Kompas.com - 12/09/2021, 18:45 WIB
Ilustrasi vaksin mRNA. Vaksin Pfizer dan Moderna mulai digunakan di Indonesia. Perbedaan kedua vaksin mRNA ini, dari tingkat efikasi vaksin, kandungan vaksin Covid-19, hingga suhu penyimpanan. SHUTTERSTOCK/Daniel ChetroniIlustrasi vaksin mRNA. Vaksin Pfizer dan Moderna mulai digunakan di Indonesia. Perbedaan kedua vaksin mRNA ini, dari tingkat efikasi vaksin, kandungan vaksin Covid-19, hingga suhu penyimpanan.

KOMPAS.com- Setahun lalu, berbagai negara di dunia bersatu untuk mendukung sebuah inisiatif multilateral untuk distribusi skema Covid-19 Vaccines Global Acces (Covax).

Covax menjamin pembiayaan, mengadakan negosiasi dengan pengembang dan produsen vaksin, serta mengatasi hal teknis dan operasional terkait dengan program vaksinasi terbesar dan paling kompleks dalam sejarah.

Kendati demikian, hingga kini masih banyak negara miskin masih mengalami kendala ketika menerima vaksin dari skema Covax.

Mulai dari distribusi tidak merata, tempat penyimpanan vaksin, dan infrastruktur kesehatan yang diperlukan untuk mendistribusikannya.

Baca juga: Daftar Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia dan Efikasinya

Distribusi tidak merata

Melansir Time, Kamis (9/9/2021), Kepala Unit Program Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Imunisasi, Ann Lindstrand, berpendapat, meski skema Covax membawa dampak positif ke depan, tetapi ia kecewa terhadap distribusinya.

“Pada akhirnya, Covax akan membuktikan dirinya sebagai mekanisme yang sangat penting untuk pemerataan global ketika kita memiliki ancaman bersama,” kata Lindstrand.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagian besar negara-negara terkaya di dunia ini membeli lebih dari cukup stok vaksin untuk populasi mereka. Akibatnya, banyak negara kaya mulai menyumbangkan dosis yang tidak dibutuhkan untuk Covax.

Misalnya, di Amerika Serikat (AS), sekitar setengah populasi sekarang divaksinasi sepenuhnya. Hal yang sama juga telah dicapai Inggris,.

Akan tetapi, negara dengan penghasilan rendah mengalami hal sebaliknya.

Para ahli memperkirakan perlu waktu hingga 2023 bagi banyak negara berpenghasilan rendah untuk memvaksinasi sebagian besar populasi mereka, bahkan dengan bantuan Covax.

Sementara itu, orang-orang sekarat, ekonomi negara tersebut terus merosot, belum lagi dihadapkan dengan virus yang terus bermutasi.

Model pendanaan

Model pendanaan Covax terbilang cukup rumit. Namun, secara garis besar, negara-negara kaya akan membeli setidaknya beberapa vaksin melalui fasilitas Covax.

Bahkan, jika mereka juga menandatangani kesepakatan tersendiri dengan produsen vaksin.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.