Kompas.com - 18/08/2021, 06:40 WIB
Suasana saat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi Nomor 5, Jakarta Pusat) pada 17 Agustus 1945. Arsip ANRISuasana saat pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi Nomor 5, Jakarta Pusat) pada 17 Agustus 1945.

DIRGAHAYU Republik Indonesia! Saat memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 RI, pasti akan teringat founding fathers dan Pahlawan Proklamator Sukarno dan Mohammad Hatta. Kedua tokoh bangsa yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia.

Saya jadi teringat sekitar tahun 2012, saya (dan Patricius Cahanar) berkunjung ke Yayasan Bung Karno yang berkantor di Gedung Pola Lantai 3 (sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan) di Jalan Proklamasi 56, Jakarta.

Sekadar mengulang, Gedung Pola adalah gedung yang dibangun semasa pemerintahan Presiden Sukarno. Gedung ini dibangun di halaman belakang rumah milik Sukarno (Bung Karno) di Jalan Pegangsaan Timur 56. Sedangkan Gedung Proklamasi yang asli sekaligus bersejarah telah punah dibongkar.

Beberapa puluh meter dari Gedung Pola ada Tugu Petir yang merupakan titik sejarah tempat dibacakannya teks Proklamasi. Kemudian Monumen Proklamasi yang berada paling depan. Tak jauh dari situ ada Tugu Peringatan Satu Tahun Proklamasi yang sempat dibongkar kemudian dibangun kembali.

Kedatangan kami diterima dengan baik oleh beberapa pengurus dari Yayasan Bung Karno (mohon maaf saya lupa nama Bapak yang menemui kami). Tujuan kami pada saat itu hunting buku-buku karya Sukarno untuk kami terbitkan ulang.

Tetapi ternyata pihak Yayasan Bung Karno sudah memiliki agenda menerbitkan sendiri buku-buku karya Sukarno, misalnya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Dibawah Bendera Revolusi, dan lainnya.

Pada saat yang sama kami diputarkan beberapa film dokumenter pidato Bung Karno. Cerita punya cerita, pihak Yayasan kemudian bercerita tentang penulisan ejaan nama Bung Karno yang hingga saat ini tidak seragam. Ada yang menuliskan Soekarno, ada juga yang menuliskan Sukarno, baik di media cetak/online maupun buku cetak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pihak Yayasan bercerita bahwa penggantian ejaan Soekarno menjadi Sukarno memang keinginan Bung Karno sendiri. Ini tertulis dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adam.

Di dalam buku itu tertulis: “Namaku hanya Sukarno saja. Waktu di sekolah, tanda tanganku dieja Soekarno--menurut ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, aku memerintahkan supaya segala ejaan /oe/ kembali ke /u/. Ejaan dari perkataan Soekarno sekarang menjadi Sukarno.”

Sekadar mengingat, tahun 1947, Menteri Pengajaran RM Suwandi mengganti ejaan Van Ophuijsen yang sudah digunakan sejak 1901 menjadi Ejaan Suwandi yang berlaku pada 17 Maret 1947. Contoh Ejaan Suwandi adalah huruf /oe/ berubah menjadi /u/, /dj/ berubah menjadi /j/, /tj/ menjadi /c/, dsb. Kemudian Ejaan Suwandi ini menjadi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) hingga sekarang ini.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.