Kompas.com - 05/09/2021, 12:30 WIB
Tangkapan layar unggahan yang menyebut adanya telepon menanyakan vaksinasi dengan modus blokir nomor ponsel dan penipuan PayMe. FacebookTangkapan layar unggahan yang menyebut adanya telepon menanyakan vaksinasi dengan modus blokir nomor ponsel dan penipuan PayMe.
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta
hoaks

hoaks!

Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh ini, informasi ini tidak benar.

KOMPAS.com - Sebuah unggahan berisi informasi yang menyebut seseorang ditelepon dari orang tak dikenal dan menanyakan soal status vaksinasi, beredar di media sosial facebook. 

Apabila penerima telepon menjawab pertanyaan penelepon maka ponsel akan terblokir dan akun perbankan online akan mentransfer dana atau menguras saldo pemilik telepon. 

Dari penelusuran Kompas.com, informasi tersebut tidak benar atau hoaks. 

Pihak Pemerintah, institusi resmi, atau Kemenkes tidak menanyakan status vaksinasi masyarakat. 

Sementara pengamat telekomunikasi memastikan, menekan angka 1 atau 2 saat dihubungi seseorang tidak membuat rekening saldo atau dana penerima telepon hilang. 

Narasi yang beredar

Unggahan mengenai informasi soal panggilan telepon menanyakan status vaksinasi yang dapat menguras saldo penerima telepon beredar di sejumlah akun Facebook. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satunya diunggah oleh akun ini, pada 30 Agustus 2021. 

Berikut narasi selengkapnya: 

"Baru saja, teman saya *menerima telepon* untuk menanyakan apakah dia telah divaksinasi.
Jika dia sudah divaksin, tekan 1.
Jika dia belum divaksinasi, tekan 2.
*Akibatnya, dia menekan 1*
*Ponsel diblokir, dan informasi PayMe dan perbankan online* yang sering digunakannya ditransfer.
Semua Orang Perhatian~ Cepat dan teruskan ke lebih banyak orang!
*Penipuan gaya baru*."

Hoaksscreenshoot Hoaks

Hingga Sabtu (4/9/2021), unggahan itu sudah di-respons sebanyak 26 kali dan dibagikan sebanyak 3 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

Konfirmasi Kompas.com

Mengenai informasi yang beredar tersebut, juru bicara vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa pesan terkait panggilan telepon soal vaksinasi adalah hoaks atau tidak benar. 

Dikutip dari RRI, Nadia memastikan, lembaga resmi Pemerintah Indonesia tidak pernah melakukan panggilan menanyakan status vaksinasi warga. 

Nadia menjelaskan setelah melakukan vaksinasi, masyarakat akan mendapatkan sertifikat vaksin resmi dari pemerintah.

Sertifikat tersebut dapat diakses melalui aplikasi dan situs PeduliLindungi. Kemenkes RI juga tidak pernah menanyakan apakah seseorang sudah divaksin melalui panggilan telepon.

Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tuhas Covid-19 RS UNS, dr Tonang Dwi Ardyanto mengatakan bahwa pesan tersebut adalah informasi yang keliru atau hoaks.

"Iya, itu hoaks, sudah jelas ya," ujar Tonang saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/9/2021).

Ia menjelaskan, Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah memiliki data warga mana saja yang sudah melakukan vaksinasi dan yang belum divaksinasi.

"Satgas tentu sudah punya datanya dari data pemberian vaksinasi," lanjut dia.

Mustahil menguras saldo rekening

Di sisi lain, pemerhati keamanan siber, Yerry Niko Borang mengatakan, tindakan menekan tombol "1" dan "2" untuk melakukan penipuan saat panggilan sedang berlangsung tidak mungkin terjadi.

"Mustahil terjadi aplikasi perbankan bisa dikuras hanya dengan menekan nomor 1," ujar Yerry saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (4/9/2021).

Menurut Yerry, aplikasi perbankan memakai otorisasi berlapis.

Selain itu, biasanya model yang menekan tombol 1 dan 2 ini pilihan eksekusinya berada di pihak penelepon bukan di pihak konsumen.

"Saya rasa ini hoaks. Kode 1 atau tombol 1 di ponsel tidak memiliki implikasi eksekusi perintah tertentu, kecuali sebelum sudah mengklik link tertentu atau link lewat aplikasi tertentu," lanjut dia.

Yerry mengungkapkan, cara tersebut juga berbeda dengan metode pengecekan kuota pada ponsel.

Sebab, cek kuota atau cek pulsa pun yang dieksekusi dari pihak operator bukan dari pihak konsumen.

Ia menjelaskan, saat konsumen memilih nomor 1, eksekusi di mesin komputer operator menerima dan membuka database di sana, kemudian data tersebut dikirim ke konsumen.

"Dari kita tidak bisa diambil kecuali kita yang kirim, juga jelas password akan lebih dari angka 1," ujar Yerry.

Kesimpulan

Informasi soal pesan berantai yang menanyakan status vaksinasi dan dapat membuat ponsel serta rekening penerima panggilan terblokir dan saldo hilang adalah hoaks. 

Pihak Pemerintah, institusi resmi, atau Kemenkes tidak pernah menanyakan status vaksinasi masyarakat.

Pengamat telekomunikasi juga memastikan, menekan angka 1 atau 2 saat dihubungi seseorang tidak membuat rekening saldo atau dana penerima telepon hilang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.