Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Dari Wayang Kulit ke Wayang Potehi

Kompas.com - 11/10/2021, 09:39 WIB
Foto dirilis Senin (4/2/2019), menunjukkan beberapa karakter wayang potehi yang akan tampil pada pementasan di pusat perbelanjaan Ciputra, Jakarta. Wayang potehi merupakan kesenian klasik peninggalan zaman kekaisaran negeri tirai bambu, percampuran budaya Tionghoa dan Jawa yang biasa dimainkan sebelum dan sesudah perayaan Imlek. ANTARA FOTO/PUTRA HARYO KURNIAWAFoto dirilis Senin (4/2/2019), menunjukkan beberapa karakter wayang potehi yang akan tampil pada pementasan di pusat perbelanjaan Ciputra, Jakarta. Wayang potehi merupakan kesenian klasik peninggalan zaman kekaisaran negeri tirai bambu, percampuran budaya Tionghoa dan Jawa yang biasa dimainkan sebelum dan sesudah perayaan Imlek.

SECARA pribadi saya merasa akrab dengan wayang kulit yang pada masa kanak-kanak memang kerap saya tonton meski tidak pernah berhasil bertahan sampai semalam suntuk.

Keakraban dengan wayang kulit makin akrab berkat saya beruntung pernah berguru kepada tak kurang dari sang mahadalang Ki Nartosabdho sendiri.

Wayang orang

Di bagian kedua kehidupan saya, kemudian saya akrab dengan wayang orang berkat memperoleh kesemapatan bekerja sama dengan kelompok wayang orang Bharata mempergelar lakon Banjaran Gatotkaca di panggung Sydney Opera House dan UNESCO Paris.

Kemudian bekerja sama dengan TNI mempergelar Sata Kurawa dengan benar-benar secara ragawi menampilkan 100 serdadu TNI berperan sebagai 100 kurawa di panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

Peristiwa bersejarah tersebut merupakan rekor dunia pergelaran 100 kurawa dengan 100 pemeran yang sebelumnya belum pernah terjadi di marcapada.

Di samping wayang kulit tentu saja saya mengagumi wayang golek mahakarya kebudayaan Sunda yang menurut selera saya pribadi merupakan desain teater boneka terindah yang pernah saya lihat di planet bumi ini.

Kemudian masih ada pula wayang jemblung yang pergelarannya asyik diiringi secara a capella dengan suara alat musik gamelan yang keluar dari mulut manusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut saya wayang jemblung merupakakan mahakarya budaya lisan dalam makna lisan selisan-lisannya lisan secara paling konsekuen lisan tiada lawan di dunia.

Lalu masih ada wayang beber yang merupakan pendahulu komik.

Lalu ada pula wayang klitik, wayang suket, wayang Bali, wayang Sasak, wayang Banjar, wayang Betawi, wayang krucil, wayang Palembang, wayang kancil, wayang kemerdekaan, wayang panji, wayang bangsawan dan lain-lain, dan sebagainya, dan selanjutnya .

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.