Kompas.com - 11/05/2021, 20:05 WIB
Peserta lomba musik sahur memainkan alat musik sambil berkeliling untuk membangunkan warga bersahur di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (23/4/2021) dinihari. Lomba yang rutin digelar setiap tahunnya dan diikuti oleh kelompok remaja masjid se Kota Palu tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga khususnya pemuda serta menjadi salah satu gelaran wisata religi di Kota tersebut pada bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc. ANTARA FOTO/Mohamad HamzahPeserta lomba musik sahur memainkan alat musik sambil berkeliling untuk membangunkan warga bersahur di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (23/4/2021) dinihari. Lomba yang rutin digelar setiap tahunnya dan diikuti oleh kelompok remaja masjid se Kota Palu tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar warga khususnya pemuda serta menjadi salah satu gelaran wisata religi di Kota tersebut pada bulan Ramadhan. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.

KOMPAS.com - Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, memiliki bermacam-macam tradisi yang dilakukan saat Ramadhan.

Di momen Ramadhan 1442 H ini, umat Islam di berbagai belahan dunia pun melaksanakan kewajiban puasa.

Akan tetapi, ada beberapa tradisi Ramadhan yang mulai pudar di Asia Selatan.

Baca juga: Hukum Ngupil dan Mengorek Telinga Saat Bulan Ramadhan, Batalkan Puasa atau Tidak?

Apa saja tradisi itu?

Sahar Khan di Kashmir

Melansir Al Jazeera, Rabu (6/5/2021), tradisi membangunkan sahur di Pulwarna Kashmir mulai pudar.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tariq Ahmed Sheikh (18) dan ayahnya, Showkat (51) biasa bangun dini hari untuk menyusuri gang-gang gelap di desa mereka.

Sambil memegang drum yang digantung di leher, dengan dua stik drum di tangan, dia meneriakkan “waqt-e-sahar” (waktunya sahur).

Mereka berjalan sekitar 5 km dan menjangkau sekitar 200 rumah, kemudin kembali ke rumah setelah satu jam untuk sahur.

Baca juga: Antara Berbuka Puasa atau Shalat Maghrib, Mana yang Lebih Baik Didahulukan?

Duo ayah-anak itu menabuh genderangnya untuk membangunkan sahur warga di lingkungan mereka.

Kegiatan semacam ini, disebut dengan Sahar Khan di wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Showkat mencari nafkah dengan bekerja sebagai Sahar Khan selama Ramadhan selama lebih dari dua puluh tahun. Dia mewarisi pekerjaan dari ayahnya.

Selama tiga tahun terakhir, ia telah menemani putranya, mengajarinya agar bisa meneruskan tradisi ini,

Baca juga: Bolehkah Menggantikan Puasa untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia?

Kini jam alarm dan ponsel pintar telah mengambil peran mereka. Penghasilan mereka pun berkurang.

Penduduk di lingkungan mereka biasa member apa pun atas balas jasa mereka.

Kebanyakan memberi beras atau uang tunai sekitar 5-10 ribu rupee (Rp 1.000-Rp 19.000).

Meski demikian, Showkat mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah pekerjaan mulia. Selain itu, mereka ingin menjaga agar tradisi Sahar Khan tetap hidup.

Baca juga: Berikut Hukum Tidur Setelah Makan Sahur dan Shalat Subuh Saat Puasa Ramadhan

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X