Kompas.com - 16/06/2021, 14:30 WIB
Sejumlah tenaga kesehatan merawat pasien positif COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/5/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATSejumlah tenaga kesehatan merawat pasien positif COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/5/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

KOMPAS.com - Angka kasus infeksi Covid-19 di Indonesia kembali mengalami peningkatan, bahkan hampir kembali mencapai 10.000 kasus per hari. 

Kondisi tersebut berdampak pada tingkat keterisian ruang perawatan di banyak rumah sakit di sejumlah daerah. Juga lonjakan korban meninggal. 

Fakta tersebut bersamaan dengan banyaknya laporan temuan kasus virus corona varian Delta di banyak daerah seperti di Kudus, Jawa Tengah. 

Baca juga: Menkes: Keterisian RS Covid-19 Naik 100 Persen dalam Sebulan

Namun, benarkah lonjakan kasus Covid-19 mayoritas disebabkan karena menyebarnya virus corona varian Delta?

Varian Delta bukan penyebab utama

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tirmizi menyebut virus corona varian Delta memang memperparah penyebaran virus corona di Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun pihaknya menegaskan, kondisi tersebut bukan menjadi faktor utama meningkatnya angka infeksi Covid-19 dalam beberapa hari terakhir.

"Bukan (akibat varian Delta)," kata Nadia saat dihubungi Selasa (15/6/2021).

Nadia menjelaskan, faktor utama lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir karena penerapan protokol kesehatan di masyarakat yang mulai kendur. 

"Kerumunan kemarin di tempat wisata, pergerakan masyarakat saat awal Ramadhan menjelang Idul Fitri dan pasca Idul Fitri. Ada 5-6 juta orang yang bergerak kemarin," jelas Nadia. 

PPKM Mikro tidak optimal

Selain pergerakan dan interaksi massa selama Ramadhan dan Lebaran, Nadia juga menyebut lonjakan kasus dipengaruhi tidak optimalnya pelaksanaan PPKM Mikro. 

"Kedua, pelaksanaan PPKM Mikro dan micro lockdown di banyak RT/RW, desa atau kelurahan, tidak optimal," sebut dia.

Terakhir, ia juga menyinggung soal kurang masifnya pengujian dan pelacakan kasus sehingga membuat virus yang ada di tengah masyarakat menjadi lebih cepat menular dari satu orang ke yang lainnya.

"Nah kondisi itu ditambah dengan ada varian baru (Delta), jadi semakin memperparah," jelas Nadia.

Baca juga: Gejala Virus Corona Varian Delta yang Mulai Menyebar di Indonesia

 

Upaya pemerintah

Sebagai upaya meminimalisasi potensi buruk dari lonjakan kasus Covid-19, seperti ledakan kasus infeksi, jebolnya sistem pelayanan kesehatan, dan sebagainya maka Nadia menyebut ada sejumlah hal yang dapat diupayakan.

Berikut di antaranya: 

  • Terus perkuat 3T (testing, tracing, dan treatment),
  • Selalu lakukan 3M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun),
  • Meningkatkan program vaksinasi
  • Masyarakat dan Pemda melakukan penegakan disiplin termasuk implementasi PPKM Mikro lebih tegas. 

Baca juga: Virus Corona Varian Delta Menyebar di Indonesia, Ini Daftar Wilayahnya

Masyarakat mulai abay

Sementara itu ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga memandang ledakan kasus yang ada saat ini dikarenakan berbagai faktor, di luar keberadaan varian Delta.

Mulai dari masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan, masih banyaknya pergerakan orang yang dianggap kurang penting, juga lemahnya sinergi antar pihak dalam penanganan pandemi itu sendiri.

"Ini harus semua sektor, saya lihat ini belum bersinergi. Masih banyak pengabaian aktivitas bepergian, meeting-meeting, perjalanan-perjalanan, acara-acara yang dalam situasi serius seperti ini, sektor-sektor ini belum berkolaborasi. Sangat memprihatinkan dan menyedihkan ya," ujar Dicky, Selasa (15/6/2021).

Untuk itu, ia menilai pentingnya peningkatan 3T di seluruh wilayah, khususnya di daerah yang padat penduduk dan mobilitas tinggi, juga 5M di masyarakat.

"Tingkatkan 3T-nya, karena hanya 3 wilayah di Indonesia ini yang menurut WHO memenuhi standar global dalam standar minimal testing, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Sumatera Barat," ujar Dicky.

Baca juga: Mengenal 10 Nama Baru Varian Virus Corona, dari Alpha hingga Kappa

 

Varian Delta bisa memperparah

Apabila penyebaran virus tidak juga terkendali dan keberadaan varian Delta berhasil memperparah situasi pandemi di Indonesia, maka Dicky menyebut urgensi untuk memberlakukan penguncian wilayah.

Menurut Dicky, Indonesia mempunyai potensi ledakan kasus seperti India, bahkan dapat menimbulkan banyak korban.

"Karena masih banyak pihak-pihak yang mengabaikan masalah pembatasan ini," kata dia. 

Pada gilirannya nanti, apabila tidak benar-benar bersinergi dan massif dalam merespon, menurutnya Indonesia harus benar-benar menyiapkan 3 strategi besar. Di antaranya penguatan 3T, vaksinasi, dan harus lockdown. 

"Tiga kombinasi ini yang dikatakan relatif efektif dalam mengendalikan varian Delta yang kemungkinannya di Juli ini lah baru mulai terlihat dampak lebih seriusnya," jelas Dicky.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Mengenal Varian Virus Corona Delta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.