Komarudin Watubun
Politisi

Komarudin Watubun, SH, MH adalah anggota Komisi II DPR RI; Ketua Pansus (Panitia Khusus) DPR RI Bidang RUU Otsus Papua (2021); pendiri Yayasan Lima Sila Indonesia (YLSI) dan StagingPoint.Com; penulis buku Maluku: Staging Point RI Abad 21 (2017).

Antisipasi dan Kendali Risiko Ancaman "Perang" Siber

Kompas.com - 01/07/2022, 12:14 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

WAR in the fifth domain” atau perang di jagad ke-5, begitu judul artikel The Economist edisi Juli 2010. Kini pertahanan dan keamanan (hankam) negara tidak hanya jagad laut, udara, darat, dan antariksa, tetapi juga jagad siber. The Economist mengutip arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama saat itu bahwa infrastruktur digital adalah aset stategis nasional dan pembentukan Cybercom, divisi khusus Pentagon (Department of Defense/DoD), operasi tempur siber.

Konsiderans arah kebijakan strategis Presiden Obama itu berjejak panjang. Misalnya, Information Warfare Monitor (2009) menyebut plot ‘Ghostnet’ dari jaringan komputer di zona Tiongkok yang menyusup ke 1000 jaringan komputer komersial dan pemerintah pada lebih dari 100 negara (Goldsmith, 2013:132).

Wakil Menteri Pertahanan AS, William Lynn, merilis data pada edisi Foreign Affairs
(2010): tahun 2008, Pentagon mengalami “the most significant breach of US military computers ever”. Peretasan sangat signifikan itu berasal dari satu “flash drive’ yang masuk ke satu laptop, berisi piranti lunak berbahaya ke dalam sistem komputer klasifikasi dan non- klasifikasi Komando Pusat AS. Karena itu, Pemerintah AS khusus mengembangkan strategi siber melindungi infrastruktur sipil dan militer di era digital saat ini (Lynn III, 2010:97-98).

Baca juga: Konflik Ukraina: Perang Siber Masih Misteri Besar Yang Belum Dipetakan

Di sisi lain, National Computer Network Emergency Response Technical Team Coordination Center, keamanan jaringan publik dan infrastruktur strategis Tiongkok (2012) merilis laporan tahunan tentang lonjakan serangan siber dari AS, Jepang, dan Korea Selatan. Kira-kira 80.000 serangan siber dari luar per bulan ke jaringan infrastuktur dan publik Tiongkok (Zhang, 2012:804-805).

Harian The New York Times merilis laporan David E Singer (2012) tentang operasi virus komputer Stuxnet, operasi non-kinetik ‘Olympic Games’, ke fasilitas reaktor nuklir milik Iran di Natanz. Hasilnya, menurut mantan bos CIA, Michael Hayden, operasi itu termasuk serangan siber pertama kali dengan dampak fisik skala besar (Finkelstein, et al., 2015:ix).

Grup usaha seperti Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, dan Raytheon, telah membangun “jaringan industri militer keamanan siber”. Piranti keras-lunak semacam ini dijual ke Pemerintah AS (Zhang, 2012: 805). Dokumen National Security Agency (NSA) AS menyebut upaya elite Pentagon membangun kemampuan siber-ofensif (Schneier, 2013).

Tidak ada pilihan lain bagi AS, sebab sejak awal abad 21, tata masyarakat dan pemerintahan AS semakin terpateri erat kepada jaringan infomasi dan infrastruktur IT (Rattray, 2001:8).

Di era digital, negara-negara lain, termasuk Indonesia, bukan kekecualian dari risiko AS itu. “Cyberspace has become an indispensable part of a state,” tulis Gazula (2017:13).

Ruang siber bukan bagian terpisah dari negara-bangsa. Bahkan dewasa ini, negara-negara, aktor non-negara, perguruan tinggi, masyarakat sipil, perusahan-perusahan, dan warga negara menjadi saling-bergantung dan antar-koneksi melalui ruang siber.

Simulasi perang siber merupakan bagian dari kerja sama pertahanan baru antara Inggris dan AS. BBC Simulasi perang siber merupakan bagian dari kerja sama pertahanan baru antara Inggris dan AS.
Jaringan informasi-komunikasi (ITC) menjadi aset integral dan strategis dari suatu negara, tata-masarakat, lingkungan, dan bahkan kehidupan sehari-hari warga negara. Hasil riset dan kajian Hoover (2012) dan Weissbrodt (2013:347) menyebutkan kelahiran efisiensi, tetapi juga risiko bawaan yakni teror siber, kejahatan siber, serangan siber, siber spionase, dan perang siber. Komputer dan internet mengubah tata-cara pemerintahan, militer, bisnis, dan kegiatan masyarakat di berbagai negara.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.