Taufan Teguh Akbari
Pengamat Kepemimpinan dan Kepemudaan

Pengamat dan praktisi kepemudaan, komunikasi, kepemimpinan & komunitas. Saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor 3 IKB LSPR, Chairman Millennial Berdaya Nusantara Foundation (Rumah Millennials), Pengurus Pusat Indonesia Forum & Konsultan SSS Communications.

Perkenalkan, “Leaducation”, Konsep Kepemimpinan Jitu Masa Kini

Kompas.com - 27/08/2021, 12:23 WIB
Ilustrasi. PIXABAY/ GRAPHIC MAMA TEAMIlustrasi.

The Best Leaders Are Great Teachers – Sydney Finkelstein

KATA kunci dari tantangan zaman ini adalah pemimpin. Dibutuhkan sosok pemimpin yang berperan lebih krusial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Satu setengah tahun lalu, pandemi menyerang dan banyak yang menyoroti bagaimana peran pemimpin dalam menavigasikan perubahan atau setidaknya bertahan di kondisi yang sekarang.

Perjuangannya berat dan pemimpin harus beradaptasi dengan berbagai situasi dan ketidakpastiaan.

Kini dunia perlahan kembali menata dan berangsur-angsur membaik. Vaksin terus didistribusikan, bisnis mulai bangkit perlahan, dan organisasi kembali menata kebijakannya.

Satu tahun setengah telah dilalui dengan begitu banyak tantangan, baik fisik maupun mental. Awalnya, pemimpin fokus untuk bertahan, sekarang kita fokus bagaimana membentuk generasi masa depan yang unggul dan punya daya juang tinggi.

Di sini peran pemimpin sesungguhnya, bagaimana mereka turun untuk melakukan kaderisasi terhadap anggotanya, baik itu di perusahaan, organisasi, dan pemerintahan.

Pemimpin tidak hanya dituntut untuk mampu mengubah keadaan, tapi juga mendidik anggotanya untuk menjadi lebih berdaya, berkarya, dan bermakna bagi sekitarnya.

Leaducation adalah istilah yang tepat bagi peran pemimpin saat ini dalam mempersiapkan masa depan.

Memimpin bukan hanya perkara memastikan proses administrasi berjalan sesuai arahan. Tidak hanya mengendalikan sumber daya dan aset organisasi semata. Namun harus memastikan semua itu dijalankan dengan kualitas talenta organisasi yang berkualitas dan mumpuni.

Hal ini bisa terwujud manakala para pemimpin dalam organisasi paham betul bahwa pertumbuhan berbanding lurus dengan pengetahuan.

Talenta organisasi yang berpengetahuan memiliki kompetensi intelektual yang relevan dengan kondisi masa kini. Situasi ini hanya bisa terwujud apabila pemimpin juga berperan sebagai pendidik bagi pengikutnya.

Pendekatan konsep leaducation

Leaducation merupakan konsep kepemimpinan dalam organisasi yang mengedepankan pendidikan, pendampingan, bimbingan dan pengembangan talenta dalam organisasi atau perusahaan.

Konsep kepemimpinan yang memberikan pengaruh dengan mendidik, menciptakan ruang tumbuh berkembang bagi pengikut dan membangun mental learning organization bagi perusahaannya.

Talenta yang berkualitas dapat terus dipertahankan ketika pemimpin dalam organisasi dapat terus membawa kebaruan dan memastikan semua beradaptasi dengan baik.

Konsep leaducation berasal dari dua suku kata, pemimpin dan pendidikan. Istilah pendidikan berasal dari kata “didik”. Ditambahkan awalan “pe” dan akhiran “kan”, maka mereka menjadi sebuah aktivitas.

Awalnya, pendidikan berasal dari kata Yunani, yakni paedagogie. Artinya,  bimbingan yang diberikan kepada anak. Sedangkan pemimpin artinya orang yang memimpin.

Apabila kita terjemahkan dua kata ini ke dalam konsep, leaducation berarti konsep kepemimpinan yang mengedepankan aspek pendidikan kepada para peserta didik dan pengikut untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Pendidikan di sini bukan pendidikan dalam kelas, melainkan universitas kehidupan. Bagaimana pemimpin mendorong anggotanya untuk berkembang, mengajarkan apa yang penting dan tidak penting, dan tentunya memberikan contoh kepada anggotanya tentang nilai dan norma.

Aktornya disebut dengan leaducator yang merupakan gabungan dari kata pemimpin dan pendidik. Dua kata ini memang memiliki aktivitas yang berbeda, tetapi terdapat irisan antara keduanya.

Irisan pertama adalah bahwa mereka sama-sama punya follower. Pendidik memiliki murid, pemimpin punya anggota tim.

Jadi, baik pemimpin dan pendidik punya pengikut yang diurus dan harus diberdayakan serta dikembangkan.

Kedua, baik pemimpin dan pendidik berperan sebagai gerbang pengetahuan. Mereka sama-sama menyalurkan pengetahuannya atau transfer knowledge ke anggotanya, meski caranya pasti berbeda antara pendidik dan pimpinan.

Ketiga, pendidik dan pemimpin memiliki tujuan yang sama, yakni memberdayakan anggotanya dalam proses regenerasi yang efektif.

Pendidik ingin agar muridnya bisa melebihi dirinya, sedangkan pemimpin menginginkan anggotanya untuk terus berkembang, menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Mengembangkan pengikutnya menjadi tujuan penting bagi pendidik maupun pemimpin.

Terakhir, pemimpin dan pendidik memiliki panduan yang membantu mengarahkan mereka mencapai tujuannya.

Pendidik mengajar dengan pedoman kurikulum dan tujuan pembelajaran, sedangkan pemimpin memiliki petunjuk pekerjaan berupa SOP, KPI, SQO dan sebagainya yang harus dipenuhi target pencapaiannya. Mereka pun punya koridor etika profesional yang harus dipatuhi.

Dari irisan tersebut, konsep leaducation pada intinya adalah bagaimana pemimpin mendidik, memberdayakan, dan membuat anggotanya bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, kompeten, dan unggul.

Pemimpin mendorong anggotanya untuk berdaya, berkarya, dan bermakna serta mendukung kreativitas serta karya anggotanya. Pemimpin harus senantiasa memiliki banyak cara untuk mendistribusikan pengetahuan, baik itu sifatnya praktis maupun filosofis.

Leaducator adalah seorang pemimpin yang tidak pelit ilmu dan bersifat inklusif, partisipatif, serta kolaboratif. Mereka adalah katalis dalam perkembangan anggota di dalam organisasi.

Konsep ini relevan untuk dipahami dalam konteks saat ini terutama melihat adanya fokus dari perusahaan, organisasi, dan pemerintahan untuk mengembangkan talenta sumber daya manusianya.

Siapa lagi sosok yang mampu mengembangkan sumber daya manusianya selain dari pemimpin itu sendiri baik dari segi kebijakan pengembangan SDM maupun dari contoh perilaku dan sikapnya.

Leaducator, gaya pemimpin masa kini

Leaducator bisa sosok pemimpin dari mana saja, tidak terpaku pada jabatan pimpinan. Jabatan tinggi seperti director atau CEO pun belum tentu mencerminkan sikap sebagai seorang pemimpin yang mendidik bawahannya.

Sebaliknya, jabatan seperti manajer atau pemimpin operasional lapangan justru dapat menjadi sosok leaducator bagi timnya.

Setidaknya, terdapat lima ciri bahwa pemimpin menjalankan peran sebagai leaducator.

Pertama, ia memberikan kesempatan kepada pengikut atau anggota tim untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan secara berkala. Ini terkait dengan purpose karyawan ketika dia melakukan pekerjaan.

Survei McKinsey 2021 mengatakan bahwa 70 persen karyawan mendefinisikan life purpose mereka melalui tempat kerja.

Selain itu, dalam riset PwC 2021, 60 persen khawatir jika automasi akan menggantikan pekerjaannya dan 39 persen mengungkapkan bahwa pekerjaan mereka akan menjadi tidak berguna.

Itu artinya, peran leaducator di sini akan terlihat ketika mereka menjawab kegelisahan anggotanya dengan memberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Menghidupkan wacana dengan keteladanan dalam berkarya adalah ciri kedua dari seorang leaducator. Sederhananya, leaducator merupakan seseorang yang walk the talk.

Kerja dulu, tunjukan hasil lalu perkuat dengan retorika. Bukan sebaliknya, retorika tapi minim performa dan hasil kerja.

Salah satu cara ampuh mendidik tim yang begitu beragam dan multi kompetensi saat ini adalah dengan cara memberi contoh, membuka akses, memberi ruang tumbuh dan menunjukkan keteladanan.

Ketika mereka menginginkan anggotanya untuk mengikutinya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memulai dan memberi contoh dari dirinya sendiri.

Pemimpin seperti ini pun sudah terlihat dalam diri Wahyudi Anggoro Hadi, yang menjadi seorang lurah desa Panggungharjo periode 2012-2018.

Dia rela datang lebih awal dan ikut membersihkan toilet agar bisa membuat perangkat desa lebih disiplin dan bekerja lebih cepat.

Ketika pemimpin memberikan contoh yang baik, semangatnya lambat laun akan menular ke seluruh anggotanya, dari yang teratas hingga terbawah.

Ciri ketiga, leaducator mengarahkan karyawannya untuk mengerjakan tantangan yang berbeda. Tujuan sebenarnya adalah membentuk karyawan menjadi lebih adaptif terhadap berbagai situasi.

Terlebih, salah satu kemampuan yang paling dibutuhkan dalam abad-21 adalah kemampuan beradaptasi. Dan juga, aspek ini penting untuk menjaga anggotanya tetap relevan dengan situasi zaman yang semakin tak menentu seperti saat ini.

Keempat, aspek komunikasi. Leaducator bersedia memonitor, mengevalusasi, dan memberikan umpan balik kepada tim secara berkala. Hal ini memang diinginkan oleh karyawan itu sendiri.

Selain itu, berdasarkan riset dari Jack Zenger dan Joseph Folkman pada 2013 lalu dan masih relevan hingga sekarang, pemimpin yang sering menanyakan feedback kepada anggotanya menunjukkan kepemimpinan yang efektif sebesar 86 persen.

Banyak feedback berarti adanya interaksi yang intens antara karyawan dan pemimpin. Hal itu tentu memengaruhi hubungan antar-kedua belah pihak dan membuat karyawan dan pemimpin merasa lebih dekat dan tidak ada jarak yang dibuat.

Implikasinya, karyawan semakin produktif dalam bekerja.

Terakhir dan yang paling penting adalah leaducator memiliki visi dan misi yang jelas dan jauh ke depan. Tanpa visi dan misi yang jelas, pemimpin tidak akan tahu bagaimana arah tujuan organisasinya.

Hal ini berimbas pada pemberdayaan anggotanya. Pemimpin tanpa visi tidak akan tahu apa yang harus dikembangkan dari anggotanya.

Survey dari McKinsey terhadap 1.000 karyawan di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa 82 persen menganggap misi organisasi penting.

Tetapi, mereka menggarisbawahi bahwa hanya 42 persen visi dan misi perusahaan yang memiliki dampak yang besar.

Dari riset ini, kita bisa mengetahui bahwa leaducator termasuk 42 persen karena mereka menggangap visi dan misi sangat penting untuk organisasi,

Kelima ciri tersebut tidak mutlak memang, tetapi jika dikaitkan dengan konteks tantangan zaman, ciri itu menjadi relevan.

Pemimpin saat ini dan ke depannya memang perlu untuk lebih inklusif, partisipatif, dan kolaboratif agar situasi hubungan kerja kondusif.

Terlebih, dengan perubahan demografi anggota dan perkembangan teknologi saat ini yang membuat leaders tidak bisa mengandalkan diri mereka sendiri dan merasa pintar.

Menciptakan budaya memberdayakan dan mendidik dengan kemajuan

Leaducator punya cara untuk mendidik anggotanya menjadi lebih maju. Tentu, setiap leaducator di organisasi, perusahaan, dan lembaga pemerintah punya karakteristik yang berbeda dalam memberdayakan serta mendidik kemajuan.

Akan tetapi, satu cara yang bisa diterapkan oleh semua entitas ini adalah memberdayakan dengan budaya dan pola pikir. Maksudnya, memberdayakan anggota tidak bisa dilakukan tanpa budaya dan pola pikir yang tepat.

Dua hal ini yang menjadi fondasi bagaimana leaducator memberdayakan anggotanya.

Survei dari PwC 2021 menunjukkan betapa pentingnya budaya. Mereka mengungkapkan bahwa budaya adalah sumber dari keuntungan komparatif, yakni sebesar 81 persen.

Bahkan, 85 persen mengatakan bahwa budaya menjadi topik penting dalam agenda kepemimpinan.

Dari sini kita bisa menggarisbawahi betapa pentingnya budaya dalam menghadirkan seorang leaducator di organisasinya. Budaya yang baik akan menghasilkan sebuah koneksi yang membuat semua orang nyaman untuk bekerja dan berkarya.

Dan memang, berdasarkan survei dari Community Health Group (CHG) Healthcare terhadap 800 pekerja di AS, pemimpin memang punya peran menciptakan budaya.

Sebesar 33 persen mengatakan bahwa manajer bertanggung jawab pada budaya kerja, 28 persen menganggap tim eksekutif yang bertanggung jawab, 23 persen menganggap CEO yang harusnya bisa membuat budaya kerja yang baik.

Akan tetapi, terlepas dari apapun jenjang jabatannya, pemimpinlah yang bertanggung jawab menciptakan budaya.

Menciptakan budaya agar mampu mendidik anggotanya untuk berkembang menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Anggota membutuhkan pemimpin yang mengayomi dan memberikan feedback kepada mereka yang ingin berkembang.

Berdasarkan survey Gallup 2015 lalu, 54 persen karyawan mengatakan bahwa manajernya mudah didekati dan ditanyai segala tipe pertanyaan. Memberdayakan anggota selalu diawali dari keterbukaan pemimpinnya.

Leaducator adalah orang yang terbuka dan ingin membina hubungan komunikasi yang bermakna kepada anggotanya. Leaducator ada ketika mereka bisa menciptakan suasana kerja yang dinamis dan terbuka.

Ada survei menarik juga dari IBM tahun 2021 tentang bagaimana leaducator mulai menciptakan budaya dalam organisasinya.

Berdasarkan survei mereka, 56 persen CEO mengatakan bahwa mereka sedang meningkatkan kelincahan dan fleksibilitas dalam operasional.

Bila diterjemahkan, CEO sekarang berproses membuat sebuah budaya yang membuat iklim kerja mereka fleksibel sehingga bisa adaptif terhadap berbagai keadaan.

Leaducator sadar betapa pentingnya fleksibilitas dalam bekerja karena kemampuan itulah yang akan membantu organisasi maju lebih pesat.

Menghadirkan leaducator di segala sektor

Pemimpin yang memberdayakan anggotanya membuat segala lini organisasi menjadi lebih lincah dan adaptif. Terlebih, dengan teknologi sebagai katalis, leaducator harus mendorong anggotanya agar tetap relevan tidak termakan zaman.

Leaducator harus dihadirkan di segala sektor mengingat betapa penting peran mereka. Tetapi, tidak semua orang mampu menjadi seorang leaducator.

Leaducator tidak bicara hanya pada satu aspek saja, melainkan banyak aspek. Karena manusia terdiri dari banyak aspek, mulai dari kecerdasan, kemanusiaan, kepercayaan, dan lain sebagainya.

Sun Tzu dalam bukunya The Art of War mengatakan bahwa kepemimpinan adalah masalah kecerdasan, kepercayaan, kemanusiaan, keberanian, dan disiplin. Berarti, kita melihat ada lima aspek fundamental yang harus dimiliki seorang leaducator.

Jia Lin, seorang cendekiawan pada masa Dinasti Tang melengkapi pernyataan Sun Tzu. Dia mengatakan bahwa mengandalkan salah satu aspek saja hanya akan membawa masalah: kecerdasan saja menghasilkan pemberontakan, mengandalkan kemanusiaan saja akan terlihat lemah, terlalu percaya bisa menyebabkan kebodohan, ketergantungan akan keberanian hanya akan menghasilkan kekerasan, dan disiplin yang berlebih akan memunculkan kekejaman.

Artinya, leaducator merupakan seorang sosok pemimpin yang telah mampu menyeimbangkan lima aspek fundamental di atas. Mereka cerdas, humanis, disiplin, memberikan kepercayaan, dan berani mengambil keputusan.

Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan kapasitas anggotanya agar di antara banyak anggota, ada beberapa yang muncul sebagai sosok leaducator.

Leaducator memimpin dengan pola mendidik yang tidak hanya dengan wacana dan kata-kata, namun langkah nyata dari pemimpin untuk membuat semua hal dalam organisasi lebih baik, lebih cepat, lebih kuat, lebih mudah, lebih manusiawi, lebih efektif dan lebih efisien.

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.