Ren Muhammad

Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif.

Kesadaran Niskala lan Nirtresna

Kompas.com - 30/08/2021, 15:46 WIB
Ilustrasi waktu Shutterstock/andrey_lIlustrasi waktu

AWIGHNAMASTU. Semoga kita selamat sejahtera. Sehat sentosa. Cergas bregas waras trengginas. Senantiasa. Mugiya berbahagia seluruh makhluk di Bumi.

Risalah ini ditulis khusus untuk para sedulur sedaya—yang telah mewarnai kehidupan ini sejak mula sampai akhirnya nanti. Entah kapan.

Tapi yang jelas, manakala kita terlahir ke bumi ini, sejarah telah menggurat jalan ceritanya bagi semua manusia. Sedemikian rupa indah misterinya.

Di antara kita, ada satu hal yang tak mungkin terlampaui oleh satu sama lain, yaitu usia. Dalam perjalanannya, terkandung serbaneka kisah yang selalu ingin kita singkap rahasia-maknanya.

Itulah kenapa sebagian besar jula-juli cerita yang kita alami, dapat dingat dengan baik—bahkan dalam skala rinci.

Sebab ke mana pun tujuan pergi, kau sedang melangkah ke haribaan diri sejati. Siapa sahaja yang kautemui, sesungguhnya engkau hanya bertemu diri sendiri nan purbani.

Nafas kehidupan berhembus dari kedalaman rahasia perjumpaan kita dengan Keagungan Cahaya Kebenaran.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kenapa bisa begitu?

Karena kita menghayatinya dengan segenap kesadaran diri. Pun, sejatinya kita tak tahu apa yang disembunyikan Tuhan setelah ini bagi kita semua. Namun ketika menjalaninya, kita tak butuh paksaan dari siapa pun.

Aku pribadilah yang mau dan berkenan melaluinya. Menikmati pedih-perihnya. Harsanya. Susah senang bahagianya. Tak ada yang sungguh benar bisa mengerti itu, selain aku. Pun begitu kiranya dengan hidupmu.

Sering kali kita abai pada momen terbaik dalam hidup, lantaran ingin mencari yang lebih baik. Jika kau merasa kehilangan, sejatinya hidup sedang mengajarimu betapa segala sesuatu yang datang padamu adalah Gusti Pangeran. Bukan tuk dimiliki, melainkan disyukuri lan diagungkan.

Jadi, berhentilah sudah menilai apa pun yang terjadi pada orang lain, kendati yang kaulihat itu mengganggu pandangan, pikiran, dan rasamu sendiri.

Biarkan saja itu jadi fenomena di luar dirimu, yang melintas begitu saja bak kilatan kamera foto—yang kelak merekamnya jadi kenangan. Hidup kita memang saling beririsan. Tapi bukan berarti bersinggungan. Kau-aku jadi kita. Meski bersatu, kita tetap terpisah.

Sadarkah engkau betapa ada yang salah dalam laku beragama orang-orang pada zaman kiwari ini? Semua nabi, santo, wali, orang yang disucikan itu, sejatinya muncul di tengah kebobrokan moral umat manusia di sekitarnya.

Misi kemanusiaan yang mereka emban, kelak dinamai agama oleh pengikut yang datang setelahnya.

Sementara mereka, hanya sedang menjalani laku hidupnya yang sesuai dengan zaman. Itulah kami kira yang jadi biang keladi prahara manusia abad ini.

Melintasi masa

Sejak melintasi beragam masa, kini, kita yang adalah Homo sapiens tiba pada Era Antroposen. Istilah ini berasal dari kata anthropo yang berarti “manusia” dan cene yang berarti “baru”.

Kata ini menjadi populer ketika ahli kimia yang sekaligus peraih Nobel Kimia, Paul Crutzen, dan spesialis ilmu kelautan, Eugene F. Stoermer, menerbitkan pernyataan singkat pada 2000, yang menyatakan bahwa era ini ditandai dengan “semakin meningkatnya dampak aktivitas manusia pada bumi dan atmosfer...”

Jikalau menilik argumen Crutzen dan Stoermer, maka era Antroposen sekaligus
mengakhiri era Holosen yang dimulai 11.700 tahun lalu.

Dalam jurnal Nature (2002), Crutzen menyatakan bahwa Antroposen telah dimulai pada akhir abad ke-18. Hal tersebut ditandai peningkatan metana dan konsentrasi karbondioksida secara global.

Era Antroposen dipahami dengan kemunculan manusia sebagai kekuatan geofisik global sejak awal 1800, ketika industrialisasi mulai berkembang dengan memanfaatkan bahan bakar fosil.

Indikator era ini adalah konsentrasi karbondioksida yang semakin meningkat. Sejak 1950, konsentrasi karbondioksida di atmosfer meningkat dari 310 ppm hingga menjadi 380 ppm (Steffen, Crutzen, McNeill, 2007).

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.