Cerita PCR Gratis di NTT

Kompas.com - 30/07/2021, 18:22 WIB
Tenaga kesehatan melakukan tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/7/2021). Dinas kesehatan Kota Manado meningkatkan testing dan tracing kasus COVID-19 selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bagi warga yang tergolong Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT), sebagai bagian dari upaya percepatan penemuan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 untuk menekan terjadinya kasus perburukan maupun kematian. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/rwa.

ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONOTenaga kesehatan melakukan tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/7/2021). Dinas kesehatan Kota Manado meningkatkan testing dan tracing kasus COVID-19 selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bagi warga yang tergolong Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT), sebagai bagian dari upaya percepatan penemuan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 untuk menekan terjadinya kasus perburukan maupun kematian. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/rwa.

SAHABAT saya yang pejuang kemanusiaan sepi pamrih ramai kerja, Dr Elcid Li dari Kupang melaporkan bahwa Juli 2021 merupakan bulan kedelapan para aktivis Forum Academia NTT berhasil mendirikan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT.

Laboratorium swadaya warga Kupang ini dipimpin oleh Dr Fima Inabuy, ilmuwan biomolekular lulusan universitas Washington State.

Gagasan membuat tes massal melalui pooled test berbasis PCR sudah hadir pada bulan Maret 2020 namun baru terwujud pada bulan Oktober 2020.

Itu pun akibat laskar Forum Academica NTT ngotot dan ada juga anak-anak muda NTT yang amat solid yang bersedia berjibaku bersama setiap hari,

Baca juga: Perdana, Tes Covid-19 Massal Bakal Digelar di NTT Pekan Ini

Tanda bahaya

Anak-anak muda ini bekerja dalam situasi emergency. Masuk jam 9 pagi, pulang kadang baru jam 2 pagi.

Tiga buah kasur disediakan di beberapa lorong agar mereka bisa rebahan jika tubuh sudah terlalu penat. Terutama sambil menunggu mesin PCR beroperasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Anak-anak muda ini berasal dari berbagai wilayah NTT seperti Manggarai, Ende, Waingapue, Anakalang, Lemata, Alor, Sabur, Rote dan Timor.

Beroperasi sejak Oktober 2020 tidak kurang 15.000 sampel sudah mereka periksa dengan ekstrasi manual.

Dengan tes massal ini sebenarnya mereka memberi isyarat tanda bahaya kepada pemerintah. Sejak akhir Mei mereka sudah berteriak agar pemerintah daerah segera mengetatkan pintu masuk.

Tetapi semua terpaku pada pemerintah pusat. Akibatnya waktu pun terbuang percuma.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.