Mengenang Nawal El Saadawi, Penulis dan Pejuang Hak Perempuan dari Mesir

Kompas.com - 22/03/2021, 14:54 WIB
Tunisian  Egyptian feminist writer Nawal el Saadawi speaks during a radio show hosted by France Inter and daily newspaper Le Monde 8 mars, 8 femmes (March 8, 8 women) on March 8, 2012 in Paris.  AFP PHOTO / MARINA HELLI (Photo by MARINA HELLI / AFP) AFP/MARINA HELLITunisian Egyptian feminist writer Nawal el Saadawi speaks during a radio show hosted by France Inter and daily newspaper Le Monde 8 mars, 8 femmes (March 8, 8 women) on March 8, 2012 in Paris. AFP PHOTO / MARINA HELLI (Photo by MARINA HELLI / AFP)

KOMPAS.com - Kabar duka menyelimuti dunia sastra. Nawal El Saadawi, seorang sastrawan yang dikenal dengan perjuangannya atas hak perempuan, meninggal dunia pada Minggu (21/3/2021).

Dilansir dari CNN, berdasarkan surat kabar yang dikelola Pemerintah Mesir bernama Al-Ahram, El Saadawi meninggal dunia pada usianya yang ke-89 tahun.

Di hari kematiannya, akun Twitter resmi @NawalElSaadawi1 mengunggah sebuah twit "Aku akan mati, dan kamu akan mati. Yang penting adalah bagaimana hidup sampai kamu mati," tulisnya.

Kabar berpulangnya Nawal El Saadari menjadi duka bagi penggemar buku dan pemikiran El Saadawi.

Bagaimana kehidupan El Saadawi dan perjuangannya dalam menyuarakan hak-hak perempuan?

Baca juga: Profil Samia Suluhu Hassan, Presiden Perempuan Pertama Tanzania

Sempat dipaksa menikah

Nawal El Saadawi, seorang feminis Mesir terkenal, psikiater dan novelis, meninggal karena sakit di usia 89 tahun.AP PHOTO/PAOLA CROCIANI via KOMPAS.TV Nawal El Saadawi, seorang feminis Mesir terkenal, psikiater dan novelis, meninggal karena sakit di usia 89 tahun.
Nawal El Saadawi lahir pada 1931 di desa Kafir Tahla, Mesir. Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintah dengan gaji kecil, sedangkan ibunya berasal dari latar belakang keluarga kaya.

Dilansir dari BBC, keluarga El Saadawi sempat mencoba memenikahkannya saat usia El Saadawi masih 10 tahun.

Ia menolak. Ibunya pun ada di sisinya dan mendukung El Saadawi. Orangtuanya mendukung El Saadawi dalam dunia pendidikan.

Sejak kecil ia sudah sadar, anak perempuan kurang dihargai daripada anak laki-laki.

Pada suatu hari, neneknya mengatakan bahwa seorang anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan dan perempuan adalah penyakit busuk.

Pengalaman traumatis semasa kecil lainnya adalah mutilasi alat kelamin perempuan (FGM) pada usia 6 tahun.

Dalam bukunya, The Hidden Face of Eve, dia menggambarkan menjalani prosedur yang menyakitkan di lantai kamar mandi, saat ibunya berdiri di sampingnya.

Baca juga: Profil Penemu Seismograf: John Milne

Dipecat karena tulisan

El Saadawi menyelesaikan novel pertamanya pada usia 13 tahun.

Ia lulus dengan gelar kedokteran dari Universitas Kairo pada 1955 dan bekerja sebagai dokter. Sampai akhirnya mengambil spesialisasi di bidang psikiatri.

Karirenya berlanjut sampai kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat oleh Pemerintah Mesir.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X