlalu mengetahui keadaan di Pulau Jawa hingga akhirnya mereka terkagetkan dengan lahirnya novel Max Havelaar.

Korupsi dan Politik Etis

Setidak-tidaknya, kita bisa melihat adanya pihak luar, yaitu Multatuli atau Eduard Douwes Dekker (liyan), yang memiliki rasa kemanusiaan atas pribumi dengan mengkritik pemerintahnya dalam wujud Max Havelaar meski Dekker hanya hidup bersama pribumi di Lebak selama tiga bulan.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+