Banyak Pasien Isoman Covid-19 Meninggal Dunia, Ini Saran Epidemiolog

Kompas.com - 29/07/2021, 19:30 WIB
Foto udara petugas pemulasaraan berada di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Berdasarkan data Worldometer, Indonesia resmi masuk empat besar kasus aktif COVID-19 terbanyak di seluruh dunia, pada Kamis (15/7/2021) kasus aktif di Indonesia mencapai 480.199 kasus, melampaui Rusia yang tercatat 457.250 kasus, Indonesia juga jauh melampaui India yang tercatat 432.011 kasus. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATFoto udara petugas pemulasaraan berada di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Berdasarkan data Worldometer, Indonesia resmi masuk empat besar kasus aktif COVID-19 terbanyak di seluruh dunia, pada Kamis (15/7/2021) kasus aktif di Indonesia mencapai 480.199 kasus, melampaui Rusia yang tercatat 457.250 kasus, Indonesia juga jauh melampaui India yang tercatat 432.011 kasus. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.

KOMPAS.com - Berdasarkan laporan koalisi warga LaporCovid-19 hingga 22 Juli 2021, sebanyak 2.313 pasien Covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Diberitakan Kompas.com, data analyst LaporCovid-19 Said Fariz Hibban mengatakan, angka tersebut merupakan hasil pendataan di semua provinsi di Indonesia, dengan DKI Jakarta sebagai daerah dengan angka tertinggi.

Di Jakarta, ada sekitar 1.214 kasus kematian pasien saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Provinsi lain yang memiliki banyak kasus kematian pasien isoman, yakni Jawa Barat (245 kasus), Jawa Tengah (141 kasus), DI Yogyakarta (134 kasus), Jawa Timur (72 kasus), dan Banten (58 kasus).

Baca juga: Pasien Isoman Meninggal di Jakpus Kebanyakan Tinggal di Wilayah Padat Penduduk

Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kematian pasien Covid-19 yang menjalani isoman?

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, kematian pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri karena kegagalan intervensi di hulu.

Minimnya 3T, visitasi tidak cukup, dan penemuan kasus dini yang tidak cukup dilakukan menjadi bukti kegagalan intervensi itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sehingga terjadi keterlambatan dalam menemukan kasus, merujuk kasus berat, memberikan perawatan dukungan atau terapi, ini yang berkontribusi pada kematian," kata Dicky kepada Kompas.com, Kamis (29/7/2021).

"Karena berbicara kematian, itu proses kronis 3 mingguan akibat kita gagal dalam intervensi di hulu," lanjut dia.

Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah memperkuat 3T dan terus memperluas visitasi untuk melihat penilaian risiko.

Saat visitasi, petugas harus melihat kelayakan tempat isolasi mandiri, serta akses terhadap obat dan kebutuhan sehari-hari, selain menemukan kasus baru.

Baca juga: Banyak Warga Isoman Meninggal, Dinkes Depok Singgung RS Penuh dan Curigai Varian Baru

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.