Kompas.com - 04/05/2021, 09:10 WIB

KOMPAS.com - Selama ini, kebanyakan orang mengetahui bahwa tumbuhan (pohon) menghasilkan oksigen yang diperlukan hewan dan manusia untuk bernapas.

Oksigen merupakan salah satu hasil dari fotosintesis, yakni proses yang dilakukan tumbuhan untuk mengubah sinar matahari menjadi makanan atau energi bagi tumbuhan.

Akan tetapi, tidak banyak yang mengetahui ternyata penghasil oksigen terbesar di Bumi bukan pohon, melainkan mikro-organisme kecil lautan yang bernama fitoplankton.

Fitoplankton mampu menghasilkan sekitar 50-85 persen oksigen di Bumi per tahun, sedangkan tumbuhan (pohon) hanya menghasilkan sekitar 20 persen saja.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian LHK (@kementerianlhk)

Apa itu fitoplankton?

Mengutip unggahan Instagram Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Minggu (2/5/2021), fitoplankton adalah organisme jenis plankton yang sering disebut sebagai mikroalga.

Fitoplankton berperan sebagai indikator kontaminasi dan kualitas air, sekaligus sebagai produsen dalam rantai makanan karena mampu meyediakan makanan sendiri.

Fitoplankton memperoleh energi melalui proses fotosintesis, menyerap karbondioksida di atmosfer, dan mengubahnya menjadi oksigen.

Oleh karena itu, fitoplankton harus berada pada bagian permukaan lautan, danau, atau kumpulan air yang lain untuk mendapatkan cahaya matahari.

Peran penting fitoplankton

Peneliti plankton laut dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arief Rachman mengatakan, alasan fitoplankton mampu menghasilkan oksigen lebih banyak dibanding pohon adalah luas lautan.

Dia menyebutkan, perbandingan luas lautan dengan daratan adalah 70:30. Artinya, 70 persen luas Bumi adalah lautan.

"Sementara, fitoplankton itu ada di seluruh permukaan lautan, mulai dari tropis hingga kutub," kata Arief saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/5/2021).

Dari hasil kajian LIPI, fitoplankton tidak hanya bermanfaat menghasilkan oksigen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengikat karbondioksida dari atmosfer.

Untuk diketahui, karbondioksida merupakan salah satu komponen gas rumah kaca yang dapat membuat suhu atmosfer di bumi menjadi lebih panas.

Riset mutakhir menunjukkan, kemampuan fitoplankton mengikat karbondioksida dari atmosfer kurang lebih setara dengan kemampuan seluruh tumbuhan yang ada di daratan.

Kemampuan tersebut membuat fitoplankton berfungsi penting sebagai pengendali iklim global, tanpanya atmosfer dan iklim di bumi akan menjadi lebih panas.

Dampak buruk kerusakan fitoplankton

Arief mengatakan, jika terjadi gangguan pada ekosistem perairan, terkadang fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat cepat (alga bloom).

Namun, pertumbuhan cepat tersebut menyimpan potensi dampak negatif. Mengapa demikian?

"Itu (pertumbuhan fitoplankton) kan dia menghasilkan biomassa yang banyak. Kemudian, yang namanya makhluk hidup kan suatu saat mereka akan mati semua. Ketika daur hidupnya suda selesai, biomassanya itu akan membusuk di perairan," kata Arief.

"Ketika terjadi seperti itu, oksigen yang diproduksi fitoplankton ketika mereka lagi banyak-banyaknya sekarang digunakan bakteria untuk merombak biomassanya. Sehingga perairan itu menjadi kekurangan oksigen atau hipoksia," lanjut Arief.

Dia menyebutkan, jika kondisi hipoksia itu sangat parah maka akan disebut anoksia atau kehabisan oksigen.

"Kita sering menyebutnya sebagai dead zone. Jadi area-area di perairan yang oksigennya itu sangat rendah. Organisme yang hidup di sana, baik di dasar maupun di kolom air akan banyak yang mati mendadak," jelas Arief.

Tidak hanya itu, perburukan kualitas perairan tempat fitoplankton berada juga dapat memicu munculnya jenis-jenis fitoplankton yang berbahaya.

"Fitoplankton itu kan jenisnya banyak sekali, ratusan jenis dalam satu lokasi. Ketika perairannya memburuk, otomatis kan (jenis) fitoplankton yang tadinya bermanfaat bagi ekosistem, yang bisa dimakan ikan dan larva udang, lama-lama akan berganti menjadi jenis-jenis yang berpotensi berbahaya atau beracun," kata Arief.

Menjaga keseimbangan fitoplankton

Arief mengatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perburukan kualitas perairan tempat fitoplankton tinggal.

"Cara yang paling dasar, walaupun kedengarannya sederhana tapi kalau dilakukan sangat sulit, itu adalah mengurangi jumlah pencemaran nutrien yang masuk ke perairan. Misalnya seperti nitrogen dan fosfat," kata Arief.

Dia menyebutkan, kedua senyawa tersebut biasa diproduksi oleh aktivitas pertanian dan perkotaan dalam bentuk limbah-limbah yang tidak diolah dan dibuang langsung ke perairan.

"Ketika semuanya (limbah) masuk ke perairan, itu akan menyebabkan fitoplankton tumbuh dengan cepat. Istilahnya cepet-cepetan nih, siapa yang tumbuh lebih cepat dari sekian ratus jenis fitoplankton yang ada di perairan. Nah kalau yang menang itu adalah yang istilahnya 'merugikan' akan menyebabkan efek berantai," kata Arief.

Arief juga menyebutkan, aktivitas perikanan berlebihan juga dapat mengakibatkan perburukan ekosistem perairan yang ditempati fitoplankton.

"Kemungkinan begitu. Karena kan fitoplankton ini produsen primer, dia ada di rantai paling bawah makanan. Kemudian, jika ikan-ikan yang ditangkap adalah yang biasa mengonsumsi fitoplankton itu, otomatis fitoplankton akan tumbuh terlalu cepat dan tidak ada yang mengontrol," ujar Arief.

Jika dibanding perikanan tangkap, menurut Arief, perikanan berbasis budidaya seperti tambak, berdampak lebih besar terhadap fitoplankton.

"Sisa pakan kemudian air bekas limbah. Sisa pakan yang menumpuk itu bisa memperkaya perairan dengan nutrien juga," kata Arief.

Arief menambahkan, aktivitas pertambangan di pesisir juga dapat mempengaruhi fitoplankton, misalnya penambangan batu bara dan timah.

"Pada dasarnya kontribusi fitoplankton besar sekali, cuma jarang ada yang benar-benar memahami. Biasanya orang awam hanya tahu soal pohon saja. Kalau fitoplankton ya kita menjaga jangan sampai jenis-jenis yang merugikan atau berbahay berkembang," kata Arief. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.