Khamami Zada
Dosen

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Belajar dari Kesuksesan Sejumlah Negara Turunkan Prevalensi Merokok

Kompas.com - 29/12/2021, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

 

UPAYA penghentian konsumsi rokok secara komprehensif masih sulit dilakukan oleh sejumlah negara. Padahal, negara-negara tersebut telah mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengurangi prevalensi perokok. Namun tetap tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.

Faktanya, jumlah perokok masih banyak dan kebiasaan merokok masih menjadi bagian dari budaya masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Bahkan, WHO memprediksi prevalensi perokok secara global tidak akan banyak berubah hingga tahun 2025.

Rokok diketahui dapat meningkatkan risiko kesehatan. Kondisi ini mendorong pemerintah di sejumlah negara melakukan upaya pengendalian tembakau (tobacco control) demi menekan prevalensi perokok.

Baca juga: 7 Cara Berhenti Merokok Tanpa Terasa Menyiksa, Sudah Coba?

Tiga negara sukses turunkan jumlah perokok

Meskipun demikian, tidak semua negara gagal menurunkan prevalensi perokok. Sebagai contoh, Inggris, Jepang, dan Selandia Baru berhasil menurunkan angka perokoknya dalam beberapa tahun terakhir melalui strategi baru dalam pengendalian tembakau.

Upaya yang dilakukan di ketiga negara tersebut adalah dengan mengadopsi pendekatan pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction). Konsep pengurangan bahaya tembakau sekarang ini telah menjadi alternatif dalam menanggulangi permasalahan merokok (O'Leary, R dan Polosa, R, 2020).

Konsep itu mengedepankan pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai pilihan bagi para perokok yang kesulitan untuk berhenti merokok sepenuhnya. Karena itu, pemerintah di sejumlah negara di dunia lantas merumuskan regulasi mengenai produk tembakau alternatif.

Pemerintah Inggris, misalnya, melalui serangkaian kajian ilmiah membuktikan bahwa produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau dipanaskan dapat berfungsi sebagai alat bantu berhenti merokok (smoking cessation tools). Fakta tersebut didorong oleh penelitian Public Health England (PHE) yang menyatakan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 90-95 persen lebih rendah daripada rokok (Rachel Brown, et. al., 2021).

Akan tetapi, perlu diingat bahwa produk tembakau alternatif tidak sepenuhnya aman atau tanpa risiko, tetapi jauh lebih rendah risikonya dibandingkan dengan rokok.

Data terakhir menyebut Inggris adalah negara dengan tingkat prevalensi perokok paling rendah kedua di Eropa. Dalam implementasinya, Inggris sangat ketat terhadap usia pengguna, yang sangat dibatasi berusia 18 tahun ke atas sehingga produk ini tidak ditujukan untuk anak-anak.

Pemerintah Inggris menyusun regulasi tembakau dan produk terkait dengan mengadopsi The EU Tobacco Products Directive (2014/40/EU) pada 20 Mei 2016. Dalam peraturan itu diatur bahwa produsen harus menyerahkan informasi tentang produk ke Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA) melalui portal EU-CEG.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.