Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tragedi Itaewon dan Kanjuruhan, Kenapa Kerumunan Bisa Picu Kematian?

Kompas.com - 30/10/2022, 13:15 WIB
Rizal Setyo Nugroho

Penulis

KOMPAS.com - Sebanyak 151 orang tewas dalam kerumunan selama perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022) malam.

Kejadian kematian massal yang terjadi melibatkan kerumunan bukan pertama kalinya terjadi, setidaknya dalam tahun ini.

Sebelumnya di Stadion Kanjuruhan, Malang, awal Oktober 2022, sebanyak 135 orang tewas berdesakan setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton.

Bagaimana kerumunan dapat memicu kematian massal?

Baca juga: Korban Tewas Tragedi Halloween Itaewon Bertambah Menjadi 151 Orang

Kesulitan bernapas

Pakar keamanan kerumunan dan profesor tamu ilmu kerumunan di University of Suffolk di Inggris G. Keith Still mengatakan, saat berada di kerumunan massal hal yang tidak terlihat adalah gaya yang begitu kuat sehingga dapat membengkokkan baja.

Menurutnya dalam kondisi tersebut, aktivitas menarik napas menjadi sulit.

“Saat orang berjuang untuk bangun, lengan dan kaki terpelintir. Pasokan darah mulai berkurang ke otak,” kata G. Keith Still dikutip dari VOA.

Dia juga mengatakan, dibutuhkan 30 detik sebelum seseorang kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit mengalami asfiksia kompresif atau restriktif.

"Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan dengan mati lemas,” ujarnya.

Dalam utas Twitter pada hari Sabtu, salah seorang saksi mengatakan mereka berada di kerumunan menggambarkan orang- orang "jatuh seperti kartu domino dan berteriak."

"Saya benar-benar merasa seperti saya akan dihancurkan sampai mati," kata mereka di tweet lain.

"Dan saya bernapas melalui lubang dan menangis dan berpikir saya sekarat."

Petugas penyelamat dan pemadam kebakaran bekerja di lokasi tragedi Halloween Itaewon. Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022). Sedikitnya 149 orang tewas setelah mengalami serangan jantung, sesak napas akibat berhimpitan di gang sempit dan jalan berliku bersama ribuan orang.YONHAP/LEE JI-EUN via AP Petugas penyelamat dan pemadam kebakaran bekerja di lokasi tragedi Halloween Itaewon. Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10/2022). Sedikitnya 149 orang tewas setelah mengalami serangan jantung, sesak napas akibat berhimpitan di gang sempit dan jalan berliku bersama ribuan orang.

Korban mati lemas dalam kerumunan

Still mengatakan, saat terjadi lonjakan, tekanan dari atas dan bawah orang dalam kerumunan membuat sulit bernapas karena paru-paru mereka membutuhkan ruang untuk mengembang.

Dibutuhkan sekitar enam menit untuk masuk ke asfiksia kompresif atau restriktif, kemungkinan penyebab kematian bagi orang yang tewas dalam keramaian.

Orang-orang juga dapat melukai anggota badan mereka dan kehilangan kesadaran ketika mereka berjuang untuk bernapas dan melarikan diri dari keramaian.

Dibutuhkan sekitar 30 detik kompresi untuk membatasi aliran darah ke otak dan orang-orang yang berada di keramaian menjadi pusing.

Gelombang kerumunan dapat dipicu oleh banyak situasi ketat, misalnya ketika orang mendorong orang lain atau jika seseorang tersandung, kata Still.

Namun kejadian tersebut biasanya tidak disebabkan oleh orang yang kesusahan atau mendorong untuk keluar dari keramaian. Reaksi-reaksi itu biasanya muncul setelah kerumunan mulai runtuh.

“Orang mati bukan karena panik. Mereka panik karena mereka sekarat. Jadi yang terjadi adalah, saat tubuh jatuh, saat orang-orang berjatuhan, orang-orang berjuang untuk bangun dan Anda berakhir dengan lengan dan kaki terpelintir bersama-sama,” kata dia.

Baca juga: 50 Orang Henti Jantung Saat Ribuan Orang Berdesakan di Itaewon, Korsel

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Mengenal Rest Area Tipe A, B, dan C di Jalan Tol, Apa Bedanya?

Mengenal Rest Area Tipe A, B, dan C di Jalan Tol, Apa Bedanya?

Tren
Freeport Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan Sarjana, Cek Syarat dan Cara Daftarnya!

Freeport Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan Sarjana, Cek Syarat dan Cara Daftarnya!

Tren
Eks ART Menggugat, Ini Perjalanan Kasus Mafia Tanah yang Dialami Keluarga Nirina Zubir

Eks ART Menggugat, Ini Perjalanan Kasus Mafia Tanah yang Dialami Keluarga Nirina Zubir

Tren
Mengintip Kecanggihan Dua Kapal Perang Rp 20,3 Triliun yang Dibeli Kemenhan

Mengintip Kecanggihan Dua Kapal Perang Rp 20,3 Triliun yang Dibeli Kemenhan

Tren
Cara Menurunkan Berat Badan Secara Sehat ala Diet Tradisional Jepang

Cara Menurunkan Berat Badan Secara Sehat ala Diet Tradisional Jepang

Tren
10 Manfaat Minum Air Kelapa Murni Tanpa Gula, Tak Hanya Turunkan Gula Darah

10 Manfaat Minum Air Kelapa Murni Tanpa Gula, Tak Hanya Turunkan Gula Darah

Tren
BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 19-20 April 2024

BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 19-20 April 2024

Tren
[POPULER TREN] Status Gunung Ruang Jadi Awas | Kasus Pencurian dengan Ganjal ATM

[POPULER TREN] Status Gunung Ruang Jadi Awas | Kasus Pencurian dengan Ganjal ATM

Tren
Menlu Inggris Bocorkan Israel Kukuh Akan Respons Serangan Iran

Menlu Inggris Bocorkan Israel Kukuh Akan Respons Serangan Iran

Tren
Erupsi Gunung Ruang pada 1871 Picu Tsunami Setinggi 25 Meter dan Renggut Ratusan Nyawa

Erupsi Gunung Ruang pada 1871 Picu Tsunami Setinggi 25 Meter dan Renggut Ratusan Nyawa

Tren
Menyelisik Video Prank Galih Loss yang Meresahkan, Ini Pandangan Sosiolog

Menyelisik Video Prank Galih Loss yang Meresahkan, Ini Pandangan Sosiolog

Tren
'Tertidur' Selama 22 Tahun, Ini Penyebab Gunung Ruang Meletus

"Tertidur" Selama 22 Tahun, Ini Penyebab Gunung Ruang Meletus

Tren
Tidak Menghabiskan Antibiotik Resep Dokter Bisa Sebabkan Resistensi, Ini Efek Sampingnya

Tidak Menghabiskan Antibiotik Resep Dokter Bisa Sebabkan Resistensi, Ini Efek Sampingnya

Tren
Video Burung Hinggap di Sarang Semut Disebut untuk Membersihkan Diri, Benarkah?

Video Burung Hinggap di Sarang Semut Disebut untuk Membersihkan Diri, Benarkah?

Tren
Membandingkan Nilai Investasi Apple di Indonesia dan Vietnam

Membandingkan Nilai Investasi Apple di Indonesia dan Vietnam

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com