Ari Junaedi
Akademisi dan konsultan komunikasi

Doktor komunikasi politik & Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama.

"Anak Polah Bapa Keprada", Bapak bagi Minyak Anak Berharap Suara

Kompas.com - 12/07/2022, 17:44 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DRAMA penangkapan Moch Subchi Azal Tsani alias Mas Bechi, tersangka kasus dugaan pelecehan seksual santriwati di Pondok Pesantren Majma'al Bachroin Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang, Jawa Timur begitu mengharu biru. Betapa tidak, sejak dua tahun lalu ditetapkan sebagai tersangka, Mas Bechi begitu “licin” bagai belut. Polisi begitu kerepotan dan kesulitan untuk menghadirkan Mas Bechi di kantor polisi untuk diperiksa, alih-alih menangkapnya.

Status Daftar Pencarian Orang (DPO) yang disematkan polisi kepada Mas Bechi menjadi bukti seolah-olah tersangka pelecehan seksual tersebut betapa sulit untuk dicari apalagi dicokok, padahal jelas dan cethoh weleh-weleh Mas Bechi hidup nyaman di dalam lingkungan pondok pesantren. Upaya polisi untuk menangkap Mas Bechi berkali-kali gagal karena mendapat perlawanan dan pengawalan yang ketat dari para pengikutnya.

Sebelum ditangkap, polisi nyaris membekuknya dalam iringan-iringan puluhan kendaraan roda empat. Ada kendaraan yang menghalangi laju petugas bahkan berusaha menabraknya, sementara Mas Bechi tetap lolos.

Baca juga: Soal Pencabulan oleh Anak Kiai di Jombang, Aktivis Perempuan Diintimidasi, Kepala Dibenturkan ke Dinding, Ponsel Dirampas

Bahkan upaya penangkapan terakhir melibatkan ratusan personel kepolisian dari Polres Jombang yang didukung penuh jajaran dari Polda Jawa Timur. Mas Bechi berhasil ditangkap usai negosiasi yang alot antara polisi dengan ayahnya selama 15 jam.

Kesulitan polisi tentu saja karena didasari antisipasi petugas untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Warga pondok pesantren yang mencapai ratusan dan mudah dihasut oleh pengikut-pengikut Mas Bechi serta tentu saja sikap ayah Mas Bechi, yaitu KH Muhammad Muchtar Mukhti, yang selalu “menghalang-halangi” upaya polisi menegakkan hukum (Detik.com, 6/7/2022).

Andai saja Kyai Muchtar Mukhti bersikap kooperatif, mengedepankan kearifan sebagai orangtua sekaligus pendidik yang layak ditiru dan digugu serta paham hukum, tentu sedari awal tidak akan menghambat proses hukum berlangsung. Soal anggapan kasus yang menerpa putranya sebagai fitnah, biarlah hukum berproses sebagaimana mestinya.

 

Mas Bechi, diusianya yang sudah dewasa, bisa mempertanggungjawabkan ajaran metafisika yang pernah diajarkan ke santriwati sebagaimana pengakuan para korbannya.

Anak polah bapa kepradah adalah sebuah peribahasa dalam Bahasa Jawa. Kata polah bermakna tingkah laku, sedangkan kepradah adalah menanggung malu. Jika ke dua kata ini dirangkai menjadi kesatuan kalimat “anak polah bapa kepradah” hal itu mengandung makna seorang ayah menanggung malu karena perbuatan yang telah dilakukan anak kandungnya sendiri.

Tingkah pola dari seorang anak akan berimbas terhadap orangtuanya. Masyarakat Jawa memiliki prinsip hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai adiluhung yang bersifat universal. Nilai-nilai luhur yang terus dipahami hingga sekarang seperti termaktub dalam kalimat bijak anak polah bapa kepradah berisikan petuah dan nasehat hidup dan kehidupan bahwa manusia harusnya menjalankan kehidupan dengan lebih baik. Tidak memperlakukan sesama anak manusia seperti budak, memaksakan kehendak di luar nalar kemanusian dan selalu mengatasnamakan Sang Pemilik Kehidupan untuk kepentingan pribadi yang melenceng.

Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan saat hadir dalam pasar minyak goreng murah di Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (9/7/2022). Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan saat hadir dalam pasar minyak goreng murah di Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (9/7/2022).
Bapa bagi minyak goreng, anak berharap suara

Anak polah bapa kepradah menyiratkan dengan tegas bahwa apa yang dilakukan oleh seorang anak maka orangtua akan terkena dampaknya. Tingkah laku seorang anak berdampak terhadap orangtua. Jika tingkah anak berkelakuan tidak baik maka orangtua akan terimbas tidak baik juga. Begitu juga sebaliknya, jika anak bertingkah laku terpuji dan membanggakan maka nama orangtua ikut tersanjung baik pula.

Saya jadi teringat dengan perjuangan Udin Sudrajat (61), seorang pengemudi angkutan kota jurusan Cicadas – Elang di Kota Bandung, Jawa Barat, yang berhasil mengantarkan putranya bernama Udin menjadi lulusan terbaik Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Gelombang I Tahun 2022 di Sekolah Pendidikan Kepolisian Negara (SPN) Jawa Barat (Kompas.com, 9/7/2022).

Baca juga: PKB soal Zulhas Bagi-bagi Minyak Goreng Sambil Kampanye: Bikin Malu, Jangan Keterlaluan!

Dengan segala keterbatasannya, Udin meraih rangking pertama jasmani terbaik dan penghargaan Adhi Makayasa untuk tiga aspek penilaian yang mencakup mental kepribadian, akademik, serta jasmani. Tak pelak prestasi Udin berimbas kepada nama baik ayah bahkan keluarganya yang berasal dari masyarakat dengan kehidupan pas-pasan. Bapak dari polisi Udin kini bisa membusungkan dada bahwa sopir angkot pun bisa punya anak gagah yang berkiprah di kepolisian.

Sebaliknya dari Lampung kita belajar mengambil hikmah, seorang pejabat negara yang juga ketua umum sebuah  partai politik bisa juga bertindak; bapa polah anak kepradah. Tingkah laku yang dipertontonkan seorang bapak menteri yang seharusnya mengurusi tata niaga perdagangan, di antaranya persoalan minyak goreng yang tengah amburadul di pasar justru menggunakan “kewenangangannya” untuk kampanye politik anaknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.