Kompas.com - 17/01/2022, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Hari ini 75 tahun yang lalu, tepatnya 17 Januari 1948, naskah dari sebuah perjanjian penting di masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia ditandatangani.

Perjanjian itu adalah Perjanjian Renville.

Disebut Renville karena sesuai dengan lokasi perundingan yang dilakukan di atas geladak Kapal USS Renville.

Kapal ini adalah kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang ketika itu tengah berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta. Dipilih, karena dianggap sebagai tempat yang netral.

Baca juga: Perjanjian Renville: Latar Belakang, Isi, dan Kerugian bagi Indonesia

Sejarah perjanjian Renville

Berdasarkan laman Museum Perumusan Naskah Proklamasi, perumusan itu mulai dilakukan antara Indonesia dan Belanda pada 8 Desember 1947.

Delegasi Indonesia terdiri dari:

  1. Amir Sjarifuddin sebagai Perdana Menteri
  2. Mr. Ali Sastroamidjojo dan Agus Salim sebagai Wakil
  3. Dr. Leimena, Mr. Latuharhary, juga Kolonel T.B. Simatupang sebagai anggota.

Sementara itu, delegasi Belanda dipimpin oleh Raden Abdul Kadir Widjojoatmodjo.

Pokok utama yang dibicarakan dalam perundingan itu terkait dengan wilayah kedaulatan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan 8 Desember itu, selain ada perwakilan Indonesia dan Belanda sebagai dua pihak yang terlibat langsung, ada juga Komisi Tiga Negara (KTN) sebagai penengahnya.

KTN ini meliputi Amerika Serikat, Belgia, dan Australia.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.