Mengenal Apa Itu Bipang Ambawang dan 4 Makanan Khas Daerah yang Direkomendasikan Jokowi

Kompas.com - 09/05/2021, 07:30 WIB

KOMPAS.com - Topik perihal bipang Ambawang hangat menjadi perbincangan warganet dan bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter pada Sabtu (8/5/2021).

Bipang Ambawang naik daun setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) merekomendasikan makanan khas Kalimantan tersebut, seperti pidato yang diunggah dalam video YouTube Kementerian Perdagangan RI, 5 Mei 2021 lalu.

Konteks pidato tersebut yakni mengajak masyarakat berbelanja kuliner secara online di Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Baca juga: 11 Makanan yang Paling Berbahaya di Dunia

"Sebentar lagi Lebaran. Namun karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara, yang rindu kuliner daerah atau mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online," kata Jokowi dalam video yang beredar di linimasa, Sabtu (8/5/2021).

"Yang rindu makan gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan dan lain-lainnya tinggal pesan dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah," lanjut Jokowi.

Hingga Sabtu (8/5/2021) pukul 16.30 WIB, kata Bipang menduduki trending topic di Twitter dengan lebih dari 41.000 twit dari warganet.

Baca juga: 7 Makanan yang Bisa Berubah Menjadi Racun bila Dipanaskan Lagi

Lantas apa itu bipang Ambawang?

Bipang Ambawang adalah kuliner babi panggang khas Kalimantan Barat.

Warganet pun menilai kuliner ini dinilai tak layak untuk dipromosikan pada momen Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Sebab, makanan babi panggang ini haram dikonsumsi oleh muslim. 

Hal itu sebagaimana yang disampaikan pemilik akun Twitter @Hilmi28, Hilmi Firdausi.

"Assalamu’alaikum Pak @jokowi, mhn diklarifikasi ttg oleh2 lebaran Bipang Ambawang karena itu adlh babi panggang yg jelas haram bagi muslim, apa lagi ini Idul Fitri hari raya ummat Islam, tdk elok rasanya. Apakah ini disengaja, atau karena bapak tdk tau? Tks atas jawabannya," twit akun @Hilmi28.

Baca juga: Berikut Bahaya Konsumsi Daging Babi Menurut Para Ahli Gizi

Namun ada pula yang menganggap bahwa pidato Jokowi tentang bipang Ambawang ini ditujukan untuk umat Kristen dan Katolik menjelang Kenaikan Isa Al Masih yang jatuh pada 13 Mei 2021.

"Ingat selain lebaran tanggal 13 mei hari raya kenaikan Yesus ke Surga, jadi bipang ambawang itu hak kami...," tulis akun @KatolikG.

Baca juga: Bagaimana Kemungkinan Flu Babi Baru G4 Menular pada Manusia?

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfhi pun memberikan klarifikasi.

"Jadi sekali lagi kuliner khas daerah yang disebut Bapak Presiden dalam video tersebut untuk mempromosikan kuliner nusantara yang memang sangat beragam. Tentu kuliner tersebut dikonsumsi, disukai, dan dicintai oleh berbagai kelompok masyarakat yang juga beragam," jelas Lutfi dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari Kompas TV, Sabtu (8/5/2021).

Pernyataan lengkap Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi bisa disimak dalam video berikut ini.

Baca juga: 10 Makanan yang Dapat Mempengaruhi Munculnya Jerawat, Apa Saja?

Perlu diketahui, selain Bipang Ambawang, Jokowi juga merekomendasikan makanan khas daerah lain untuk dipesan secara online oleh masyarakat. Apa saja?

1. Gudeg Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai kota gudeg, masakan yang berasal dari nangka muda yang bercita rasa manis.

Melansir Kompas.com (26/4/2019), gudeg biasa disajikan dengan lauk pendamping, mulai dari tahu dan tempe bacem, ayam atau telur opor, hingga krecek.

Sebagai sentuhan terakhir, gudeg disiram dengan kuah areh dari santan kental berbumbu.

Sebelum menjadi ikon kuliner di Yogyakarta, gudeg sudah ada sejak abad XV.

Baca juga: Ramai soal Bipang Ambawang dalam Pidato Jokowi hingga Trending Topic

Pada zaman Kerajaan Mataram Islam, wilayah itu sedang dalam tahap pengembangan di alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara.

Ratusan prajurit diturunkan untuk membuka lahan dengan menebang pohon-pohon di kawasan tersebut.

Kebanyakan pohon yang ditebang adalah pohon kelapa dan pohon nangka.

Agar tak terbuang sia-sia, nangka itu pun diolah dan dinamakan 'hangudek' yang kemudian jadi cikal bakal gudeg.

Baca juga: Sejarah Gudeg, Perjalanan Panjang dari Alas Mentaok

2. Bandeng Semarang

Duri bandeng tidak lagi jadi halangan kita untuk menikmati olahan Bandeng.

Di Semarang, kita bisa membeli bandeng presto yang kini jadi oleh-oleh khas kota Semarang.

Melansir Kompas.com (22/4/2018), dalam 100 gram bandeng terkandung protein sekitar 17,1 gram per 100 gram, serta mengandung lemak tidak jenuh.

Bandeng merupakan pilihan makanan bergizi, yang baik untuk ibu hamil dan mencegah depresi.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Suntik DNA Ikan Salmon yang Dilakukan Krisdayanti

3. Siomay Bandung

Dilansir dari Kompas.com (1/2/2011), siomay Bandung adalah sajian yang terinspirasi shumai, makanan khas dari China.

Siomay Bandung berbahan dasar ikan tenggiri dengan tepung tanpa dibalut kulit pangsit.

Sebagai pelengkap, siomay disajikan dengan sambal kacang dan tambahan lain, seperti telur rebus, kubis rebus, pare, kentang dan telur rebus.

Baca juga: Detik-detik Mobil di Bandung Seruduk Pedagang Siomay yang Tengah Berjualan

4. Empek-empek Palembang

Masih dari sumber yang sama (6/10/2020), awalnya empek-empek disebut dengan kelesan, panganan adat di dalam Rumah Limas dalam adat Palembang.

Pempek mulanya dibuat oleh orang asli Palembang, kemudian dikenalkan ke orang Tionghoa yang ada di palembang pada masa itu.

Orang Tionghoa di Palembang saat itu terkenal sebagai ahli dagang.

Baca juga: Muncul di Palembang, Berikut Awal Mula Kasus Flu Burung

Tercatat pada 1916, pempek mulai dijajakan oleh penjual yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, khususnya di kawasan Keraton (Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang).

Pembeli biasa memanggil penjualnya dengan sebutan "empeq" atau "apeq", dalam Bahasa Hokkian itu berarti paman.

Sampai akhirnya, makanan itu meluas dan namanya lebih dikenal dengan sebutan empek-empek.

Baca juga: Viral Jalan Tol Palembang Disebut Rusak hingga Tak Boleh Dilewati Truk

(Sumber: Kompas.com/Dandy Bayu Bramasta, Nabilla Tashandra, Yana Gabriella Wijaya | Editor: Glori K. Wadrianto, Silvita Agmasari | Editor: Deni Muliya, Rizal Sety Nugroho)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.