Stoikisme Kejawen

Kompas.com - 08/05/2021, 12:12 WIB
Ilustrasi meditasi shutterstockIlustrasi meditasi

AKIBAT dilahirkan lalu tumbuh-kembang di Indonesia dengan sistem pendidikan mewarisi sistem pendidikan Belanda kemudian belajar dan mengajar di Jerman yang memiliki sifat sistem pendidikan mirip Belanda yaitu Eropasentris, maka saya mengagumi Filsafat Barat termasuk apa yang disebut sebagai Stoikisme.

Stoikisme

Menurut para guru sejarah filsafat Barat saya di Jerman, stoikisme merupakan sebuah aliran filsafat yang digagas oleh Zeno sekitar abad III sebelum Masehi.

Konon Zeno dipengaruhi pemikiran Sokrates dan kaum Cynics sambil berseberangan pemikiran dengan kaum Skeptik, Akademik dan Epikuranik.

Sebutan stoik berasal dari Stoa Poikile sebagai nama sebuah pasar di kawasan Agora utara Athena di mana para penganut Stoikisme lazim bersarasehan.

Stoikisme diekspor dari Athen ke Roma yang kemudian subur berkembang di masa kekaisaran Marcus Aurelius.

Stoikisme mempengaruhi pemikiran Nasrani yang kemudian membentuk pemikiran-pemikiran para mahafilosof seperti Thomas More, Descrates, Spinoza yang pada awal abad XXI mengalami masa revival sebagai cabang filsafat asosiatif Cognitive Behavioral Therapy dan berbagai metode psikologi positif .

Das sollen

Pada hakikatnya Stoikisme merupakan sebuah jenis kearifan eudaimonikal yang menegaskan bahwa praktik budi-pekerti mutlak dibutuhkan sebagai bekal perjalanan mencari kebahagiaan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun beda dengan aliran dengan Eudaimoniaisme, Stoikisme mengakui kenyataan faktor eksternal non-linear terkait aspek positif seperti kesehatan, kesejahteraan, pendidikan mau pun negatif seperti penyakit, kemiskinan, ketidak-pedulian dalam kehidupan umat manusia.

Stoikisme merupakan filsafat terapan pada kehidupan sehari-hari dengan fokus etika, moral, akhlak sebagai das sein sambil mendayagunakan apa yang disebut sebagai “physics” sebagai perpaduan sains dengan metafisika serta apa yang disebut sebagai logika, epistemologi, filsafat bahasa dan sains kognitif demi membawa peradaban umat manusia menuju das sollen yang lebih baik.

Kejawen

Bagi seorang warga Indonesia yang tumbuh-kembang di lingkungan kebudayaan Jawa, selama merasa belum dilarang undang-undang secara subyektif (maka tidak dijamin benar) saya pribadi merasakan getaran seirama-senada serta seiring-sejalan antara sukma pemikiran Stoikisme Aurelius, More, Descrates, Spinoza sebagai hakikat unsur bagian Filsafat Barat dengan sukma pemikiran Kejawen Jayabaya, Tantular, Ronggowarsito, Raden Mas Said, Sosrokartono, Ki Hajar Dewantara.

Ajaran para tokoh Kajawen di atas merupakan hakikat unsur bagian dari Filsafat Indonesia yang sama-sama mengedepankan fokus das Sollen sebagai pedoman perjalanan umat manusia menuju masa depan yang lebih baik untuk hidup bersama di sebuah negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja. Merdeka


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Hujan Masih Turun meski Musim Kemarau? Ini Penjelasan Lapan

Mengapa Hujan Masih Turun meski Musim Kemarau? Ini Penjelasan Lapan

Tren
Penjelasan Mabes Polri soal Bikin SIM dan SKCK Wajib Lampirkan Sertifikat Vaksinasi Covid-19

Penjelasan Mabes Polri soal Bikin SIM dan SKCK Wajib Lampirkan Sertifikat Vaksinasi Covid-19

Tren
Hujan Deras Saat Kemarau, 5 Daerah Ini Terendam Banjir

Hujan Deras Saat Kemarau, 5 Daerah Ini Terendam Banjir

Tren
Duduk Perkara Transfer Tiba-tiba Uang Rp 1,5 Juta Sempat Disebut dari Pinjol, Ini Faktanya

Duduk Perkara Transfer Tiba-tiba Uang Rp 1,5 Juta Sempat Disebut dari Pinjol, Ini Faktanya

Tren
Sejarah Hari Janda Internasional dan Sosok Shrimati Pushpa Wati Loomba

Sejarah Hari Janda Internasional dan Sosok Shrimati Pushpa Wati Loomba

Tren
WHO: Negara Miskin Kehabisan Stok Vaksin untuk Program Vaksinasi

WHO: Negara Miskin Kehabisan Stok Vaksin untuk Program Vaksinasi

Tren
Besok Ada Strawberry Supermoon, Cek Waktu Puncak dan Cara Melihatnya

Besok Ada Strawberry Supermoon, Cek Waktu Puncak dan Cara Melihatnya

Tren
UPDATE Corona 23 Juni: 5 Negara Kasus Tertinggi | WHO Prihatin dengan Pelonggaran di Euro 2020

UPDATE Corona 23 Juni: 5 Negara Kasus Tertinggi | WHO Prihatin dengan Pelonggaran di Euro 2020

Tren
Masjid dan Mushala Diharapkan Terdaftar di Kemenag, Apa Manfaatnya?

Masjid dan Mushala Diharapkan Terdaftar di Kemenag, Apa Manfaatnya?

Tren
[POPULER TREN] Penjelasan BMKG soal Suhu Dingin di Jakarta | Provinsi Kasus Corona Terbanyak

[POPULER TREN] Penjelasan BMKG soal Suhu Dingin di Jakarta | Provinsi Kasus Corona Terbanyak

Tren
Kasus Uang Rp 1,5 Juta Tiba-tiba Masuk Rekening Bukan dari Pinjol, Ini Klarifikasi PT Syaftraco

Kasus Uang Rp 1,5 Juta Tiba-tiba Masuk Rekening Bukan dari Pinjol, Ini Klarifikasi PT Syaftraco

Tren
Ivermectin Belum Teruji Klinis untuk Pengobatan Covid-19, Ini Faktanya

Ivermectin Belum Teruji Klinis untuk Pengobatan Covid-19, Ini Faktanya

Tren
Ramai “Google Terus Berhenti” di Ponsel Android, Ini Diduga Penyebabnya

Ramai “Google Terus Berhenti” di Ponsel Android, Ini Diduga Penyebabnya

Tren
Kronologi Nasabah Tiba-tiba Ditransfer Uang Rp 1,5 juta, Sempat Diduga dari Pinjol

Kronologi Nasabah Tiba-tiba Ditransfer Uang Rp 1,5 juta, Sempat Diduga dari Pinjol

Tren
Viral, Video 'Mobil Goyang' Saat Isi Bensin, Apa Sih Manfaatnya?

Viral, Video "Mobil Goyang" Saat Isi Bensin, Apa Sih Manfaatnya?

Tren
komentar
Close Ads X