Apa yang Harus Diketahui dari Kecelakaan Pesawat Terbang?

Kompas.com - 01/04/2021, 10:52 WIB
Anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memeriksa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (10/1/2021). Temuan bagian pesawat selanjutnya akan diperiksa oleh KNKT sedangkan potongan tubuh korban diserahkan kepada DVI Polri untuk identifikasi lebih lanjut. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGAnggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memeriksa bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (10/1/2021). Temuan bagian pesawat selanjutnya akan diperiksa oleh KNKT sedangkan potongan tubuh korban diserahkan kepada DVI Polri untuk identifikasi lebih lanjut.


SETIAP peristiwa kecelakaan pesawat selalu terasa menggetarkan, terlebih lagi bila fatal. Dramatis, itu pasti. Efek kejut karena jumlah korban jiwa juga menyengat.

Namun, hingga hari ini, pesawat terbang sejatinya masih merupakan moda transportasi yang paling aman dibandingkan pilihan lain.

Ini ditakar dari kejadian kecelakaan dan korban jiwa, bahkan rasio jumlah kejadian kecelakaan fatal terhadap frekuensi penggunaan moda transportasi.

Mencermati persoalan kecelakaan pesawat terbang tidaklah sederhana. Betul, banyak yang bilang bahwa kecelakaan dapat saja terjadi kapan saja dan di mana saja.

Akan tetapi, pada dasarnya kecelakaan dapat diupayakan untuk tidak terjadi, minimal diusahakan agar kecelakaan yang fatal dapat dan harus bisa dicegah.

Penyebab terjadinya kecelakaan tidak bisa pula dibilang semata karena usia pesawat terbang.
Pada kenyataannya, kecelakaan terjadi pada pesawat yang sudah cukup tua dan keluaran terbaru.

Hasil investigasi mendapati, penyebab dari banyak kecelakaan pesawat terbang di dunia masih didominasi faktor manusia. Kelalaian, adalah salah satu yang dimungkinkan di sini.

Pada titik ini terlihat kebutuhan mekanisme pengawasan melekat yang berkelanjutan.

Faktor cuaca dan kesalahan teknis tetap ada peluang berkontribusi menyebabkan kecelakaan pesawat, akan tetapi porsinya susut drastis sejak teknologi dirgantara berkembang sejak era 1970-an.

Tantangan ke depan yang dihadapi adalah pesatnya kemajuan teknologi otomatisasi dari sistem kendali pesawat terbang yang sudah serba komputer.

Ini menuntut para teknisi dan pilot untuk turut mendalami bidang baru, yaitu pengetahuan tentang anatomi sistem computer flight management (CFM).

Saya menulis lebih dalam soal kecelakaan pesawat ini. Karena tulisannya panjang, Kompas.com menyusunnya dalam format laporan mendalam di rubrik JEO.

Silakan lanjut membaca: Apa yang Harus Diketahui dari Kecelakaan Pesawat Terbang?


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X