Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Menyimak Anugerah Nobel 2021 untuk Fisika

Kompas.com - 08/10/2021, 09:47 WIB
Medali Nobel. PIXABAY/ FLORIAN PIRCHERMedali Nobel.

MENARIK bahwa anugerah Nobel 2021 untuk fisika diperoleh oleh para saintis yang bekarya secara andaikatamologis dengan model demi memprediksi pemanasan global dan permainan internal sistem-sistem planetarial alias kosmofisika.

Syukuro Manabe dari Universitas Princeton, Amerika Serikat, dan Klaus Hasselman dari Max Planck Institute for Meteorology, Jerman, berbagi anugerah untuk karya mereka berdua dalam fisika modelling iklim planet bumi sambil melakukan kuantifikasi variability and reliably prediksi pemanasan global.

Baca juga: Gunakan Senyawa dalam Cabai, 2 Ilmuwan Ini Memenangkan Hadiah Nobel

 

Separuh hadiah Nobel lainnya diberikan kepada Giorgi Parisi dari Universitas Sapienz, Roma Italia untuk apa yang disebut oleh dewan juri Nobel sebagai the discovery of the interplay of disorder and fluctuations in physical systems from atomic to planetary scales

Upacara penganugerahan Nobel 2021 dilaksanakan oleh The Royal Swedish Academy of Sciences di Session Hall di Stockholm pada pagi hari Selasa 5 Oktober 2021.

Teori kacau balau 

Sebagai seorang awam fisika yang sedang babak-belur berupaya mempelajari apa yang disebut teori kacaubalau, saya merasa tertarik pada penelitian andaikatamologis yang dilakukan oleh ketiga penerima anugerah Nobel 2021 untuk fisika.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Syukuro Manabe mendemonstasikan bagaimana level pemanasan terus meningkat. Karbon dioksida pada atmosfer potensial meningkatkan temperatur pada permukan bumi.

Pada tahun 60-an abad XX, Manabe mengembangkan model fisikal iklim bumi sehingga merupakan ilmuwan pertama yang mengeksplorasi interaksi antara keseimbangan radiasi dengan transport vertikal massa udara yang mendasari pengembangan model klimat masa kini.

Selama sedasawarsa, Klaus Hasselman menciptakan model yang menghubungkan cuaca dengan iklim. Gagasannya itu menjawab pertanyaan kenapa model iklim layak dipercaya meski cuaca selalu berubah-ubah secara kacaubalau.

Hasselman juga mengembangkan metode indentifikasi sinyal spesifik yang mempengaruhi iklim berdasar fenomena alam mau pun perilaku manusia.

Metode andaikatamologis Hasselam didayagunakan untuk membuktikan bahwa peningkatan temperatur atmosfer merupakan akibat emisi karbon dioksida akibat perilaku manusia sebagai suatu hipotesa yang tidak disukai oleh Donald Trump.

Baca juga: 5 Fakta Menarik Hadiah Nobel, Penghargaan Prestisius untuk Kemanusiaan

 

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.