Kompas.com - 04/10/2022, 06:00 WIB

KOMPAS.com - Tragedi Kanjuruhan menyisakan duka bagi sepak bola Indonesia. Sedikitnya 125 orang meninggal dunia dan hampir 300 orang mengalami luka-luka akibat kerusuhan usai pertandingan lanjutan Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022).

Bukan kali ini saja, kerusuhan yang terjadi di sepak bola Indonesia kerap terjadi dan memakan korban. Belum lama ini, seorang suporter PSS Slemen meninggal dunia karena pengeroyokan pada akhir Agustus 2022.

Sebelumnya, dua orang suporter Persib Bandung juga meninggal dunia usai pertandingan melawan Persebaya pada Juni 2022.

Baca juga: Fakta Tragedi Kanjuruhan, Update Jumlah Korban hingga Penyebabnya

Lantas, mengapa sepak bola kerap diwarnai kerusuhan?

Komunitas pendukung sepak bola 

Psikolog klinis dari Personal Growth, Rachel Poniman mengatakan, popularitas sepak bola dan fanatisme pendukung bisa menjadi alasan di balik kerusuhan itu.

Menurutnya, suporter sepak bola memiliki komunitas yang besar dan kuat, bahkan aktivitasnya terorganisir.

"Dari sini, suporter bola cenderung mengembangkan sense of identity karena mereka dikelilingi oleh orang-orang yang berpikiran sama," kata Rachel kepada Kompas.com, Senin (31/10/2022).

Ia menjelaskan, kondisi ini kemudian menimbulkan adanya konformitas kelompok. Contohnya, ketika ada anggota yang mengambil aksi atau tindakan, maka anggota lainnya akan cenderung mengikuti aktivitas kelompok tersebut.

Baca juga: Mahfud Perintahkan Panglima TNI Tindak Prajurit Anarkis di Tragedi Kanjuruhan

Aksi negatif

Sayangnya, aksi-aksi konformitas kelompok yang fanatik tersebut bisa menuju ke arah negatif yang bersifat ekstrem, agresif, bahkan anarkis. Hal itu muncul ketika mereka merasa kecewa atau tidak puas dengan situasi yang ada.

"Contohnya dengan kekalahan tim yang mereka dukung, suporter tim tersebut menjadi marah, kecewa, atau sakit hati dan hal tersebut memicu tindakan agresi," jelas dia.

Meski beberapa cabang olahraga lain di Indonesia juga populer, seperti badminton, Rachel menyebut jumlah kapasitas penonton sebagai pembeda.

Sebab penonton sepak bolah jauh lebih besar dibandingkan dengan badminton.

"Selain itu, pada badminton, jarang ditemukan adanya rivalitas dan provokasi antar klub atau suporter karena konteksnya lebih ke tim nasional," jelasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.