Radhar Panca Dahana, Merantau di Tanah Kelahiran Sendiri

Kompas.com - 23/04/2021, 12:10 WIB
Pembacaan puisi spiritual oleh Radhar Panca Dahana dalam ?LaluKau? di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (19/20/2020) malam. Karya panggung terbaru dari Teater Kosong ini mengungkapkan perjalanan spiritual Radhar Panca Dahana yang kontemplatif tentang hidup dan proses berkaryanya. LaluKau merupakan buku keempat dari tetralogi puisi Radhar Panca Dahana dengan tajuk ?Lalu?. KOMPAS/PRIYOMBODOPembacaan puisi spiritual oleh Radhar Panca Dahana dalam ?LaluKau? di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (19/20/2020) malam. Karya panggung terbaru dari Teater Kosong ini mengungkapkan perjalanan spiritual Radhar Panca Dahana yang kontemplatif tentang hidup dan proses berkaryanya. LaluKau merupakan buku keempat dari tetralogi puisi Radhar Panca Dahana dengan tajuk ?Lalu?.

JUDUL yang patik gunakan dalam risalah sederhana ini merupakan penggalan dari prinsip hidup Radhar Panca Dahana yang wafat pada malam kesebelas Ramadhan 1442 H (23 April 2021) di RSCM, Jakarta.

Ia pergi selamanya dari dunia kita, meninggalkan begitu banyak kerja budaya yang menjadi tugas generasi kiwari, para pelanjut bangsa bahari.

Baca juga: Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia akibat Serangan Jantung

Pada 2003 adalah kali perdana patik mengenal Mas Radhar--begitu sapaan karib kami kepadanya sebagai anggota keluarga besar Teater Kosong.

Saat itu kami tengah mempersiapkan pagelaran teater dari naskah Perguruan karya Wisran Hadi yang akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya oleh Kelompok Siluet.

Saat melepas lelah usai berlatih di atas panggung Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, tiba-tiba Mas Radhar muncul.

Kabar yang kami dengar kala itu, ia sudah tiga tahun di Indonesia, usai merampungkan studi di Université de French Comte, Besançon, Perancis (CLA, 1997-1998). Dua tahun sebelumnya, ia berhasil menuntaskan pelajaran tingkat master di Ecole des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Perancis (DEA, 1998-2000).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Obituari Radhar Panca Dahana: Berjuang untuk Seni dan Budaya Indonesia hingga Napas Terakhir

Sebagai remaja bau kencur yang baru mulai menggeluti dunia tulis menulis, kehadiran Mas Radhar malam itu bagaikan rembulan malam kelimabelas. Tanpa berpikir panjang, segera patik sodorkan padanya sebuah cerpen yang ditulis tangan, dalam lembaran folio.

Di luar dugaan, Mas Radhar menerima cerpen picisan itu dengan ringan tangan dan berkenan memberikan komentar secara tertulis pada keesokan pagi di kediamannya.

Selepas itu, garis hidup patik berubah total. Mas Radhar yang semasa mudanya pernah nyantrik di Bengkel Teater Rendra juga memfungsikan rumahnya untuk kami para cantrik. Kami berbagi ruang hidup yang sama, selama berbilang tahun.

Gelora spiritnya yang membara, baru mulai terasa manakala kami memanggungkan dramatikalisasi puisi Lalu Batu di Jakarta, Denpasar, Malang, Jogjakarta, dan Bandung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X