Dipeluk oleh Negeri di Atas Awan di Gunung Batur

Kompas.com - 04/08/2021, 07:32 WIB
Pemandangan Gunung Batur dari kejauhan. Pemandangan Gunung Batur dari kejauhan.

Pertengahan Mei 2021, saya masih melanjutkan perjalanan di Bali. Tidak ada rencana yang dibuat. Tidak ada jadwal tetap. Ke mana hati mengarah, ke sana kaki melangkah.

Setelah tenggelam dalam pesona alam dan budaya Ubud, Bali, saya memilih untuk pergi ke gunung. Yang terdekat adalah Gunung Batur, Kintamani, Bali.

Di hati saya, gunung selalu memiliki tempat yang istimewa. Di sekitar, atau di puncak, gunung, saya selalu merasa damai, dan menyatu dengan segala yang ada.

Saya memutuskan untuk berangkat jam 6 pagi. Perjalanan antara Ubud ke Gunung Batur ditemani cuaca dingin yang menusuk tulang.

Jaket saya kurang tebal untuk perjalanan semacam ini. Alhasil, setiap beberapa kilometer, saya berhenti di pinggir jalan.

Sambil berhenti, saya menikmati keadaan. Saya menghirup udara segar dingin dalam-dalam.

Mata saya dipenuhi nuansa Bunga Jepun di setiap jengkal Bali. Pagar-pagar khas Bali juga terbentang sepanjang mata memandang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saya sungguh menikmati keunikan arsitektur Bali semacam itu. Berbeda dengan Jakarta, yang sudah tercabut dari rasa khas Indonesia, masyarakat Bali memang sungguh bangga atas budayanya.

Mereka memeliharanya secara sungguh-sungguh. Budaya yang sama pula yang menjadi inspirasi keindahan bagi seluruh dunia.

Satu hal yang menarik, perjalanan lancar sekali. Mungkin, karena hari masih pagi, sehingga jalanan sepi.

Mungkin juga, karena pandemi, masyarakat membatasi banyak kegiatan. Yang jelas, untuk saya, perjalanan pagi itu sangatlah menyenangkan.

Tak lama, saya memasuki Jalan Raya Penelokan. Matahari baru saja terbit.

Saya memilih jalan turun ke Danau Batur. Ah, pemandangannya luar biasa. Saya pun tercengang.

Spontan, saya berhenti. Matahari berwarna keemasan.

Jalanan sepi dari lalu lalang. Udara dingin menusuk tulang.

Semua begitu cerah dan gemilang. Ini seperti di surga.

Perlahan, tetes air mata muncul. Saya menangis, tidak karena sedih, namun karena disentuh keindahan yang melampaui kata-kata.

Beginilah pesona negeri di atas awan. Tak ada kata yang mampu mengungkapkannya. Tak ada nada yang sangguh menuturkannya.

Di dalam keheningan dan keindahan, saya terdiam, dan meneteskan air mata dengan deras.

Disentuh keindahan itu seperti disentuh oleh Tuhan. Tak ada bahasa yang mampu menggambarkannya.

Dada meluap oleh rasa bahagia yang tak terkira. Ada rasa syukur yang tak terkatakan muncul di dada.

Alam adalah Tuhan. Begitu kiranya pandangan panteisme di dalam filsafat.

Banyak pemikir yang mengutarakannya. Berada bersama alam di dalam keseluruhannya berarti berada bersama Tuhan itu sendiri.

Alam pun bukan sesuatu yang tanpa arah dan tanpa pola. Alam punya hukum-hukumnya sendiri.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.