Jaya Suprana
Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Gagal Paham Teori Kuantum

Kompas.com - 19/09/2021, 08:30 WIB
Ilustrasi Teori Kuantum PIXABAY.COM/ GERD ALTMANNIlustrasi Teori Kuantum

ILMU Fisika sempat disebut sebagai ilmu pasti sebab dipastikan pasti tetap pasti semisal benda yang dilempar ke atas atau ke samping pasti akhirnya jatuh ke bawah seperti yang disebut oleh para fisikawan sebagai hukum alam gravitas.

Disebut hukum alam sebab dogmatis tidak boleh maka tidak bisa diganggu-gugat!

Namun, setelah ilmu fisika sendiri juga membuktikan bahwa benda yang dilempar ke atas atau ke samping dengan daya melebihi daya tarik bumi apalagi konon setelah mempelajari ruang angkasa luar dibuktikan oleh para antariksawan/ wati secara nyata pada kenyataan maka gugurlah kepastian benda pasti jatuh ke bawah.

Bahkan secara geometris plus mazhab relativitas di planet bumi berbentuk bundar ini gerak ke bawah bisa juga berarti ke atas. Tergantung dari sisi mana observasi dilakukan.

Ketidakpastian

Ketidakpastian ilmu pasti menyadarkan manusia bahwa tidak ada kepastian pada kehidupan manusia kecuali kematian yang juga tidak pasti tentang kapannya kecuali lewat bunuh diri atau dibunuh atau membunuh orang lain yang juga masih tidak bisa dijamin pasti berhasil.

Lalu mendadak ada semacam big-bang melahirkan apa yang disebut sebagai teori kuantum yang menurut ensiklopedia Brittanica bermakna sebagai berikut,

“Where did quantum theory come from? It started not as a crazy idea, but with a light bulb. In the early 1890s, the German Bureau of Standards asked Max Planck how to make light bulbs more efficient, so that they would give out the maximum light for the least electrical power.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

The first task Planck faced was to predict how much light a hot filament gives off. He knew that light consists of electromagnetic waves with different colors of light carried by different frequency waves.

The problem was to ensure that as much light as possible was given off by visible waves, rather than ultraviolet or infrared. He tried to work out how much light of each color a hot object emits, but his predictions based on electromagnetic theory kept disagreeing with experiments.

Instead, in what he later called an act of despair, he threw the existing theory out the window and worked backwards from experimental measurements.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.