Seno Gumira dan Leo Tolstoy

Kompas.com - 22/07/2021, 09:44 WIB
Seno Gumira Ajidarma sehabis berbincang dengan Kompas.com di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2015). KOMPAS.COM/THALIA SHELYNDRA WENDRANIRSASeno Gumira Ajidarma sehabis berbincang dengan Kompas.com di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2015).

WAWASAN pengetahuan saya ternyata terus menerus mengalami proses evolusi seperti virus Corona.

Terbukti semula saya mengenal Seno Gumira terbatas “hanya” sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta kelahiran Boston serta Doktor Ilmu Sastra Universitas Indonesia kini merangkap Ketua Akademi Jakarta yang menulis buku-buku hebat mulai dari Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi sampai Iblis Tidak Pernah Mati

Kelirumulogi

Meski Pak Harto mewariskan wejangan ojo gumunan namun saya tetap gumun banget atas tulisan Doktor Seno riang gumbira yang tersurat di dalam serial naskah Obrolan Sukab baik yang termuat di Kompas mau pun PanaJurnal.

Begitu dahsyat gumunan saya terhadap Obrolan Sukab maka saya tidak mampu menahan diri untuk menyamakan Seno Gumira dengan Leo Tolstoy.

Sungguh sayang penyamaan saya itu spontan ditolak mentah-mentah oleh Bang Seno. Tersinggung akibat persamaan saya ditolak maka saya makin intensif secara kelirumologis membaca ulang naskah-naskah Obrolan Sukab.

Lambat laun namun pasti akhirnya saya yakin bahwa saya tidak keliru dalam menyamakan Seno Gumira dengan Leo Tolstoy yang mentah-mentah ditolak oleh Seno Gumira padahal Leo Tolstoy matang-matang tidak menolak.

Alasanologi

Penasaran saya mendayagunakan logi saya yang satu lagi yakni alasanologi untuk meriset apa alasan Seno Gumira sampai tega menolak penyamaan dirinya dengan Leo Tolstoy.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam penelitian terhadap alasan Seno Gumira disamakan dengan Leo Tolstoy bisa ditarik beberapa kesimpulan alasanologis.

Pertama alasan bahwa Seno masih hidup sementara Leo sudah almarhum maka serta merta yang bisa menolak pasti adalah yang masih hidup.

Alasan ke dua adalah Seno orang Indonesia sementara Leo orang Rusia padahal orang Indonesia tidak sama dengan orang Rusia maka memang secara logika tidak benar jika saya memaksakan penyamaan Seno Gumira yang orang Indonesia dengan Leo Tolstoy yang orang Rusia.

Alasan last but not least dapat diyakini secara dogmatis bahwa Leo Tolstoy dijamin tidak memiliki keunggulan yang dimiliki Seno Gumira yaitu menulis dalam bahasa Betawi berbumbu bahasa gaul kontemporer Indonesia.

Dengan terpaksa saya harus mengakui kekeliruan saya menyamakan Seno Gumira dengan Leo Tolstoi sebab Leo Tolstoy pasti tidak mampu menulis dalam bahasa fusion Betawi dengan bumbu bahasa gaul Indonesia masa kini.

Seharusnya saya sadar bahwa Seno Gumira memang sama sekali bukan Leo Tolstoy sebab Seno Gumira adalah Seno Gumira sendiri tanpa ada duanya di alam semesta ini. Plok plok plok untuk Bang Seno Gumira!


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X