Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Viral Unggahan Kebocoran Data Berimbas Penipuan Pengiriman Barang, Apa yang Harus Dilakukan?

Kompas.com - 29/07/2021, 17:05 WIB
Retia Kartika Dewi,
Sari Hardiyanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Media sosial tengah diramaikan mengenai adanya warganet yang mengalami kebocoran data dan berimbas pada modus penipuan pengiriman barang.

Informasi ini dibagikan oleh akun Twitter @makmummasjid pada Rabu (28/7/2021).

"Kebocoran data di udah gila sih. jadi gue nga pernah daftar, bahkan gue aja nga tau apa itu gcp card. tiba-tiba dapet sms, dan hari ini dapet chat dari kurir. gue cek trackingannya beneran ada yg ngirim padahal tau aja kaga gue. buat yg dapet kasus serupa jangan pernah terima," tulis akun Twitter @makmummasjid.

Baca juga: Foto Viral Driver Gojek Sedang Cari Pesanan di Tumpukan Paket, Ini Penjelasannya...

Baca juga: Video Viral Paket Berserakan dan Disebut karena Mogok Karyawan, J&T Express: Bukan di Indonesia

Dalam twit, ia juga membubuhkan beberapa foto tangkapan layar yang menunjukkan pesan dari oknum tidak dikenal.

Ada juga pesan yang memberi tahu link, nomor resi pengiriman barang beserta nominal uang yang harus dibayarkan oleh korban, dan pelacakan paket.

Hingga Kamis (29/7/2021), twit itu sudah diretwit sebanyak 430 kali dan disukai sebanyak 454 kali oleh pengguna Twitter lainnya.

Baca juga: Truk Pengiriman JNE Terbakar di Lampung, Bagaimana Nasib Paket yang Dibawa?

Lantas, seperti apa cerita korban, modus penipuan yang dipergunakan dan cara mengatasinya?

Saat dikonfirmasi, pengunggah yakni blogger bernama Renne Nesa Ando menjelaskan, ia mendapatkan SMS berupa link dan pemberitahuan bahwa dirinya akan dikirimkan GCP card pada Selasa (27/7/2021).

"Kronologinya hari Selasa saya dapat SMS berupa link dan pemberitahuan kalau saya akan dikirimkan GCP card. Padahal saya sebelumnya enggak pernah tahu GCP card itu apa," ujar Renne saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/7/2021).

Pada Rabu (28/7/2021), Renne menyampaikan, ada kurur yang mengirim chat WhatsApp menanyakan RT dan RW rumahnya.

"Karena saya tidak pernah memesan, saya meminta untuk paket dikembalikan, tidak mau menerima paket," lanjut dia.

Baca juga: Viral Video Petugas Lempar Paket Kiriman Pelanggan, Ini Klarifikasi J&T

Selain itu, Renne juga mengatakan, kurir memberikan nomor resi yang bisa dilacak, namun nama pengirimnya tidak diketahui.

Ia mengaku, sampai saat ini tidak ada kabar dari kurir tersebut.

"Kalau dilihat dari chat-nya sih, dia (kurir) bingung karena alamat enggak lengkap, makanya nanya RT dan RW," sambung dia.

Baca juga: Simak, Ini Cara Aman Terima Paket Saat Pandemi Corona

Modus penipuan

Pemerhati keamanan siber, Yerry Niko Borang menyampaikan, modus penipuan yang digunakan seperti dalam unggahan tersebut diduga menggunakan kartu Global Crown Privilege (GCP).

Menurutnya, modus ini diiklankan di berbagai platform hiburan sebagai kartu yang berfungsi sebagai alat pembayaran.

"Biasanya kartu ini diiklankan atau disebut bisa dipakai bayar digerai manapun dengan diskon-diskon menarik," ujar Yerry saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/7/2021).

Yerry menjelaskan, tindakan itu merupakan kedok penipuan, karena kartu GCP ini sebenarnya tidak bisa dipergunakan.

Baca juga: Hati-hati Penipuan, Jangan Berikan Kode OTP kepada Siapa Pun!

Adapun korban bisa terjebak dengan modus ini dengan mengeklik tautan promo yang muncul di media sosial atau platform hiburan lain.

Terlebih jika korban masih login beberapa akun medsos di gawainya sembari mengeklik tautan promo tersebut.

"Sepertinya ada indikasi penipu mengsinkronisasi akun-akun sosial media dengan data pribadi yang bocor di online," kata Yerry.

"Sehingga penipu bisa dengan serta merta mengirim kartu ini ke alamat korban, meski korban tidak memasukkan alamatnya," lanjut dia.

Baca juga: Cara Dapatkan Paket Obat Covid-19 Gratis untuk Pasien Isolasi Mandiri

Langkah antisipasi jika menerima paket yang tidak dipesan

Sementara, beberapa korban mungkin mengaku tidak pernah mengeklik apa pun, dan tidak melihat promo yang dikirimkan penipu kepadanya.

Artinya, kartu ini dikirim asal saja ke alamat korban, dan memaksa penerima membayar uang kirim dalam jumlah tertentu.

"Ini tindakan murni penipuan sih jatuhnya," ujar Yerry.

Baca juga: Waspada Penipuan Minta Kode OTP Atasnamakan Shopee, Ini Penjelasannya

Lantaran modus ini sudah beredar di media sosial, Yerry mengimbau kepada masyarakat sebaiknya tidak menerima kartu atau paket yang kita yakin tidak pernah memesan barang apa pun.

Penjelasan ini juga penting disampaikan kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak sembarang menerima paket yang tidak dipesan oleh anggota keluarga lainnya.

"Karena bisa saja paket datang saat kita tidak di rumah. Dianjurkan untuk segera menolak paket seperti ini," ujar Yerry.

Baca juga: Ramai soal Penipuan COD di Medsos, Bagaimana Mengantisipasinya?

Selain itu, jika paket sudah datang dan dibawa oleh kurir, sebaiknya kita atau anggota keluarga yang menerima paket tidak membuka paket dan memilih untuk mengembalikan barang tersebut.

Alternatif lain bisa dengan menyampaikan bahwa barang tersebut salah alamat atau mengakui kalau kita tidak memesan barang itu.

"Model penipuannya kecil-kecil ongkir Rp 50.000, tapi jika dikalikan dengan ribuan orang korbannya maka besar juga ini," imbuh dia.

Baca juga: Alur Melaporkan Penipuan via SMS dan Telepon

Pemerintah diminta peduli dengan kebocoran data warganya

Selain itu, agar ponsel kita bisa bebas iklan atau mengantisipasi iklan nakal, Yerry menyarankan untuk tidak banyak instal software dan mengeklik promo iklan.

Sebab dengan mengeklik promo iklan, maka tindakan itu akan direkam dan menimbulkan iklan-iklain lain akan datang.

"Sebaiknya instal antivirus gratis di ponsel. Hal ini akan cukup ampuh menangkal iklan nakal. Misalnya saat kita mencari video dan tontonan gratis, antivirus setidaknya akan menjaga saat kita melakukan aktivitas yang rentan," kata Yerry.

Baca juga: Ramai soal Kebocoran Data, Ini 8 Layanan untuk Mengeceknya

Di sisi lain, Yerry juga berpesan kepada pemerintah dan lembaga konsumen agar lebih peduli terhadap kasus penerobosan dan pemakaian data pribadi.

Sebab, kasus-kasus yang terjadi belakangan ini sudah ditaraf yang memprihatinkan.

Bahkan, tanpa konsumen melakukan apa pun bisa terkena penipuan.

"Ini murni kejahatan data pribadi. Perlu dibongkar dan ditelusuri sebelum model ini semakin banyak dan kerusakan makin parah," imbuh dia.

Baca juga: Investigasi Kominfo, Penelusuran Jejak Digital, dan Dugaan Kebocoran Data Nasabah Asuransi BRI Life...

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cara Cek Rekening Terindikasi Penipuan Online

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Tren
Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Tren
Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Tren
Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Tren
9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

Tren
MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

Tren
Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Tren
Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tren
Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Tren
Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Tren
Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Tren
China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

Tren
Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Tren
Pekerja Tidak Bayar Iuran Tapera Terancam Sanksi, Apa Saja?

Pekerja Tidak Bayar Iuran Tapera Terancam Sanksi, Apa Saja?

Tren
Pedangdut Nayunda Minta ke Cucu SYL agar Dijadikan Tenaga Honorer Kementan, Total Gaji Rp 45 Juta

Pedangdut Nayunda Minta ke Cucu SYL agar Dijadikan Tenaga Honorer Kementan, Total Gaji Rp 45 Juta

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com