Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Tragedi Kemanusiaan 28 September

Kompas.com - 28/09/2021, 06:46 WIB
Proses pembongkaran rumah warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan sungai Ciliwung dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa Bebek. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGProses pembongkaran rumah warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan sungai Ciliwung dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa Bebek.

PADA pagi hari Kamis 28 September 2016 dua hari menjelang akhir September sebagai hari tragedi nasional G-30-S, dengan menggunakan kursi roda akibat sedang pada masa pemulihan pasca-gangguan kesehatan pencernaan saya datang ke kawasan Bukit Duri.

Kawasan tersebut telah dimaklumatkan oleh pemerintah DKI Jaya untuk digusur atas nama pembangunan infra struktur padahal tanah dan lahan yang akan digusur telah berulang kali ditegaskan oleh Pengadilan Negeri, PTUN, mantan Ketua MK, Mahfud MD serta Menhukham, Yasonna Laoly masih dalam proses hukum.

Apabila dilakukan berarti penggusuran tersebut merupakan pelanggaran hukum secara sempurna.

Niat

Niat saya datang ke kawasan Bukit Duri adalah untuk memohon belas kasihan para Satpol PP dan para petugas penggusuran Pemprov DKI Jakarta berkenan menunda penggusuran tanah dan bangunan yang masih dalam proses hukum di PN dan PTUN.

Sayang upaya saya sia-sia belaka. Para petugas penggusuran dan para Satpol PP menegaskan bahwa sebenarnya mereka kasihan kepada rakyat digusur namun terpaksa harus menggusur.

Memang kewajiban mereka menunaikan tugas menggusur berdasar perintah atasan yang sedang duduk di dalam kantor nan sejuk dan nyaman nun jauh dari lokasi peristiwa penggusuran.

Gerobak dorong kecil

Maka terpaksa saya harus menyaksikan dengan dua mata di satu kepala saya sendiri bagaimana seorang ibu yang sedang berada di dalam rumah atau lebih tepat disebut gubuk kumuh dipaksa oleh para Satpol PP DKI Jakarta untuk keluar dari gubuk yang akan dirobohkan sebelum diratakan dengan permukaan bumi dengan buldoser raksasa segede hohah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semula saya menduga Sang Ibu mengemas harta benda miliknya akan berlangsung lama.

Tetnyata dalam waktu tidak sampai dua menit sang ibu sudah keluar dari gubuk kumuh sambil menangis mendorong gerobak ukuran kecil berisi seorang anak perempuan balita kecil juga sambil menangis berdampingan dengan sebuah kompor kecil, sebuah wajan, dua piring dan dua pasang sendok garpu, sebungkus pakaian dan ya sudah hanya itu saja.

Ternyata harta benda Sang Ibu memang hanya itu saja. Kemudian ia beserta gerobak dorong berisi balita perempuan dan segenap harta-bendanya berdiri di samping saya.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.