Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/09/2022, 19:04 WIB

KOMPAS.com - Demonstrasi atas meninggalnya Mahsa Amini ramai terjadi beberapa hari terakhir.

Kematian Mahsa Amini memicu amarah warga Iran, membuat internet di Iran diblokir, hingga menimbulkan aksi demo di mana-mana.

Lantas, siapa Mahsa Amini?

Dilansir ABC, Jumat (23/9/2022), Mahsa Amini merupakan wanita berusia 22 tahun yang berasal dari Saqqez di provinsi Kurdistan Iran.

Dia sedang jalan-jalan di ibu kota Iran bersama keluarganya pada 13 September.

Tiba-tiba setelah keluar dari stasiun metro di tengah kota Teheran, dia dipaksa masuk ke dalam van milik Gasht e Ershad atau semacam patroli polisi moral.

Baca juga: Iran, antara Perang Melawan Virus Corona dan Sanksi Ekonomi...

Patroli menegakkan aturan berpakaian wanita yang telah menjadi hukum di Republik Islam Iran sejak 1979. Mereka mengatakan jilbab Mahsa Amini terlalu longgar.

Mahsa Amini dibawa ke “pusat penahanan Vozara” yang terkenal sebagai tempat para wanita melanggar aturan jilbab. Di sana tempat seseorang diajari tentang penampilannya yang “tidak senonoh”.

Saat berada dalam tahanan polisi, dia mengalami koma dan meninggal tiga hari kemudian.

Baca juga: Mengenal MQ-9 Reaper, Drone Pembunuh Jenderal Iran Qasem Soleimani


Klaim sudah mematuhi aturan

Orang-orang berunjuk rasa menentang Presiden Iran Ebrahim Raisi di luar markas PBB di New York City, Amerika Serikat, Rabu (21/9/2022). Demo pecah setelah kematian Mahsa Amini (22), perempuan Iran yang ditangkap polisi karena disebut mengenakan jilbab secara tidak pantas.GETTY IMAGES/STEPHANIE KEITH via AFP Orang-orang berunjuk rasa menentang Presiden Iran Ebrahim Raisi di luar markas PBB di New York City, Amerika Serikat, Rabu (21/9/2022). Demo pecah setelah kematian Mahsa Amini (22), perempuan Iran yang ditangkap polisi karena disebut mengenakan jilbab secara tidak pantas.

Dikutip New York Times, 16 September 2022, polisi tidak memberikan penjelasan kenapa Mahsa Amini ditahan, selain menyangkut aturan hijab.

Menurut ibu Mahsa, putrinya sudah mematuhi aturan dan mengenakan jubah panjang yang longgar.

Dia mengatakan, Mahsa ditangkap saat dia keluar dari kereta bawah tanah bersama saudara laki-lakinya.

Mereka mengaku adalah pengunjung/wisatawan tapi diabaikan polisi.

Baca juga: Deretan Pejabat Iran yang Terinfeksi Virus Corona

Pasukan keamanan Iran mengeluarkan pernyataan yang mengeklaim Mahsa Amini tiba-tiba pingsan karena serangan jantung di pusat penahanan, saat menerima pelatihan pendidikan tentang aturan jilbab.

Keluarganya membantah klaim ini, mereka mengatakan dia sehat sempurna sebelum penangkapannya.

Kakaknya, Kiarash Amini mengatakan, dia sedang menunggu di luar pusat penahanan pada hari penangkapannya ketika dia mendengar teriakan dari dalam.

Baca juga: Merunut Akar Konflik Iran-Amerika Serikat, Sejak Kapan Perseteruan Dimulai?

Mahsa Amini diduga mengalami gegar otak

Foto yang diperoleh AFP di luar Iran pada 21 September 2022 menunjukkan para demonstran Iran turun ke jalan-jalan di Teheran selama aksi protes setelah Mahsa Amini meninggal dalam tahanan polisi. Aksi protes menyebar ke 15 kota di seluruh Iran atas kematian Mahsa Amini setelah dia ditangkap oleh polisi moral negara itu.AFP Foto yang diperoleh AFP di luar Iran pada 21 September 2022 menunjukkan para demonstran Iran turun ke jalan-jalan di Teheran selama aksi protes setelah Mahsa Amini meninggal dalam tahanan polisi. Aksi protes menyebar ke 15 kota di seluruh Iran atas kematian Mahsa Amini setelah dia ditangkap oleh polisi moral negara itu.

Sebuah ambulans tiba dan seorang saksi yang keluar dari pusat penahanan mengatakan kepadanya bahwa pasukan keamanan telah membunuh seorang wanita muda di dalam.

Mahsa dibawa dari fasilitas penahanan dengan ambulans ke rumah sakit tak lama setelah penangkapannya dan mengalami koma.

Sebuah foto dan video Mahsa Amini yang beredar luas di media sosial pada 15 September menunjukkan dia terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan selang di mulut dan hidungnya. Darah mengalir dari telinganya dan memar di sekitar matanya.

Baca juga: Aksi Protes Wanita Iran Imbas dari Kematian Mahsa Amini, Potong Rambut dan Lempar Jilbab ke Dalam Api

Beberapa dokter Iran mengatakan di Twitter bahwa meskipun mereka tidak memiliki akses ke file medisnya, pendarahan dari telinga menunjukkan dia mengalami gegar otak akibat cedera di kepala.

Masih dari ABC, ayah Mahsa mengatakan bahwa putrinya tidak memiliki masalah kesehatan atau riwayat masalah jantung.

Dia mengatakan putrinya memar dan pihaknya meminta polisi bertanggung jawab atas kematiannya.

Baca juga: Iran, Amerika Serikat, dan Potensi Perang Dunia Ketiga...

Tuduhan polisi memukuli Mahsa Amini

Demo Iran pecah di jalan-jalan ibu kota Teheran pada Rabu (21/9/2022) atas kematian Mahsa Amini, yang tewas setelah ditahan polisi karena disebut mengenakan jilbab secara tidak pantas.AFP Demo Iran pecah di jalan-jalan ibu kota Teheran pada Rabu (21/9/2022) atas kematian Mahsa Amini, yang tewas setelah ditahan polisi karena disebut mengenakan jilbab secara tidak pantas.

Para advokat menuduh polisi moral memukuli Mahsa Amini. Tapi polisi menolak tuduhan itu.

Kematian Amini telah memicu kemarahan luas di masyarakat. Baik orang biasa, beberapa pejabat, ulama senior, selebriti, hingga atlet ikut marah atas kejadian tersebut.

Banyak yang mengutuk kekerasan yang tampak terhadapnya dan menyerukan diakhirinya praktik melecehkan serta menahan wanita karena tidak mematuhi aturan jilbab.

Aksi demonstrasi setelah kematian Amini dimulai pada 17 September 2022 dan telah menyebar ke lebih dari 80 kota di Iran.

Sebagian besar demonstrasi terkonsentrasi di barat laut Iran yang berpenduduk Kurdi.

Baca juga: Merunut Akar Konflik Iran-Amerika Serikat, Sejak Kapan Perseteruan Dimulai?

Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan sedikitnya 31 warga sipil tewas dalam kerusuhan itu, sementara televisi pemerintah menyebutkan jumlah korban tewas 17 orang.

Di Teheran dan beberapa kota Kurdi, pengunjuk rasa membakar kantor polisi dan kendaraan.

Demonstrasi atas kematian Amini adalah yang terbesar di negara itu sejak protes meletus atas kenaikan harga bensin oleh pemerintah.

Di dunia, video yang viral menunjukkan beberapa wanita merobek jilbab sebagai bentuk protes. Ada juga yang memotong rambut mereka saat demo.

Demonstrasi telah terjadi di negara-negara di seluruh dunia, dari Yunani hingga Turki hingga Kanada.

Baca juga: Iran, Amerika Serikat, dan Potensi Perang Dunia Ketiga...

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+