Kompas.com - 06/12/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi kalender Shutterstock/SchiraIlustrasi kalender

KOMPAS.com - Hari ini 93 tahun lalu, tepatnya 6 Desember 1928, terjadi pembantaian massal terhadap demonstran yang sebagian besar merupakan buruh perkebunan pisang di Kota Cienaga, Provinsi Magdalena, Kolombia.

Peristiwa tersebut didokumentasikan dalam paper berjudul "The worker's massacre of 1928 in the Magdalena Zona Bananera - Colombia. An unfinished story" yang dipublikasikan pada Desember 2012.

Tragedi yang dikenal sebagai "Pembantaian Pisang" itu dilatarbelakangi perlakuan tidak adil terhadap para buruh yang bekerja di perkebunan pisang yang dikelola oleh perusahaan multinasional asal Amerika Serikat, United Fruit Company (UFC).

Perlakuan itu antara lain upah rendah dan ketiadaan jaminan kesehatan serta asuransi kecelakaan kerja. Hal ini menyebabkan para buruh di perkebunan tersebut melakukan mogok kerja dan menggelar aksi demonstrasi sejak November 1928 untuk menuntut keadilan dari UFC.

Akan tetapi, upaya para buruh untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik itu justru dibalas dengan berondongan peluru dari aparat militer Kolombia yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga lebih dari 1.000 orang.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: 4 Desember 1977, Pembajakan Pesawat Malaysia Boeing 737

Eksportir pisang terbesar di dunia

Pisang merupakan komoditas yang sangat diminati di pasar Eropa dan AS. Kolombia merupakan salah satu negara penghasil pisang terbesar di dunia.

UFC merupakan perusahaan multinasional yang menguasai perdagangan pisang di pasar dunia. Mereka memiliki perkebunan di banyak negara Karibia, yaitu Kolombia, Kuba, Republik Dominika, Kosta Rika, Panama, Honduras, dan Guatemala.

Menurut data Catherine Legrand, sekitar tahun 1920, UFC memiliki 1.383.485 hektar perkebunan, jalur rel kereta api sepanjang 2.434 kilometer, dan 90 kapal uap yang dikenal sebagai Great White Fleet untuk mengangkut pisang dari Karibia ke Eropa dan Amerika Serikat.

Pengaruh ekonomi dan politik United Fruit Company begitu besar sehingga pada tahun 1928, perusahaan tersebut memiliki jaringan kabel telegraf dan telepon sepanjang 5.636 kilometer, dan 24 stasiun radio.

Nasib buruh pisang di Kolombia

Protes para buruh di Cienaga, Kolombia, bermula dari cara perusahaan merekrut pekerja secara tidak langsung dengan menggunakan sub-kontraktor (outsourcing).

Cara tersebut dilakukan UFC untuk mendapatkan lebih banyak pekerja dengan biaya yang lebih murah. Dengan demikian, mereka dapat meraup untung lebih besar.

Pada 1920-an, terdapat 35.000 hektar perkebunan pisang di Provinsi Magdalena, yang mewakili 57 persen dari ekspor Kolombia.

Salah satu pasal perjanjian kerja menetapkan, "Semua rincian pekerjaan akan menjadi tanggung jawab perusahaan kontraktor dan baik kontraktor maupun pekerja tidak akan menjadi pekerja United Fruit Company".

Hal itu bertentangan dengan Undang-Undang Perburuhan Kolombia yang disetujui dan disahkan pada tahun 1915, namun dengan sengaja tidak dipatuhi oleh UFC.

Pada 6 Oktober 1928, digelar pertemuan serikat pekerja yang menghasilkan sembilan butir tuntutan terhadap UFC, yaitu:

Halaman:
Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.