Mengapa Masih Ada yang Percaya Penipuan Bermodus Penggandaan Uang?

Kompas.com - 31/03/2021, 19:04 WIB
Kapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana bersama Kasatreskrim Polres Lamongan AKP Yoan Septi Hendri saat menunjukkan barang bukti uang palsu atau uang mainan milik pelaku (kanan bawah), dalam rilis pengungkapan kasus di Mapolres Lamongan, Selasa (30/3/2021). KOMPAS.COM/HAMZAH ARFAHKapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana bersama Kasatreskrim Polres Lamongan AKP Yoan Septi Hendri saat menunjukkan barang bukti uang palsu atau uang mainan milik pelaku (kanan bawah), dalam rilis pengungkapan kasus di Mapolres Lamongan, Selasa (30/3/2021).

Selanjutnya, akan muncul uang jika korban ikhlas dan meyakini bahwa uang itu bisa berlipat ganda.

Baca juga: Sering Terima SMS Penawaran atau Penipuan? Ini Cara Melaporkannya...

Mengapa sebagian masyarakat masih percaya penggandaan uang?

Dosen Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Nurhadi mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat sebagian masyarakat Indonesia bisa terjebak penipuan bermodus penggandaan uang.

"Saya rasa yang paling dominan adalah persoalan dengan lemahnya literasi pada masyarakat kita. Jadi ada kecenderungan memang, masyarakat kita ini kurang suka membaca informasi atau pesan, itu secara utuh," kata Nurhadi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (31/3/2021).

Nurhadi mengatakan, masyarakat masih lebih mengandalkan pesan-pesan yang bersifat lisan, terutama yang dalam penyampaiannya menarik minat, seperti penawaran hadiah besar.

"Dan literasi yang lemah itu tidak melulu menjadi monopoli masyarakat kelas bawah. Bahkan sebagian dari masyarakat yang tergolong kalangan atas pun juga ikut tertipu atau berada di dalam pusaran itu," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Viral Unggahan soal Modus Penipuan dengan Pemberian Nomor ATM, Ini Penjelasannya...

Kondisi psikologis

Faktor kedua, menurut Nurhadi, adalah kondisi psikologis masyarakat yang terus dihadapkan dengan ketidakpastian.

Kondisi tersebut, ditambah dengan kemampuan mencerna informasi yang kurang baik, akhirnya membuat sebagian orang menyandarkan kepercayaan pada harapan yang tidak masuk akal.

"Barangkali sebagian orang berpersepsi ekonomi sekarang tidak menentu, masa depan juga masih di dalam bayang-bayang atau tidak ada kepastian," kata Nurhadi.

"Sehingga di tengah-tengah ketidakpastian itu ada semacam harapan yang dapat mereka peroleh, dan sayangnya, seringkali harapan yang mereka ingingkan itu tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mencerna informasi," katanya lagi.

Menurut Nurhadi, jika orang tersebut (korban penipuan) mampu mencerna informasi dengan baik, serta berpikir secara logis, maka kasus penipuan bisa tercegah.

Baca juga: Catat, Ini yang Harus Dilakukan jika Alami Penipuan Ojek Online

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X