Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dandi Supriadi, MA (SUT), PhD,
Dosen Jurnalistik

Kepala Kantor Komunikasi Publik Universtas Padjadjaran. Dosen Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Selain minatnya di bidang Jurnalisme Digital, lulusan pendidikan S3 bidang jurnalistik di University of Gloucestershire, Inggris ini juga merupakan staf peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Unpad.

Metaverse dalam Jurnalisme

Kompas.com - 14/02/2022, 09:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEJAK ramainya kabar penggantian nama perusahaan Facebook yang dipimpin Mark Zuckerberg menjadi META akhir 2021 lalu, keberadaan metaverse menjadi topik hangat akhir-akhir ini.

Berbagai gagasan untuk pemanfaatannya merambah ke berbagai sektor kehidupan, termasuk di dalamnya, pemanfaatan di bidang jurnalisme.

Perkembangan praktik jurnalistik yang didistribusikan dalam realitas versi lain melalui dunia meta atau virtual dewasa ini diwarnai dengan kemunculan inovasi-inovasi yang sebelumnya mungkin hanya ada di cerita fiksi ilmiah saja.

Contohnya, bagaimana jurnalis dapat menghadirkan kejadian dengan membawa khalayaknya seakan-akan berada di lokasi melalui teknologi Virtual Reality (VR).

Ada juga penambahan informasi digital yang seakan-akan dapat muncul di dunia nyata melalui perangkat Augmented Reality (AR).

Perkembangan ini terjadi berkat kemajuan teknologi di bidang komunikasi yang memanfaatkan jaringan internet dan pembangunan algoritma yang semakin canggih hingga dapat menciptakan dunia alternatif dengan karakter serupa dengan dunia nyata.

Pertanyaannya, apa fungsi dari perkembangan teknologi metaverse bagi dunia jurnalistik?

Apakah memang penting dan perlu bagi jurnalis untuk bergabung dengan dunia alternatif seperti ini?

Minat media mengembangkan metaverse

Pada awal Januari 2022, Nic Newman memublikasikan hasil riset di bawah Reuters Institute for the Study if Journalism dan University of Oxford.

Isinya adalah prediksi tentang tren jurnalisme, media, dan teknologi tahun 2022 berdasarkan survei kepada para pengelola media di 52 negara (Newman, 2022).

Berdasarkan riset tersebut, metaverse menjadi salah satu dari lima format berita yang diprediksi akan menjadi tren.

Walaupun jumlah responden survei yang memilih kemasan berita multiverse hanya 8 persen, namun hal ini menjadi catatan sebagai salah satu fokus media tahun 2022.

Hasil riset Nic Newman tentang prediksi trend jurnalisme, media, dan teknologi di tahun 2022 berdasarkan survei kepada para pengelola media di 52 negara.Dandi Supriadi Hasil riset Nic Newman tentang prediksi trend jurnalisme, media, dan teknologi di tahun 2022 berdasarkan survei kepada para pengelola media di 52 negara.

Minat mengembangkan jurnalisme metaverse kemungkinan didasarkan pada kondisi khalayak yang sebagian besar mengandalkan pengunduhan informasi dari internet.

Pengunduhan tersebut dilakukan rata-rata melalui perangkat bergerak (mobile).

Prestianta (2020) dalam artikelnya mencatat, dari 175 juta orang Indonesia yang terkoneksi ke internet hampir seluruhnya (98 persen) mengakses internet melalui perangkat telepon genggamnya.

Akibatnya, produk-produk yang dapat diakses dengan mudah melalui perangkat bergerak yang terhubung dengan internet menjadi pilihan utama untuk dipasarkan kepada khalayak.

Di perangkat semacam itulah, metaverse hidup dan berkembang.

Berkembangnya metaverse juga dapat dikaitkan dengan kondisi di mana para jurnalis muda yang termasuk digital native banyak menyalurkan potensinya yang dekat dengan teknologi.

Hal itu membuat mereka menjadi incaran kelompok-kelompok konglomerasi media besar yang sedang beralih ke platform digital untuk memenangkan persaingan dengan raksasa digital internasional (Tapsell, 2017).

Di wadah inilah inovasi metaverse memiliki tempat yang leluasa untuk berkembang.

Metaverse dalam dunia jurnalisme

Istilah metaverse yang pertama kali muncul dalam sebuah novel karya Neal Stephenson berjudul Snow Crash menggambarkan struktur fiksi terbuat dari kode-kode yang hanya bisa dipahami komputer.

Melalui internet, kode-kode tersebut terbaca sebagai realitas yang dapat dilihat dan dirasakan secara virtual.

Tokoh utama dalam cerita ini, Hiro Protagonist, mencari dunia alternatif untuk menghindari kondisi ekonomi yang kacau di dunia nyata.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+