Catat Rekor Baru, Matahari Buatan China Sanggup Pertahankan 120 Juta Derajat Celsius dalam 100 Detik

Kompas.com - 05/06/2021, 11:00 WIB
Bendera China terpasang di sebuah reaktor nuklir di Hefei, Provinsi Anhui, China, 14 November 2018. REUTERS via VOA INDONESIABendera China terpasang di sebuah reaktor nuklir di Hefei, Provinsi Anhui, China, 14 November 2018.

KOMPAS.com - Reaktor fusi nuklir China yang juga dijuluki sebagai matahari buatan berhasil mencatatkan rekor baru. Media China melaporkan, para peneliti yang bekerja pada proyek fusi nuklir tersebut telah berhasil menahan plasma 120 juta derajat celsius selama hampir 100 detik.

Catatan ini melebihi rekor sebelumnya. Saat itu matahari buatan ini diketahui berhasil mempertahankan plasma pada 160 juta derajat celsius selama 20 detik.

Catatan 120 juta derajat celsius tersebut termasuk rekor dalam upaya pencarian fusi nuklir.

“Langkah selanjutnya adalah mempertahankan suhu ini selama seminggu,” menurut seorang profesor fisika dari Universitas Sains dan Teknologi Selatan di Shenzhen, melansir RT News pada Selasa (1/6/2021).

Baca juga: Meski Namanya Kurang Tepat, Matahari Buatan Jadi Tonggak Bersejarah China

Seperti diketahui, reaktor fusi nuklir China mulai menjadi sorotan pada 2019. Saat itu, Otoritas China mengatakan, teknologi itu akan segera mulai beroperasi. Baru pada Desember 2020, China untuk pertama kalinya berhasil menyalakan reaktor fusi nuklir yang belakangan dijuluki sebagai “matahari buatan”.

Reaktor bernama HL-2M Tokamak tersebut merupakan perangkat penelitian eksperimental fusi nuklir terbesar dan tercanggih di China. Keberhasilan pengoperasian “matahari buatan” ini menandai kemajuan besar China dalam kemampuan penelitian tenaga nuklir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pencapaian pertamanya adalah mampu mempertahankan suhu 100 juta derajat celsius selama 100 detik.

Kompas Video Matahari buatan China dapat mempertahankan 120 derajat dalam dua menit.

Tentang Fusi Nuklir

Tak hanya China, baru-baru ini Rusia dilaporkan juga telah berhasil menyalakan reaktor fusi nuklir Tokamak 15 atau T-15 MD untuk pertama kalinya. China dan Rusia sama-sama merupakan anggota tim internasional yang membangun proyek fusi nuklir ITER di Eropa. Untuk diketahui, pembangunan Tokamak ITER dimulai pada tahun lalu di Perancis selatan.

Baca juga: Eksplorasi Luar Angkasa Rusia Bakal Gunakan Wahana Bertenaga Nuklir

ITER merupakan proyek penelitian fusi nuklir terbesar di dunia yang berbasis di Perancis. Pertama kali diluncurkan pada Oktober 2007, megaproyek ini diharapkan rampung pada tahun 2025.

Fusi nuklir yang diteliti melalui ITER yakni menggabungkan inti atom untuk menciptakan energi dalam jumlah besar.

Mekanisme fusi nuklir tersebut berkebalikan dari proses fisi nuklir yang digunakan dalam senjata atom dan pembangkit listrik tenaga nuklir. Tidak seperti fisi, fusi tidak mengeluarkan gas rumah kaca dan mengurangi risiko kecelakaan atau pencurian bahan atom.

Namun, untuk mencapai fusi sangatlah sulit dan sangat mahal, ITER sendiri diperkirakan menelan anggaran sebesar 22,5 miliar dollar AS (Rp 318 triliun).

Baca juga: [VIDEO] Detik-detik Matahari Buatan Korsel Menyala dan Pecahkan Rekor Dunia

Selain kedua negara tersebut, negara lain yang juga memiliki matahari buatan adalah Korea Selatan. Matahari buatan ini dikembangkan oleh Korea Superconducting Tokamak Advanced Research (KSTAR), yang merupakan hasil studi bersama dengan Seoul University (SNU) dan Columbia University AS.

Perangkat fusi superkonduktor atau matahari buatan KSTAR, yang dikembangkan para peneliti Korea Selatan dan Amerika Serikat. Operasi matahari buatan ini pecahkan rekor dunia baru dengan durasi operasi plasma 20 detik dengan suhu lebih dari 100 juta derajat Celcius. NATIONAL RESEARCH COUNCIL OF SCIENCE AND TECHNOLOGY/PHYS Perangkat fusi superkonduktor atau matahari buatan KSTAR, yang dikembangkan para peneliti Korea Selatan dan Amerika Serikat. Operasi matahari buatan ini pecahkan rekor dunia baru dengan durasi operasi plasma 20 detik dengan suhu lebih dari 100 juta derajat Celcius.

Keberadaan matahari buatan tersebut diharapkan dapat melakukan operasi plasma berkelanjutan selama 300 detik dengan suhu ion lebih tinggi dari 100 juta derajat celsius pada tahun 2025.

Proyek fusi nuklir diklaim akan memberi manfaat yang sangat besar seandainya benar-benar terwujud. Seperti memunculkan energi ultra-powerful yang murah untuk diproduksi, bebas emisi, dan hampir tak terbatas.

Fusi nuklir juga tidak meninggalkan limbah radioaktif, yang membuatnya sedekat mungkin dengan sumber energi yang sempurna.

(Penulis : Bernadette Aderi Puspaningrum | Editor : Bernadette Aderi Puspaningrum)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.