Tren Lonjakan Kasus Covid-19 Usai Libur Lebaran, Ini Kata Epidemiolog

Kompas.com - 03/06/2021, 07:05 WIB
Petugas medis merawat pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di ruang rawat Pinere Rumah Sakit Umum Daerah-Cut Nyak Dhien (RSUD-CND) Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (31/5/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa. ANTARA FOTO/SYIFA YULINNASPetugas medis merawat pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di ruang rawat Pinere Rumah Sakit Umum Daerah-Cut Nyak Dhien (RSUD-CND) Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin (31/5/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.

KOMPAS.com - Kasus Covid-19 di Indonesia mengalami tren peningkatan pasca-libur Lebaran 2021.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, rumah sakit di sejumlah daerah sudah mengalami peningkatan pasien Covid-19.

Budi mengatakan, sebelumnya angka keterisian rumah sakit sempat berada di titik terendah, yakni sekitar 20 ribu.

Baca juga: [POPULER TREN] Heboh Pencairan BLT UMKM Tahap 3 | Kapan Pendaftaran CPNS 2021?

Pada 31 Mei 2021, jumlah itu naik menjadi sekitar 25 ribu tempat tidur terisi, atau naik sekitar 20 persen sampai 25 persen.

"Kami sampaikan memang kasusnya agak tinggi tetapi kita masih memiliki kapasitas sampai dengan 72 ribu tempat tidur, masih ada cukup kapasitas yang kita miliki," kata Budi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lonjakan kasus di Kudus

Secara khusus, Budi juga menyoroti lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Kudus, Jawa Tengah.

"Memang Kudus akhir-akhir ini terjadi peningkatan yang luar biasa, baik dari sisi kasus konfirmasi, maupun juga yang masuk rumah sakit," kata Budi.

Budi mengatakan, sebanyak 140 tenaga kesehatan di Kudus juga terkonfirmasi positif Covid-19, dan sebagian besar dari mereka berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

Merespons situasi tersebut, pemerintah menempuh sejumlah upaya.

Pasien yang membutuhkan perawatan intensif disalurkan ke rumah sakit yang berada di sekitar Kudus, termasuk ke Semarang.

Sementara itu, pasien yang berada di sekitar Kudus, seperti Pati dan Sragen diarahkan untuk menjalani perawatan di luar Kudus.

Untuk mencegah virus menyebar ke daerah lain, micro-lockdown dan PPKM skala mikro turut diberlakukan di Kudus.

"Kami juga sekarang minta sampelnya untuk dilakukan genome sequencing, apakah lonjakan yang terjadi di Kudus ini disebabkan oleh adanya mutasi baru," ujar Budi.

Baca juga: KPAI soal Sinetron Zahra: Ada Potensi Eksploitasi Anak dan Seksual

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.