
MENTERI Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkumham), Mahfud MD, selaku Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan menegaskan, tragedi itu tidak terbatas pada hukum karena para pelaku/organisasi saling menyalahkan sambil masing-masing berlindung di balik undang-undang. Maka, tragedi itu lebih terkait dengan nilai kemanusiaan.
Baca juga: Kesimpulan TGIPF, Mahfud: PSSI Harus Bertanggungjawab Hukum dan Moral
Penegasan Prof Mahfud MD mengingatkan kita kepada warisan kearifan mahaguru Sosiologi Hukum saya, Prof Satjipto Raharjo, yang menyatakan bahwa di atas hukum masih ada keadilan. Warisan kearifan tersebut kemudian mengerucut pada Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan yang menyimpulkan bahwa pada hakikatnya di atas keadilan masih ada kemanusiaan.
Suatu kesimpulan yang bertumpu pada landasan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta merta menempatkan kemanusiaan pada posisi terluhur sebagai tujuan utama peradaban umat manusia.
Maka layak dinyatakan bahwa kemanusiaan adalah mahkota peradaban. Peradaban dalam arti seluas-luasnya keluasan maupun sekompleks-lompleksnya kekompleksan sikap dan perilaku manusia dalam menempuh perjalanan hidup secara individual dan komunal dalam bentuk Gemeinschaft maupun Gesselschaft melalui jalur sains, teknologi, seni, ekonomi, politik, agama serta ideologi.
Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban yang ingkar kemanusiaan seperti Mesir Kuno, Romawi, Mongol, China Kuno, Jerman, Jepang akhirnya mengalami masa krisis yang disusul keruntuhan.
Sejarah peradaban telah membuktikan bahwa tanpa berpedoman kemanusiaan sebagai alat untuk mencapai cita-cita masyakat adil dan makmur hidup bersama dalam suasana gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta rahardja, maka suasana pembangunan infra struktur peradaban menjadi bukan konstruktif tetapi malah destruktif.
Karena memang kemanusiaan adalah mahkota peradaban.
Insya Allah, setelah umat manusia diperingatkan oleh Yang Maha Kuasa untuk tidak bersikap dan berperilaku dumeh alias takabur dengan kehadiran pagebluk Covid-19, berlanjut krisis ekonomi global rawan memicu Perang Dunia III, maka umat manusia tersadar.
Baca juga: Menuju Akhir Pandemi Covid-19, Epidemiolog: Kebijakan Mitigasi Harus Dievaluasi
Semoga setelah pandemi Covid-19 dan dampak ikutannya itu, manusia bisa bersikap mengutamakan kemanusiaan sebagai pedoman utama perjalanan hidup masing-masing secara individual maupun bersama secara komunal melalui jalur sains, teknologi, seni, ekonomi, politik, agama serta ideologi atau apapun demi membangun peradaban yang lebih baik di masa depan ketimbang masa kini apalagi masa lalu.
Karena memang kemanusiaan adalah mahkota peradaban.
Merdeka!
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & Ketentuan
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.