Kompas.com - 22/10/2021, 18:00 WIB
MRT Singapura yang sedang melintas di distrik Sengkang, Singapura Utara terlihat lenggng, Jumat malam (10/9/2021). Singapura kembali mengumumkan pembatasan sosial setelah angka harian kasus Covid-19 memecahkan rekor menembus angka tertinggi sejak pandemi pada Kamis (23/9/2021). KOMPAS.com/ERICSSENMRT Singapura yang sedang melintas di distrik Sengkang, Singapura Utara terlihat lenggng, Jumat malam (10/9/2021). Singapura kembali mengumumkan pembatasan sosial setelah angka harian kasus Covid-19 memecahkan rekor menembus angka tertinggi sejak pandemi pada Kamis (23/9/2021).

KOMPAS.com - Singapura tengah mengalami lonjakan harga listrik akibat krisis energi yang menimpa negara tersebut.

Melansir Straits Times, Jumat (22/10/2021), Singapura disebut mengalami krisis energi global yang berdampak pada perekonomiannya.

Lonjakan harga listrik yang tinggi di Singapura berdampak pada biaya produksi yang lebih tinggi untuk keperluan bisnis, hingga biaya hidup di tingkat rumah tangga.

Lantas, apa yang menyebabkan krisis energi di Singapura dan kaitannya dengan Indonesia?

Baca juga: Krisis Energi Singapura akibat Indonesia, Ini yang Jadi Penyebab

Pasokan gas dari Indonesia

Sekitar 95 persen listrik Singapura dihasilkan dari gas alam. Gas alam tersebut dipilih karena stabilitasnya dinilai baik dalam harga maupun pasokan.

Namun harga gas alam telah melonjak. Sebagian karena meningkatnya permintaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penyebab lain lonjakan harga listrik adalah pasokan gas alam perpipaan Singapura dari ladang gas Indonesia di Natuna terganggu sejak Juli 2021.

Regulator energi Singapura, Energy Market Authority (EMA), menyatakan, pasokan gas yang lebih rendah dari Indonesia dan dibarengi tingginya permintaan listrik dari biasanya telah membuat harga listrik di negara itu melonjak.

"Ini adalah konsekuensi dari keputusan bisnis mereka dan dapat diharapkan di pasar listrik yang terbuka dan diliberalisasi, di mana para peserta dapat masuk dan keluar dari pasar, dan konsolidasi pasar dapat terjadi," kata EMA, mengutip Channel News Asia, Sabtu (16/10/2021).

Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah dua pengecer listrik iSwitch dan Ohm Energy menghentikan operasi mereka di Singapura, dengan alasan pasar listrik yang bergejolak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.