Dongeng, antara Hiburan, Edukasi, dan Pelestarian Budaya

Kompas.com - 23/03/2021, 11:54 WIB
Iin Muthmainnah (43) pendongeng dari Komunitas Dongeng Dakocan Lampung saat pentas dongeng keliling di Utikini 2, Mimika, Papua beberapa waktu lalu. Komunitas ini memberikan pemahaman nilai universal bagi anak-anak, termasuk di dalamnya menjaga kelestarian alam dan ekosistem. (FOTO: Dok. Komunitas Dongeng Dakocan) KOMPAS.com/TRI PURNA JAYAIin Muthmainnah (43) pendongeng dari Komunitas Dongeng Dakocan Lampung saat pentas dongeng keliling di Utikini 2, Mimika, Papua beberapa waktu lalu. Komunitas ini memberikan pemahaman nilai universal bagi anak-anak, termasuk di dalamnya menjaga kelestarian alam dan ekosistem. (FOTO: Dok. Komunitas Dongeng Dakocan)

Semasa kecil dulu, kita pasti pernah mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh orangtua, atau guru. Saat menyimak dongeng kita seolah diajak untuk berkhayal dan berpetualang ke dalam cerita yang mengasyikan. Di akhir cerita kita memetik pelajaran dari cerita yang kita simak.

Dari Malin Kundang, cerita kebanggaan masyarakat Minangkabau, kita belajar tentang kewajiban menghormati ibu supaya tidak menjadi anak durhaka.

Dari cerita Bawang Merah-Bawang Putih kita belajar tentang arti kebaikan, ketulusan, kesabaran, kesombongan, dan ketamakan melalui tokoh-tokohnya.

Generasi kelahiran tahun 70-80-an pasti akrab dengan serial film boneka Si Unyil yang bercerita tentang petualangan dan keseharian anak laki-laki bernama Si Unyil bersama teman-temannya. Dari serial ini istilah hompimpa alaium gambreng menjadi akrab di telinga kita.

Ada dua karakter dari film ini yang masih menempel di ingatan kolektif masyarakat hingga saat ini yaitu Pak Ogah dengan kalimat populernya “cepek dulu dong” dan Pak Raden, pria berkumis keturunan Jawa dengan gaya ketawa khas yang terkenal pemarah dan pelit.

Sosok Pak Raden ini diperankan oleh Drs Suyadi yang juga pengarang dari cerita legendaris Si Unyil.  Pengaruh Suyadi sangat luar biasa dalam menghidupkan dunia dongeng di Indonesia sehingga hari kelahirannya, 28 November, diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional.

Sejarah dongeng

Dongeng adalah bagian dari karya sastra dan tradisi lisan yang telah ada sejak munculnya peradaban manusia.

D.L Ashliman (2004) dalam bukunya, Folk and Fairy Tales, menjelaskan bahwa dongeng (fairy tale) berasal dari Perancis dan diperkenalkan ke Inggris oleh seorang pengarang bernama Madame d’Aulnoy yang mulai mempublikasikan cerita-cerita fantasi dengan judul kolektif Les Contes de fees (tales of fairies) pada tahun 1697.

Cerita-cerita dongeng tersebut ditulis dengan merujuk kepada berbagai cerita rakyat dan sejak saat itu, cerita-cerita dongengnya mulai populer di Inggris hingga abad ke-19.

Kekuatan dongeng terletak pada narasinya yang membuat manusia belajar memahami dunia sekitarnya. Ini juga yang membuat popularitas dongeng bertahan hingga hari ini.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X