Kompas.com - 26/08/2021, 11:07 WIB
Penyair Wiji Thukul Wijaya (33) Hariadi SaptonoPenyair Wiji Thukul Wijaya (33)

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

(Wiji Thukul, 1986)

KOMPAS.com - Hari ini 58 tahun lalu, tepatnya 26 Agustus 1963, aktivis dan seniman, Wiji Thukul, lahir di Solo.

Thukul menjadi simbol perlawanan dan korban pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) oleh rezim Orde Baru.

Melansir Harian Kompas, 1 Juli 1996, Thukul merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang hidup dalam lingkungan tukang becak dan keluarga buruh.

Pendidikannya hanya sampai kelas 2 Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Jurusan Tari, Solo.  

Hobi membaca buku dan berpuisi, sudah muncul saat Wiji Thukul duduk di SD Kanisius Sorogenen Solo. Di SMPN III Solo, ia bergabung dalam grup teater, dan aktif menghadiri diskusi dan pergelaran seni.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejak itu, cita-cita menjadi seniman makin bulat. Ia kemudian aktif berkesenian dan bergabung dengan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker).

Baca juga: Mengenang Wiji Thukul, Aktivis yang Bersuara dengan Puisi-puisinya

Penyair dan seniman

Nama Wiji Thukul pun mulai populer sebagai penyair dan seniman.

Ia dikenal di kalangan seniman dan kelas menengah mahasiswa, serta aparat keamanan. 

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.